Kamis, 29 September 2011

Memberi Tanpa Diminta, Tanpa Berharap Kembali



Salah satu nama Allah (Asma’ul Husna) adalah sifat Al Wahhab yang berarti Maha Pemberi. Dia memberikan rahmat dan karuniaNya kepada manusia dan seluruh makhluk tanpa pamrih atau berharap imbalan karena Dia tidak membutuhkan apapun dari makhlukNya.

Allah juga maha pemberi tanpa diminta. Air, udara, sinar matahari, hujan yang turun dan masih banyak lagi, semua disediakan untuk manusia walaupun kebanyakan manusia tidak berdo’a dan memintanya.

Seandainya seluruh manusia ingkar kepadaNya, tidak akan berkurang sedikitpun keagungan dan kebesaranNya dan sebaliknya kemuliaan dan kewibawaanNya tidak akan bertambah sedikitpun, seandainya seluruh manusia patuh dan tunduk kepadaNya.

Tidak seorangpun yang berhak menyandang Al Wahhab, sebab manusia memiliki sifat tidak sempurna, serba kekurangan sehingga tidak bisa memberi secara berkesinambungan. Sedangkan Allah adalah maha pemberi dengan terus berkesinambungan. Maha suci Allah dari ketergantungan terhadap apapun, Allah adalah tempat bergantung segala sesuatu.

Imam Al Ghazali menjelaskan bahwa pada hakekatnya tidak ada pemberian tanpa tujuan dan harapan, kecuali Allah SWT. Setiap manusia pasti mengharapkan sesuatu atas semua perbuatannya, baik dalam bentuk pujian, meraih kehormatan, persahabatan atau sekedar menghindari celaan.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa, seseorang yang senantiasa beribadah kepada Allah juga tak lepas dari pamrih, yaitu demi mendapatkan surga atau terhindar dari neraka. Bahkan seorang alim yang beribadah demi meraih cinta dan syukur kepada Allah, tidak sepenuhnya terhindar dari upaya atau harapan meraih imbalan.

Karena hanya sampai disitu batas kemampuan manusia, maka Allah masih memberi toleransi mereka yang beribadah untuk meraih surga atau terhindar dari neraka, selama ibadah yang dilakukannya karena Allah.

Bahkan Allah merangsang manusia untuk berbuat kebaikan dengan istilah “Perniagaan” atau ” Jual beli”. Perhatikan ayat berikut ini, “Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih?” (QS. 61:10).

Apakah perniagaan itu? Berikut lanjutannya, “(yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya,” (QS. 61:11).

Apakah imbalan (keuntungan) yang diraih dari perniagaan itu? Yaitu, “Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga Adn. Itulah keberuntungan yang besar,” (QS. 61:12).

Jadi sekali lagi ditegaskan bahwa manusia tidak bisa menjadi Al Wahhab, karena tidak ada sesuatupun yang dikerjakannya luput dari tujuan mendapatkan imbalan termasuk dalam hal ibadah. Namun demikian bukan berarti kita tidak dapat meneladani sifat ini sebatas kemampuan dan toleransi yang disebutkan tadi. Karena itu meneladani sifat ini dibutuhkan upaya terus menerus untuk memberi sekuat kemampuan.

“Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau sesatkan hati kami sesudah Engkau memberi petunjuk kepada kami dan anugerahilah kami rahmat dari sisi-Mu, karena sesungguhnya Engkaulah al-Wahhab, Maha Pemberi. (QS. 3: 8)

Semoga Allah Yang maha kaya lagi maha sempurna pemberian-Nya mengaruniakan kepada kita kemampuan untuk ikhlas dalam beramal, kemampuan untuk tidak bergantung selain kepada-Nya.
Share

Kamis, 01 September 2011

Benarkah Silaturahmi Dapat Memperpanjang Umur ?


Banyak faktor yang mempengaruhi kesuksesan seseorang sehingga dapat hidup kaya raya selain karena keuletan, kerja keras dan semangat pantang menyerah dalam berusaha, demikian pula banyak hal yang menyebabkan seseorang dapat berumur panjang selain karena pola makan yang sehat, gaya hidup dan kebiasaan berolahraga.

Hadits Nabi Muhammad SAW perihal kedua hal tersebut di atas, salah satunya adalah seperti yang diriwayatkan oleh HR Bukhari, Muslim dan Abu Dawud yang berbunyi "Barangsiapa yang ingin dimudahkan rejekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi". Benarkah bahwa membina hubungan antar sesama atau dalam bahasa Islamnya “Silaturahmi” dapat menyebabkan rejeki seseorang bertambah luas dan memperpanjang usia? Kalau memang benar, lalu bagaimana ilmu pengetahuan modern dapat menjawab dan membuktikannya?

