Sabtu, 19 Maret 2011

Dan Bulan Pun Telah Terbelah Dua


Engkau laksana bulan tinggi di atas kayangan, hatiku telah kau tawan hidupku tak karuan, mengapa ku disiksa, mengapa kita bersua, berjumpa dan bercinta tetapi menderita.

Entah sudah berapa banyak puisi dan lagu yang menggunakan bulan sebagai kiasan untuk menggambarkan kecantikan atau perasaan cinta seseorang, bahkan tidak jarang bulan kerap dijadikan sebagai saksi untuk membuktikan ketulusan cinta. Lantas ketika bulan terbelah menjadi dua dalam arti yang sesungguhnya bukan kiasan, siapakah yang menjadi saksi? Apakah mereka mempercayainya? Berikut ini adalah kisahnya.

Peristiwa terbelahnya bulan terjadi pada masa Nabi Muhammad SAW sebelum hijrah dari Mekah ke Madinah. Suatu ketika orang-orang Quraisy dengan nada mengejek berkata : “Wahai Muhammad kalau engkau benar Nabi dan Rasul, coba tunjukkan kepada kami satu kehebatan yang bisa membuktikan kenabian dan kerasulanmu!” Lantas Rasulullah bertanya “Apa yang kalian inginkan?” dan mereka menjawab “coba belah rembulan...!”. Rasulullah bertanya: “Apakah kalian akan masuk Islam jika aku sanggup melakukannya?” dan mereka menjawab, “Ya.”

Rasulullah berdiri dan terdiam sambil berdo’a kepada Allah agar menolongnya, atas petunjuk Allah, Rasulullah mengarahkan telunjuknya ke bulan dan terbelahlah bulan dengan sebenar-benarnya dan demikian jauh jarak belahan bulan itu sehingga gunung Hira nampak berada diantara keduanya. Bukannya percaya, orang-orang itu serta merta berkata “Muhammad engkau benar-benar telah menyihir kami...”, padahal mereka menyaksikan pembelahan bulan dengan seksama.

Mereka berpendapat bahwa sihir bisa saja menyihir orang yang ada disekitar sang penyihir tetapi tidak bisa menyihir orang yang ada di tempat lain. Lalu mereka pun menunggu orang-orang yang akan pulang dari perjalanan.

Mereka pun bergegas keluar ke batas kota Mekah, menunggu orang-orang yang baru pulang dari perjalanan. Ketika datang rombongan yang pertama kali menuju Mekah, mereka bertanya “Apakah kalian melihat sesuatu yang aneh dengan bulan?” Mereka menjawab, “Ya benar, pada suatu malam yang lalu kami melihat bulan terbelah menjadi dua dan saling menjauh kemudian bersatu kembali…”

Mendengar hal itu sebagian dari mereka lalu beriman tetapi sebagian lagi tetap ingkar, karena itu Allah menurunkan ayat-Nya “Telah dekat (datangnya) saat itu dan telah terbelah bulan. Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat sesuatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata: "(ini adalah) sihir yang terus menerus". Dan mereka mendustakan (Nabi) dan mengikuti hawa nafsu mereka, sedang tiap-tiap urusan telah ada ketetapannya.” (Qs.Al Qamar/Bulan : 1-3).

Bukti lain bahwa bulan pernah terbelah dan disaksikan oleh orang lain di tempat yang berbeda terdokumentasikan dalam sebuah manuskrip (naskah) tua di perpustakaan India, London dengan nomor Arabic : 2807, 152-173 yang dikutip di buku “Muhammad Rasulullah” oleh M. Hamidullah, diceritakan bahwa seorang raja dari Malabar (India) yang bernama Cakrawati Farmas juga telah menyaksikan peristiwa terbelahnya bulan. Kemudian dari sekumpulan pedagang muslim yang singgah di Malabar, raja mengetahui bahwa peristiwa terbelahnya bulan itu adalah Mukjizat dari seorang Rasul di Mekah yang bernama Muhammad dan setelah mempelajari hal tersebut (Raja tahu bahwa kitab ramalan masa depan Hindu “Bhavisya Puran” meramalkan akan adanya utusan dari daerah berpasir yang mampu membelah bulan). Raja lalu menugaskan anak lelakinya sebagai pemimpin dan raja pergi untuk menemui utusan itu. Dia memeluk agama Islam di tangan Nabi Muhammad SAW, tapi sayang ketika pulang ke negerinya, raja wafat di pelabuhan Zafar – Yaman.

Selain itu, sejarah India kuno yang pada waktu peristiwa itu belum mengenal Islam telah mencatat peristiwa bulan terbelah. Sayyid Mahmud Syukri al-Alusi, dalam bukunya Ma Dalla 'Alaihi Al-Qur'an, mengutip dari buku Tarikh al-Yamini bahwa dalam sebuah penaklukan yang dilakukan oleh Sultan Mahmud bin Sabaktakin al-Ghaznawi terhadap sebuah kerajaan yang masih menganut paganisme di India ia menemukan lempengan batu di dalam sebuah istana taklukan. Pada lempengan tersebut terpahat tulisan, "Istana ini dibangun pada malam terbelahnya bulan, dan peristiwa itu mengandung pelajaran bagi orang yang mengambil pelajaran."

Ibn Katsir dalam al-Bidayah wa al-Nihayah vol. 3 hal. 130, juga menyebutkan adanya riwayat dari India yang menceritakan tentang terbelahnya bulan. Juga dalam Mustadrak al-Hakim vol. 4 hal. 150 menyebutkan riwayat tentang kedatangan raja India dan pertemuannya dengan Nabi Muhammad SAW. Abu Said al-Khudri ra berkata: "Raja India memberikan hadiah seguci jahe pada Nabi Muhammad SAW. Para sahabat memakannya sepotong-potong. Aku juga turut memakannya".

Di internet banyak beredar foto dari NASA yang diambil oleh awak Apollo 10 dari jarak sekitar 14 km di atas permukaan bulan pada tahun 1969 yang memperlihatkan permukaan bulan seperti pernah terbelah dan membentuk suatu garis sepanjang ratusan kilometer. Benar atau tidaknya hal tersebut masih membutuhkan penelitian dan pembuktian ilmiah lebih lanjut.

Bisa jadi suatu saat nanti manusia dengan kekuatannya (ilmu dan pengetahuan) mampu melakukan pendaratan kembali ke bulan dan melakukan eksplorasi lebih jauh tentang bulan sehingga jejak (bekas) bahwa bulan pernah terbelah dapat dibuktikan secara ilmiah. “Hai jemaah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan” (Qs. Ar Rahmaan : 33).

Tanda-tanda (mukjizat) yang diberikan Allah, untuk memperkuat para rasul Nya dan sebagai pertolongan atas mereka, menunjukkan dengan pasti akan keberadaan Allah SWT yang maha perkasa dan maha kuasa atas segala sesuatu.

Saya sebagai muslim mempercayai peristiwa terbelahnya bulan karena memang benar termaktub dalam Al Qur’an dan hadist Rasulullah SAW, kalaupun masih ada yang tidak percaya, jangankan jaman sekarang, pada masa Rasulullah SAW yang menyaksikan langsung peristiwa tersebut saja masih ada yang tidak percaya, apalagi saat ini. Tapi sekali lagi hal ini semakin membuktikan kebenaran Al Qur’an itu sendiri tentang adanya sebagian orang yang mendustakan suatu kebenaran seperti yang dimaksud dalam surat Al Qamar tersebut di atas.

Percaya atau tidak, selanjutnya terserah anda.

“Ambilkan bulan bu, yang slalu bersinar di langit... ambilkan bulan bu, untuk menerangi tidurku yang lelap di malam gelap.....
Share

Sabtu, 26 Februari 2011

Seribu Kata Seribu Doa


Suatu pagi di sudut ruang tengah, seorang anak sedang makan dengan lahapnya bersama ayah dan ibunya, ketika tiba-tiba dia tersedak dan memuntahkan sebagian isi makanan dalam mulutnya, ayah seketika menghentikan membaca koran dan berkata “kalau makan pelan-pelan dong ! kamu tahu tidak ? makanan itu dibeli pakai uang dan mencari uang itu susah, ayo dihabiskan makannya !”

Siang harinya giliran ibu yang marah karena mangkuk kesayangannya pecah terkena lemparan bola dari si anak, “ibu sudah berkali-kali bilang, kalau main bola jangan di dalam rumah ! lihat nih berantakan semuanya, dasar anak nakal...”.

Menjelang sore tiba waktunya si anak untuk belajar, sudah dua kali diperintahkan untuk belajar tapi dia masih asyik menonton tv, segera ayah mematikan tv lalu berkata “kamu mau jadi anak bodoh ya ? dasar pemalas !orang yang tidak mau belajar itu bisa jadi bodoh, anak bodoh nanti tidak naik kelas, kalau sekolahnya tidak tinggi nanti cari kerja susah, kalau tidak kerja tidak punya uang dan tidak bisa makan enak, kamu mau begitu ? ayo belajar !”