Silaturahmi dapat memperluas rejeki dapat dipahami bahwa rejeki mudah dicari selagi kita mempunyai hubungan baik dengan sesama dan seterusnya dapat berkembang menjadi kepercayaan dan amanah. Seseorang tentu akan dengan mudah mempercayakan harta (modalnya) untuk diurus dan dikelola oleh kita, jika mempunyai hubungan baik dengan kita.

Sebuah penelitian yang dilakukan pada tahun 1970 an oleh seorang sosiolog Harvard bernama Mark Granovetter tentang cara atau bagaimana orang mendapatkan pekerjaan. Hasil penelitian tersebut menemukan bahwa mayoritas orang mendapat pekerjaan berdasarkan koneksi pribadi. Jadi bisa disimpulkan karena koneksi atau hubungan silaturrahmi itulah seseorang mendapatkan pekerjaan.

Saat ini ilmu-ilmu pemasaran modern sudah mengakui bahwa teknik-teknik pemasaran melalui jaringan teman dan keluarga terbukti ampuh untuk mendongkrak penjualan suatu produk, sehingga tak heran jika situs jejaring sosial yang sedang menjadi tren saat ini menjadi lahan yang empuk untuk mengembangkan usaha dan bisnis.

Makna dari silaturahmi dapat memanjangkan umur oleh ulama-ulama terdahulu kerap dimaknai bahwa dengan seringnya kita menjalin silaturahmi atau membina hubungan baik dengan sesama, maka kita akan dicintai dan disenangi banyak orang meskipun sudah wafat berkalang tanah, namun nama kita masih dikenang dan sering disebut-sebut kebaikannya. Contohnya tokoh-tokoh besar yang karena kebaikan hubungan yang pernah mereka bangun dan jasa-jasanya terhadap orang lain, meskipun sudah wafat mereka tetap dikenang orang hingga kini.

Benarkah hadits tersebut memiliki makna yang tersirat seperti itu ? Argumentasi tersebut tentu tidak sepenuhnya benar karena tidak sedikit tokoh-tokoh di dunia ini yang justru dikenal dan dikenang orang sebagai diktator yang kejam yang banyak musuh dan banyak mensengsarakan rakyatnya selama berkuasa.

Tim yang dipimpin oleh Hold Lunstad seorang psikolog dari Brigham Young University di Utah melakukan analisis terhadap sejumlah penelitian tentang efek hubungan sosial pada kesehatan. Tim tersebut melakukan analisis 148 penelitian terhadap 308 ribu lebih orang yang kehidupannya diikuti selama rata-rata 7,5 tahun.

Hubungan sosial dalam penelitian ini diukur dengan beberapa cara, mulai dari yang sederhana seperti apakah orang tersebut menikah atau hidup sendirian. Juga dilihat dari persepsi seseorang, apakah mereka merasa akan ada orang lain yang akan segera membantunya saat mereka membutuhkan pertolongan. Kemudian penilaian lain diambil dari seberapa kuat seseorang terlibat dalam komunitasnya dan seterusnya. Hasil penelitian ini lalu dicek silang dengan usia, jenis kelamin, status kesehatan dan penyebab kematian saat orang tersebut meninggal.

Hasil penelitian tersebut seperti yang dipublikasikan belum lama ini di jurnal Plos Medicine terbitan Public Library of Science menyimpulkan bahwa orang dengan hubungan sosial yang kuat akan 50 persen lebih panjang umur dibandingkan dengan mereka yang tanpa dukungan ini. Memiliki hubungan sosial yang baik seperti dengan teman, pernikahan atau anak sama baiknya untuk menjaga kesehatan seperti halnya berhenti merokok, menurunkan berat badan atau bahkan minum obat.

Memiliki hubungan sosial yang buruk ternyata setara dengan menjadi pecandu alkohol dan lebih membayakan dibanding tidak berolahraga serta dua kali lebih berbahaya dibanding obesitas (kelebihan berat badan).

Tidak memiliki hubungan sosial ternyata berdampak yang lebih besar untuk kematian muda dibanding tidak melakukan vaksinasi untuk mencegah pneumonia (radang paru-paru) diusia muda, tidak mengkonsumsi obat tekanan darah tinggi atau terpapar polusi udara.