Dari deskripsi di atas sepanjang pagi hingga sore sudah berapa banyak kata-kata negatif yang diucapkan oleh kedua orang tuanya ? sebut saja : mencari uang itu susah, anak nakal, anak bodoh, anak pemalas, tidak naik kelas, cari kerja susah, tidak punya uang dan tidak bisa makan enak.

Di sekolah, pernah suatu saat ibu guru bertanya sesuatu kepada murid-muridnya, lalu dengan penuh semangat dan keyakinan yang tinggi si anak mengacungkan tangan dan menjawab pertanyaan tersebut dengan lantang, lalu apa yang terjadi ? Teman-teman sekelasnya menertawakannya dan ibu guru berkata “Jawaban kamu salah, ibu heran pertanyaan semudah itu kok kamu tidak bisa menjawab dengan benar, makanya jangan jadi orang yang tergesa-gesa !” Anak itu menjadi sangat malu dihadapan teman-teman dan guru. Bisa jadi keyakinannya mulai terguncang dan benih keraguan mulai tersemai dalam jiwanya, bagi sebagian orang inilah awal terbentuknya citra negatif diri dan belajar menjadi sesuatu yang sangat berat dan tidak menyenangkan.

Sebuah riset yang dilakukan oleh Jack Canfield di tahun 1982 terhadap 100 anak di sejumlah sekolah dasar di USA mengungkapkan bahwa setiap anak dalam sehari rata-rata menerima 460 komentar negatif dan hanya 75 komentar positif yang bersifat mendukung. Ternyata komentar negatif enam kali lebih banyak dari komentar positif, jika dihitung berarti seorang anak rata-rata menerima 3.220 komentar negatif dalam seminggu, 13.800 dalam sebulan dan 167.800 dalam setahun, lalu berapakah umur anak kita sekarang ? sudah berapa banyak kata-kata negatif yang ia terima dari kita?

Umpan balik negatif yang terus menerus dan berkesinambungan sangat berbahaya bagi perkembangan mental anak, bisa jadi setelah dewasa ia akan menjadi orang yang seperti diucapkan oleh orang-orang terhadap dirinya, seperti misalnya mudah menyerah mempelajari sesuatu setelah satu atau dua kali gagal dan keyakinan semakin tertanam bahwa dirinya memang bodoh.

Coba kita perhatikan pada saat anak sedang belajar berjalan, suatu proses belajar yang cukup rumit baik secara fisik maupun mental dan sepertinya mustahil untuk dijelaskan dengan kata-kata atau mendemonstrasikannya. Tapi ternyata si anak bisa melakukannya walaupun berulang kali tersandung dan terjatuh. Mengapa demikian ? Hal ini bisa terjadi karena pada diri si anak tidak mengenal konsep kegagalan, pada saat belajar berjalan ada orang tua yang mendampingi, meyakinkan dan mendorong untuk terus belajar berjalan, setiap keberhasilan selalu diakhiri dengan kegembiraan dan tepukan tangan sehingga memompa semangat si anak untuk lebih berhasil.

Manusia mempunyai dua macam bentuk pikiran. Pertama pikiran sadar yang berfungsi mengidentifikasi informasi yang masuk, membandingkan dengan data yang ada dalam memori kita, menganalisanya dan memutuskan apakah akan disimpan, dibuang atau diabaikan sementara. Kedua adalah pikiran bawah sadar yang mempuyai fungsi jauh lebih komplek, yaitu mengatur cara kerja semua fungsi organ tubuh kita, nilai-nilai yang kita pegang, sistem kepercayaan dan keyakinan terhadap segala sesuatu juga disimpan di sini termasuk memori jangka panjang kita.

Sebuah contoh bahwa pikiran bawah sadar mengendalikan sebagian besar pemikiran dan tindakan kita, bayangkan jika tiba-tiba dihadapan kita dalam jarak yang cukup dekat ada seekor ular kobra yang besar dengan suara yang mendesis, lidah yang menjulur-julur dan tatapan matanya yang tajam ke arah kita. Pasti sebagian besar dari kita akan berteriak dan lari ketakutan. Bagaimana jika sejak kecil kita diberitahu bahwa kobra itu mendatangkan rejeki, orang tua kita bisa sukses dan rumah yang kita tempati ini adalah hasil dari berjualan kobra. Apakah kita akan lari? Pasti tidak dan akan berkata “pucuk dicinta ulam pun tiba, ada rejeki di depan mata...”.

Pikiran bawah sadar tidak bisa menolak apapun yang kita masukkan melalui kelima panca indera, bahkan hal-hal yang tidak kita perhatikan secara sadar akan terekam dalam pikiran bawah sadar. Bagaimana dengan anak-anak kita ? Perhatikanlah apa yang berulang kali kita lakukan, ucapkan dan pikirkan terhadap anak-anak. Itulah yang nantinya akan membentuk mereka, dari bahan dasar ini mereka akan mengembangkan diri mereka melalui pergaulan dengan lingkungan.

Dalam keseharian saya coba untuk mengganti kebiasaan mengucapkan kata-kata negatif terhadap anak-anak dengan kata-kata positif sekecil apapun. Ketika si kecil tidak mau makan, saya katakan “ayo anak cantik dan pintar pasti makannya dihabiskan biar tambah cantik dan pintar...”. Ketika anak malas belajar, saya katakan “kaka kan anak pintar, kalau rajin belajar pasti tambah pintar, papa mama tambah sayang dan tidak segan kasih hadiah...” atau ketika si anak melakukan sesuatu yang kita tidak berkenan : “eee anak pintar, tidak boleh begitu ya...” dst.

Ada perbedaan ketika kita sebenarnya sedang marah lalu mengucapkan kata-kata positif dibandingkan mengucapkan kata-kata negatif. Kata-kata positif ternyata saya rasakan mampu meredam emosi dan membuat kita tambah sabar. Coba bayangkan jika kita mengucapkan kata-kata negatif dengan penuh emosi dan si anak tidak memperdulikannya, pasti kita tambah marah dan bisa jadi jika seseorang yang sempat berucap “dasar anak setan...” atau “dasar anak tak tau diuntung...” berujung pada kekerasan fisik terhadap si anak.

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda: “Tiga orang yang doanya pasti terkabulkan, doa orang yang teraniaya, doa seorang musafir dan doa orang tua terhadap anaknya". Dari Abdullah bin Amr bin Ash, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Ridha Allah bergantung kepada keridhaan orang tua dan murka Allah bergantung kepada kemurkaan orang tua”.

Banyak kisah yang menggambarkan bahwa betapa manjurnya perkataan atau doa ibu atau ayah terhadap anaknya baik yang diucapkan secara sadar maupun tidak, berikut ini adalah salah satu kisahnya.

Seorang ibu tergopoh-gopoh mendatangi anaknya yang menangis sambil menunjuk-nunjuk dengkulnya, terjadilah dialog dalam bahasa Jawa yang artinya kurang lebih sebagai berikut “Ada apa nak kok menangis terus?”, “Ini bu ada kotoran ayam, buang bu!”, ibunya pun segera membuang kotoran yang menempel di dengkul si anak tapi tangis si anak tidak berhenti dan berkata “Kembalikan! Kembalikan!”, lalu ibunya menempelkan kembali kotoran tersebut dan tangis si anak malah semakin keras “Kok tidak sama? Kok tidak sama” sambil tersenyum dan mencari kotoran lainnya, ibu pun bergumam “Ya sudah tidak apa-apa asal besok besar jadi Jendral”

Empat puluh tahun kemudian, seorang anak yang pernah membuat repot ibunya dengan kotoran ayam itu benar-benar menjadi seorang Jendral, dialah Jendral Soebagyo HS mantan Kepala Staf TNI-AD, subhanallah....

Wahai ayah ibu, jagalah lisanmu! Bahwa pada hakekatnya setiap perkataanmu terhadap anakmu adalah doa maka seribu kata kebaikan adalah seribu doa kebaikan dan seribu kata keburukan adalah seribu doa keburukan.
Share

Sabtu, 08 Januari 2011

Amalan Penggugur Dosa & Peninggi Derajat


Suatu hari tak seperti biasanya Rasulullah SAW terlambat ke masjid untuk mengimami sholat Shubuh. Matahari hampir saja terbit, ketika akhirnya beliau datang dengan tergegas dan langsung memimpin sholat dengan bacaan yang cukup pendek untuk mempercepat sholat.

Usai mengucapkan salam, Rasulullah SAW menghadap ke arah para sahabat seraya berkata “ Tetaplah ditempat kalian, aku akan menceritakan mengapa aku terlambat mengimami sholat. Semalam aku terbangun dan setelah usai mengerjakan sholat, aku terserang kantuk yang sangat berat sehingga aku tak kuat menahan dan akhirnya tertidur”.