Hold Lunstad menjelaskan lebih lanjut perihal bagaimana kehidupan sosial bisa mempengaruhi kesehatan, yaitu keberadaan orang yang dekat secara emosional disekeliling kita, membuat kita mampu menghadapi stress hidup, sesuatu yang diketahui bisa menyebabkan kematian jika kita tak sanggup menghadapinya.

Hold Lunstad berujar “Saat kita menghadapi kejadian yang potensial menimbulkan stress dalam hidup, kita tahu bahwa ada orang-orang disekeliling kita yang bisa diandalkan. Ini menjadikan kita percaya bahwa mereka akan membuat kita mampu menghadapinya. Bisa juga keberadaan mereka mencegah berbagai efek negatif dari stress”.

Penelitian lain yang juga pernah dilakukan oleh dua orang ahli epidemi penyakit antara tahun 1965-1974 terhadap gaya hidup dan kesehatan penduduk Alameda County, California yang berjumlah 4.725 orang. Hasil penelitian menemukan bahwa angka kematian tiga kali lebih tinggi pada orang yang eksklusif (tertutup) dibandingkan orang yang rajin bersilaturahmi dan menjalin hubungan.

Kemudian sebuah penelitian lain pada penduduk Seattle ditahun 1997 menyimpulkan bahwa biaya kesehatan lebih rendah didapati pada keluarga yang suka bersilaturrahmi dengan orang lain dan MacArthur Foundation di AS mengeluarkan kesimpulan sejalan yang menyatakan bahwa manusia lanjut usia (manula) bisa bertahan hidup lebih lama itu disebabkan mereka kerap bersilaturahmi dengan keluarga dan kerabat serta rajin hadir dalam pertemuan-pertemuan.

Jadi benarlah hadits Nabi Muhammad SAW bahwa menyambung tali silaturahmi atau menjalin dan membina hubungan baik dengan tetangga, teman dan sanak keluarga dapat meluaskan rejeki dan memperpanjang umur seseorang. Maka momentum Idul Fitri tahun ini setelah menjalani ibadah puasa selama bulan Ramadhan, mari kita jadikan sebagai sarana untuk menyambung kembali tali silaturahmi yang pernah terputus dengan saling memaafkan dan melupakan kesalahan dimasa lalu, mempererat kembali hubungan yang sudah terjalin serta memperluas jaringan silaturahmi dengan tetangga baru dan teman baru.
Share

Minggu, 28 Agustus 2011

Pura-pura Tuli, Pura-pura Tidak Tahu


Ada perasaan kagum sekaligus bercampur malu terhadap diri ini ketika saya membaca kisah seorang tabi’in shalih yang bernama Abu Abdurrahman Hatim bin Unwan atau lebih dikenal dengan nama Hatim al Asham.

Kisah ini bermula ketika suatu hari beliau didatangani seorang wanita yang bermaksud menanyakan sesuatu. Tanpa disengaja wanita itu tiba-tiba buang angin (maaf : kentut). Hatim tidak ingin tamunya menjadi malu karena hal tersebut, kemudian beliau mencoba menutupinya dengan mengatakan, “Berbicaralah dengan keras, karena pendengaranku kurang tajam.” Wanita itupun senang dan tidak salah tingkah karena mengira Hatim tidak mendengarnya.

Sejak saat itu, kira-kira lima belas tahun selama wanita itu masih hidup, Hatim berpura-pura memiliki pendengaran yang kurang normal. Hal ini dimaksudkan agar tidak ada seorang pun yang bercerita kepada wanita itu bahwa sesungguhnya beliau tidak tuli.

Setelah wanita tersebut meninggal dunia, barulah Hatim dengan mudah menjawab kepada siapa pun yang bertanya. Tapi karena sudah terbiasa, beliau selalu berkata, “Bicaralah lebih keras!” Itulah sebabnya orang-orang biasa memanggilnya dengan sebutan Hatim al Asham atau Hatim si tuli.

Kekaguman saya terhadap Hatim al Asham karena kelapangan hatinya yang luar biasa, sikap berpura-pura tidak tahu atas kekeliruan yang tidak sengaja dilakukan orang lain, sikap toleran dan memaklumi kesalahan yang tidak direncanakan yang tidak berakibat buruk terhadap orang banyak. Sikap tersebut biasa disebut dengan istilah taghaful yaitu sikap seseorang yang tahu dan mengerti tentang sesuatu namun menampakkan dirinya seolah-olah tidak tahu (mengabaikan).

Perasaan malu yang menghinggapi diri ini karena terkadang saya tertawa atas kesalahan kecil yang tak sengaja dilakukan orang lain. Berlaku tidak seimbang dalam menilai orang, menghapus semua kebaikan yang pernah dilakukan dan hanya memikirkan serta membesar-besarkan kesalahannya.

Termasuk sikap taghaful adalah seperti yang ditunjukkan oleh Atha bin Rabah, seorang ulama dan ahli hadits. Pernah suatu ketika seseorang datang kepadanya menyampaikan sebuah hadits Rasulullah SAW. Beliau diam dan mendengarkan hadits itu dengan baik, seolah belum pernah mendengarnya kecuali dari yang diucapkan pemuda tersebut. Padahal hadits itu sudah didengar dan dihafalnya sejak sebelum pemuda itu lahir.

Saya pun sangat terkesan dengan sikap taghaful dari komandan perang Qutaibah bin Muslim al Bahily yang kedatangan seorang pemuda untuk menyampaikan sesuatu kepadanya. Ketika pemuda itu duduk menghadap dan meletakkan pedangnya yang masih terhunus, tanpa sengaja ketajaman pedang itu melukai jari kaki Quthaibah sehingga berdarah. Pemuda itu tidak tahu karena Quthaibah berusaha diam dan terus mendengarkan permasalahan yang disampaikan kepadanya. Setelah urusan pemuda itu selesai, mengucapkan terima kasih dan pergi, barulah Quthaibah meminta sapu tangan untuk membersihkan darah dari jari kakinya. “Mengapa tidak engkau sampaikan saja pada pemuda itu wahai Quthaibah?” tanya seorang sahabatnya. “Aku takut ucapan itu akan menghalanginya dari menyampaikan keperluannya” jawab Quthaibah.

Sungguh luar biasa, seperti inilah akhlak dan sikap seorang pemimpin yang shalih. Dengan kedudukannya sebagai komandan, dimungkinkan dan boleh untuk sekadar mengingatkan pemuda itu, tapi hal ini tidak dilakukannya. Bahkan menggeser kakinya agar tidak terlalu lama terkena ujung pedang, itupun tidak dilakukannya.

Ya Allah jadikanlah hamba-Mu ini dapat mengambil pelajaran dan meniru sikap taghaful dari orang-orang shalih terdahulu agar dengan segala kerendahan hati, mampu bersikap toleran, mudah memaafkan, lapang dada, ringan memaklumi kekeliruan orang lain selama kekeliruan itu tidak menentang kebenaran mutlak dari Allah dan Rasulullah SAW, amin.
Share

Jumat, 24 Juni 2011

Perginya Lelaki Bersahaja Itu


Ketika hujan turun dengan tiba-tiba tanpa didahului dengan awan mendung yang memberi isyarat, tak ada petir yang memberi pertanda dan tak ada angin yang mengabarkan tentu membuat sebagian orang panik dan terkejut, demikian pula halnya ketika seseorang secara tiba-tiba pergi untuk selama-lamanya meninggalkan dunia yang fana ini, pasti menyisakan duka yang mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan dan beragam penyesalan karena merasa belum siap untuk ditinggalkan.

Allah sudah menegaskan bahwa “Setiap yang berjiwa akan merasakan mati...”, cepat atau lambat, siap atau tidak siap kita harus mempersiapkan diri dengan bekal amal kebaikan sebanyak mungkin. Meski kepergian seseorang terkadang tanpa memberikan pertanda tetapi pasca kepergiannya terkadang meninggalkan jejak yang menunjukkan bagaimana amal perbuatannya selama hidup di dunia ini seperti halnya kisah berikut ini.

Adalah ayahanda tercinta dari istri saya, tokoh yang cukup dikenal dan dihormati di seantero komplek perumahan kami. Bisa jadi keterkenalan tersebut karena beliau adalah mantan pejabat dengan posisi jabatan terakhir cukup tinggi dan pada masa pensiunnya beliau masih aktif sebagai pengurus pada yayasan pensiun.

Kami sebagai anaknya yang bertempat tinggal kurang lebih 600 meter dari rumah beliau, terkadang ikut merasakan perlakuan “istimewa” dari orang-orang sekitar komplek. Pernah suatu ketika istri saya berbelanja pada tukang gerobak sayur yang biasa mangkal di seberang rumah kami, cukup ramai yang berbelanja saat itu tapi istri saya selalu didahulukan untuk dilayani dan perlakuan yang sama juga sering kami alami ketika membeli sesuatu di warung sebelah rumah. Ketika kami sedang berjalan di sebuah gang seringkali mendapatkan tegur sapa dan senyum ramah dari orang di depan rumah yang kami lewati demikian halnya senyum ramah dari beberapa tukang becak yang kebetulan berpapasan dengan kami.