“Aku bermimpi, tiba-tiba aku merasa berada di hadapan Allah dan bertanya kepadaku,’tahukah apa yang sedang diperbincangkan para malaikat terhadap kalian?’ Kujawab tidak tahu dan pertanyaan itu diulang sampai tiga kali. Kemudian tiba-tiba kedua bahuku terasa dingin dan seketika segalanya tampak jelas serta aku mengetahui jawaban dari pertanyaan tersebut ketika ditanyakan kembali”.

“Aku menjawab, ’mereka berbincang tentang kafarat,
amalan-amalan penghapus dosa’. ’Apakah kafarat tersebut...?’. Jawabku, ‘melangkahkan kaki menuju masjid untuk sholat berjamaah, tetap berdiam setelah sholat untuk berzikir kepada Allah dan tetap menyempurnakan wudhu meski cuaca sedang sulit (cuaca dingin dan panas)’”.

“’Kemudian tentang apa lagi...?’. ’Tentang
amalan yang dapat mengangkat derajat manusia’.’Amalan apa saja?’. Jawabku, ‘menyantuni orang miskin, berkata dengan lembut kepada orang lain serta mengerjakan sholat malam disaat kebanyakan orang sedang terlelap’”.

“Kemudian Allah berkata, ‘mintalah kepada Ku..!’, lalu aku bermohon, ‘Ya Allah, aku mohon kepada Mu segala perbuatan baik, kekuatan meninggalkan kemunkaran, mencintai orang miskin dan agar Engkau senantiasa mengampuni dan merahmatiku. Jika Engkau menghendaki cobaan pada suatu kaum, jagalah diriku agar tidak terkena fitnah. Aku memohon kemampuan mencintai Mu, mencintai orang-orang yang mencintai Mu serta amal-amal yang mendekatkan pada kecintaan Mu’”.

Usai bercerita, Rasulullah SAW bersabda : “ Ini adalah kebenaran maka pelajarilah dan ajarkanlah kepada orang lain”.

Demikianlah, agar senantiasa
dirahmati Allah dan diampuni dosa dan kesalahan kita, dianjurkan untuk memperbanyak sholat berjama’ah dan memperbanyak zikir kepada Allah serta tetap menyempurnakan wudhu. Kemudian untuk meninggikan derajat kita di sisi Allah, perbanyaklah menyantuni orang miskin, berkata dengan lembut kepada orang lain serta senantiasa mengerjakan sholat malam disaat kebanyakan orang sedang terlelap.
Share

Selasa, 21 Desember 2010

PIAGAM KEHIDUPAN

Suatu malam selepas isya berkumpullah satu keluarga ayah, ibu dan ketiga anak mereka di sudut ruang tamu. Di atas sofa tempat mereka duduk, terpajang dengan rapi deretan piagam penghargaan yang diperoleh sang ayah yang hampir memenuhi sudut ruang tersebut. Wajar saja karena sang ayah adalah seorang yang sukses di perusahaannya dan mempunyai jabatan yang cukup tinggi. Sementara di sudut kirinya terpajang pula deretan piagam penghargaan ketiga anak mereka atas prestasi mereka di sekolah maupun beberapa perlombaan yang pernah mereka ikuti.

Tiba-tiba si bungsu berkata dengan penuh semangat “papa... nanti kalau aku tambah besar, pasti piagam yang aku punya akan melebihi papa !”, “ya bagus nak, kalian semua akan menjadi anak-anak yang pintar dan berprestasi seperti papa” jawab sang ayah. Kemudian anak yang lain menimpali “kita semua punya piagam yang banyak, hanya mama nih yang tidak punya...”. Ayah pun menyahut “ya karena mama kamu kan tidak bekerja seperti papa jadi tidak punya piagam “. Mendengar itu sang ibu tertegun sejenak lalu tersenyum seraya memeluk si bungsu serta mengusap-usap kepala kedua anaknya yang lain.

Topik pembicaraan pun berganti, malam itu mereka lalui dengan penuh keceriaan dan senda gurau hingga akhirnya kantuk jualah yang mengantar mereka ke pembaringan masing-masing.

Pagi harinya ayah dan ketiga anaknya mendapati ibunya tengah termenung di ruang tamu sambil memandangi foto keluarga ukuran besar yang terpajang di ruang tamu dan sesekali beralih pandangannya pada sesuatu yang diletakkan di atas lemari kecil persis di bawah foto besar itu.