Suatu hari kami dikejutkan oleh kabar bahwa beliau tiba-tiba pingsan ketika sedang rapat di kantor yayasan pensiun dan tak lama berselang menghembuskan nafasnya yang terakhir di rumah sakit terdekat. Isak tangispun pecah, beliau wafat meninggalkan kami untuk selama-lamanya tanpa kami bisa mencegah atau menundanya sedetik pun.

Terdengar pengumuman di masjid yang mengabarkan perihal meninggalnya beliau. Awalnya penyampaiannya berjalan dengan lancar, namun ketika pengumuman diulang untuk yang kedua kalinya, terdengar si penyampai berita menyampaikannya dengan terbata-bata menahan isak tangis. Mungkin orang tersebut adalah teman almarhum sesama jama’ah masjid yang merasa kehilangan dengan kepergiannya.

Rumah beliaupun ramai dan tak henti-hentinya dikunjungi oleh orang-orang yang datang silih berganti untuk bertakziah dan menyampaikan belasungkawa. Saya sempat terkejut ketika mengetahui dari tetangga bahwa diantara orang-orang yang datang ada beberapa tukang ojek yang biasa mangkal di ujung jalan itu, hansip dan tukang sayur yang biasa mangkal di seberang rumah kami serta tukang becak yang sering hilir-mudik di komplek pun datang. Anak saya juga mengatakan bahwa ternyata tukang odong-odong yang biasa keliling komplek juga datang.

Usai dimandikan dan dikafani, jenazah dibawa ke masjid untuk disholati dan karena sedikit terlambat masuk masjid, sayapun kebagian shaf (baris) paling belakang. Berdiri disamping kiri saya seorang lelaki kurus tinggi ikut mensholati jenazah dan betapa terkejutnya saya usai sholat ketika melihat lelaki yang tadi berdiri disamping saya sudah mengenakan rompi dan tas yang diselempangkan di pundak, ternyata dia adalah penjaja koran yang biasa menjadi langganan almarhum.

Malam harinya saya sempat pulang ke rumah sebentar dan mampir untuk membeli bubur ayam yang biasa mangkal di depan masjid. Tukang bubur memulai percakapan “Nggak sangka ya mas, pak Haji sudah nggak ada ! Padahal baru kemarin malam lewat sini”. Saya pun hanya tersenyum kecil, lalu tukang bubur melanjutkan ceritanya “Pak Haji cuma bilang sama saya, ayo mas mari pulang sudah mau hujan nih...”.

Dari sini dan beberapa kejadian sebelumnya, saya bisa menarik kesimpulan bahwa banyak orang yang menaruh hormat kepada beliau bukan karena ketinggian jabatan yang pernah diembannya tetapi lebih dikarenakan kerendahan hati dan kesederhanaan beliau. Kerendahan hati itu ditunjukkannya dengan keramahan dan tak segan untuk menegur sapa terlebih dahulu kepada siapa saja yang dijumpainya tanpa memandang status sosial atau kedudukan seseorang.

Kehidupan beliau terlihat begitu kontras dengan kisah-kisah beberapa orang yang semasa hidupnya begitu dihormati dan ditakuti karena jabatan atau kekuasaan yang diembannya tetapi ketika orang itu turun dari jabatannya, banyak orang yang “Bertepuk tangan” karena merasa terbebas dari tekanan yang sekian lama mereka rasakan . Dimasa pensiunnya, beberapa mantan bawahannya tidak menaruh hormat lagi kepadanya bahkan hanya sekedar berpapasan dan bertegur sapa, jika ada kesempatan untuk menghindar, mereka akan melakukannya. Lalu jika orang tersebut wafat, masih banyakkah orang yang peduli ?

Hidup adalah sebuah pilihan, apakah kita ingin menjadi orang yang dihormati ketika hidup di dunia dan tetap dihormati dan dikenang orang setelah kita di alam kubur karena kerendahan hati dan kebaikan kita kepada sesama ataukah sebaliknya?

Robbana atina fiddunya hasanah wa fil akhiroti hassanah wa qina adza bannar “. Ya Allah berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan jagalah kami dari siksa api neraka.