“Sedang apa ma ...? tanya mereka hampir bersamaan, “Lihatlah di atas lemari itu ! hanya tiga piagam itu yang mama punya...” ujar sang ibu sambil tersenyum penuh arti. Betapa terkejutnya sang ayah ketika mengetahui bahwa benda itu adalah tiga buah Akte Kelahiran atas nama ketiga anak mereka.

Dengan penuh keharuan sang ayah mendekap istrinya sambil berkata “Maafkan papa ma ! kalau ucapan kami semalam membuat mama tersinggung ...”, “Seberapa banyak piagam penghargaan yang papa punya, tidak berarti tanpa ketiga piagam itu, karena mama lah anak-anak bisa memiliki banyak piagam, ma... begitu banyak ibu yang berharap mempunyai piagam itu, tapi belum diberi kesempatan untuk dikabulkan oleh Allah dan tidak sedikit ibu yang berhasil mendapat piagam itu tapi tidak mampu merawat dengan baik hasil dari piagam itu”, “Sekali lagi maafkan papa ma !!, kamulah pemilik piagam sejati itu, kamulah pemilih
PIAGAM KEHIDUPAN itu ....”.

Pagi itu cuaca begitu cerah dan tidak ada mendung sedikitpun pertanda hujan akan turun, tapi pipi mereka dibasahi oleh hujan tangis keharuan dalam pelukkan kebahagiaan.

Sebuah renungan yang menegaskan bahwa IBU adalah pemilik
PIAGAM KEHIDUPAN, yang untuk mendapatkannya dilalui dengan penuh perjuangan dan pengorbanan antara hidup dan mati, sehebat apapun piagam dan penghargaan yang kita dapatkan tidak ada yang pantas untuk kita sombongkan jika mengingat pengorbanan yang telah diberikan untuk kita, terima kasih ibu.

Share

Jumat, 10 Desember 2010

Kemana Arah Kita Melangkah?

Suatu ketika ada tiga orang tukang batu yang sedang menyusun batu bata dengan campuran pasir dan semen dalam proses pembangunan sebuah gedung. Kepada mereka lalu diberikan satu pertanyaan yang sama “Apa yang sedang anda kerjakan?

Tukang yang pertama merasa heran dengan pertanyaan tersebut hingga akhirnya menjawab sambil menghela nafas “ Ya jelas dong, sayang sedang menyusun dan meletakkan batu-bata”.

Sedangkan tukang yang kedua dengan sedikit tersenyum menjawab “Saya sedang mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga saya”.

Lalu tukang yang ketiga dengan berfikir sejenak dan tatapan mata yang menerawang menjawab dengan penuh semangat “Saya sedang membangun sebuah masjid yang megah dan indah, dan suatu saat nanti akan ramai dikunjungi orang-orang yang beribadah dan nama Allah akan dimuliakan di tempat ini”.

Tak ada yang salah dengan jawaban ketiga orang tersebut, tukang yang pertama memberi jawaban yang realistis, memang benar dia sedang bekerja meletakkan batu bata, itulah rutinitas pekerjaannya dan jawaban tersebut menggambarkan perasaan lelah dan membosankan.

Tukang yang kedua memberi jawaban yang pragmatis, dia menyadari bahwa bekerja menyangkut urusan hidup, setiap orang perlu makan dan minum untuk hidup sehingga untuk itu dia bekerja agar mendapat upah yang dapat digunakan untuk menghidupi dia dan keluarganya.

Tukang yang ketiga memberi jawaban yang idealis dan mempunyai visi yang jauh ke depan. Dia menyadari bahwa pekerjaannya bukan hanya sekedar meletakkan batu bata dan bukan pula sekedar mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya, dia mampu melihat bahwa dirinya sebagai bagian dari suatu pekerjaan yang besar dan mulia karena akan memberi manfaat bagi orang banyak, tidak hanya bagi diri dan keluarganya.

Kebanyakan orang hanya berfikir seperti tukang yang pertama dan kedua sehingga merasa bahwa pekerjaan kita sebagai rutinitas yang membebani kita, membosankan dan melelahkan, pandangan hidup pun menjadi sempit.

Jadilah orang yang memiliki rumusan visi yang jelas, ke mana arah tujuan hidup kita, yakinlah bahwa kita mempunyai visi, harapan atau impian yang mulia dan yakinkan pula bahwa kita mampu mewujudkannya dalam hidup dan kehidupan ini.

Share