Share

Sabtu, 26 Maret 2011

Ketika Memasuki Usia Empat Puluh Tahun

Banyak orang yang terperanjat bahwa ternyata saat ini dia telah memasuki usia 40 tahun, sebagian ada yang berhitung target apa yang sudah diraih dan apa yang belum tercapai dalam hidupnya kemudian memikirkan langkah apa yang akan dilakukan selanjutnya tetapi tidak sedikit pula yang tidak menyadarinya karena sibuk dengan impian-impiannya atau tengah terbuai dalam manisnya kesuksesan.

Ketika memasuki usia 40 tahunan, manusia secara fisiologis mulai mengalami penurunan , tidak sekuat usia 30 atau 20 tahunan, uban mulai tumbuh, pantangan dan kelemahan mulai tampak. Di sisi lain fase kearifan hidup dimulai, kematangan pengalaman, baik buruk, jalur, rambu dan lapis-lapis kehidupan sudah begitu transparan bagi mata batinnya, fase fisik sudah dilalui dan bukan pula fase coba-coba.

Maka dapat dipahami jika Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama yang menandai dimulainya misi kenabiannya ketika beliau berusia 40 tahun. Allah pun secara khusus menyebut angka usia 40 tahun dalam sebuah ayat yang menjelaskan kewajiban seorang anak berbakti kepada ibu bapaknya “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai, berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (Qs 46 : Al Ahqaaf ayat 15).

Allah mengajarkan kepada manusia doa kesadaran akan peran masa lalu (ibu- bapak), kesadaran untuk mensyukuri begitu banyak nikmat yang telah Allah berikan termasuk kenikmatan yang telah diberikan melalui kasih sayang kedua orang tua kita.

Allah mengajarkan pula doa tentang masa kini (diri sendiri) yang berisi permohonan agar bisa lebih giat dan kuat untuk menjalani amal-amal shalih untuk mendapatkan ridha Allah.

Kemudian doa yang berisi pengharapan masa depan (untuk anak-cucu), doa yang dilandasi kesadaran akan tanggung jawab terhadap anak dan cucu yang juga akan menjalani kehidupan seperti yang dialaminya, kesadaran bahwa kelak anak dan cucu tidak mungkin selalu kita dampingi dan arahkan jejak langkahnya.

Inilah doa penuh permohonan, kesyukuran, dan pertobatan yang perlu dilantunkan secara khusyuk dan sepenuh jiwa oleh siapa pun yang punya kesadaran akan usia, posisi, peran, peluang serta hakikat kehidupannya.

Imam Al Ghazali pernah mengatakan “Barangsiapa yang telah melampui usia 40 tahun sedangkan kebaikannya tidak dapat mengalahkan kejahatannya, maka hendaklah dia mempersiapkan dirinya untuk masuk ke dalam neraka”.

Imam Syafi'i setelah mencapai umur 40 tahunan, berjalan dengan menggunakan sebatang tongkat kayu. Ketika ditanya sebabnya, ia berkata "Supaya aku sentiasa ingat bahwa aku adalah seorang musafir yang sedang berjalan menuju akhirat."

Usia 40 tahun adalah saat dimana peran-peran besar sedang dimulai karena dalam keyakinan Islam kita, usia berapapun tak pernah boleh menjadikan seseorang merasa lebih lemah untuk melakukan kebaikan. Imam Ahmad dalam usia renta ditanya, ”Sampai kapan engkau akan menulis hadits?” Kemudian jawabnya, ”Sampai mati.”

Usia seseorang sepenuhnya menjadi rahasia Allah bahwa kematian bisa datang kapan saja dan di mana saja maka berhati-hatilah. Mari kita segera merubah diri menuju kebaikan, mumpung kita masih diberi WAKTU & KESEMPATAN untuk mengumpulkan cukup amal kebaikan sebagai bekal untuk bertemu dengan Allah di hari penghisaban nanti.

Ijinkan saya meminjam catatan syair Ebiet G. Ade “Kita meski bersyukur bahwa kita masih di beri waktu, entah sampai kapan tak ada yang dapat menghitung, hanya atas kasih Nya, hanya atas kehendak Mu, kita masih bertemu matahari, kepada rumput ilalang, kepada bintang gemintang, kita dapat mencoba meminjam catatannya, sampai kapan kita berada, waktu yang masih tersisa, semuanya menggeleng, semuanya terdiam, semuanya menjawab tak mengerti, yang terbaik hanyalah segeralah bersujud, mumpung kita masih diberi waktu.”
Share