Jumat, 06 Januari 2012

Berapa Persen Anda Kehilangan Hidup?


Berapa persen anda merasa kehilangan hidup anda, jika belum berhasil memiliki atau menguasai satu hal? Berapa persen anda merasa telah meraih dan memiliki banyak hal dalam hidup ini?

Setelah puluhan tahun berpisah, dua orang sahabat akhirnya bertemu kembali untuk pertama kalinya. Seorang profesor yang menetap di kota besar berjumpa dengan temannya semasa kecil yang hanya menjadi seorang nelayan sederhana di kampungnya.

Mereka berdua mengulang kisah masa kecil dengan memancing bersama di laut dengan menaiki perahu si nelayan, sambil terus bercerita dan berbincang-bincang seputar pengalaman masa kecil yang dialami bersama.

“Kamu pasti tidak pandai bercakap-cakap dalam bahasa Inggris kan?” kata si profesor. “Ya,” jawab si nelayan. “Karena setelah lulus SD aku tak melanjutkan sekolah, makanya aku sekarang hanya menjadi seorang nelayan, tidak seperti kamu yang sukses sehingga menjadi profesor.”

“Matematika pun kamu tidak bisa kan?” tanya si profesor lagi. “Ya, karena aku dulu bukanlah siswa yang pandai seperti kamu yang selalu juara kelas,” sahut si nelayan.

“Saat ini ilmu pengetahuan menentukan kehidupan seseorang, sehingga jika tidak memilikinya seseorang akan kehilangan lima puluh persen hidupnya,” kata si profesor. “Sayang sekali kamu tidak melanjutkan sekolah,” lanjutnya.

Tiba-tiba terlihat awan mendung dan tak lama hujan turun sangat deras disertai angin kencang. Ombak cukup besar bergulung-gulung mengombang-ambingkan perahu yang mereka tumpangi. Si profesor menjadi sangat ketakutan sambil berpegangan erat-erat pada perahu.

“Tenang saja kawan, cuaca seperti ini sudah biasa terjadi, berdoa saja agar hujan segera reda,” kata si nelayan menenangkan. “Jika hujan tak juga reda, lalu badai datang menghempaskan perahu yang kita tumpangi, bagaimana?” kata si profesor. “Kita tinggal berenang saja sampai ke pantai, tidak jauh kok dari sini,” kata si nelayan melanjutkan sambil menunjuk ke arah pantai.

“Justru itu hal yang aku takutkan, aku tidak bisa berenang,” kata si profesor. “Sayang sekali,” kata si nelayan. “Katamu jika seseorang tidak memiliki ilmu pengetahuan, maka akan kehilangan lima puluh persen hidupnya. Di sini dan dalam kondisi seperti ini, jika seseorang tak bisa berenang maka akan kehilangan seratus persen hidupnya.”
Share

Jumat, 30 Desember 2011

Melebihi Jarak Langit dan Bumi

Seandainya semua orang tahu bahwa kita masih diberi kesempatan oleh Allah Yang Maha Kuasa untuk hidup satu tahun lagi, pasti kita semua akan berlomba-lomba melakukan segala perbuatan baik, demi untuk menutupi dan menghapus dosa-dosa dimasa lalu.

Tapi kematian tetap menjadi rahasia Yang Maha Hidup dan pemberi kehidupan, kematian bisa datang kapan saja dan di mana saja, tidak perlu menunggu tua atau sakit. Berapa banyak orang yang menemui ajal tanpa sempat memperbaiki kesalahannya dimasa lalu bahkan maut menjemput dalam keadaan sedang bergelimang maksiat dan dosa.

Thalhah bin Ubaidillah, salah satu sahabat Rasulullah, pada suatu hari bermimpi. Dalam mimpinya dia mendapati dirinya sedang berada di depan pintu surga bersama dua orang muslim yang dikenal semasa hidupnya rajin beribadah. Salah satunya adalah orang yang mati syahid karena terbunuh dalam sebuah peperangan bersama Rasulullah dan satunya lagi meninggal satu tahun kemudian.

Malaikat mempersilahkan orang yang meninggal belakangan untuk masuk surga terlebih dahulu. Setelah itu, baru kemudian orang yang syahid dalam peperangan tersebut dipersilahkan masuk. Kemudian malaikat berkata kepada Thalhah bin Ubaidillah “Kembalilah ! Kamu belum saatnya di sini.”

Esok harinya, mimpi itu diceritakan kepada orang-orang dan terjadi sedikit kegaduhan. Mereka heran mengapa orang yang syahid itu justru masuk surga belakangan. Hingga akhirnya cerita perihal mimpi itu sampai ke Rasulullah.

Rasulullah pun menanggapi “Bukankah orang yang meninggal belakangan itu hidup satu tahun lebih lama dari orang yang meninggal sebagai syahid?” “Benar,” jawab mereka. ‘Jika demikian, bukankah orang yang meninggal belakangan masih bisa berjumpa dengan ramadhan, berpuasa penuh dan melaksanakan berbagai ibadah dan kebaikan lainnya?” balas Rasulullah. “Benar” jawab mereka.

“Itulah yang menjadikan kebaikan orang yang meninggal belakangan lebih banyak daripada kebaikan orang yang meninggal lebih dulu meski sebagai syahid. Kebaikan mereka lebih jauh daripada jarak langit dan bumi.”

Dalam sebuah hadits lain yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra, bahwasannya Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabat, “Maukah kalian aku beritahu tentang orang yang terbaik diantara kalian?” Mereka menjawab “Ya Rasulullah” beliau pun melanjutkan “Sebaik-baik kalian adalah yang paling panjang umurnya dan paling baik amalnya.”

Mari kita segera merubah diri menuju kebaikan, saat ini juga dan jangan ditunda-tunda, selagi kita masih diberi waktu dan kesempatan untuk mengumpulkan sebanyak mungkin amal kebaikan sebagai bekal di akhirat nanti.
Share

Rabu, 21 Desember 2011

Cobalah Pahami Keinginan Ibu Yang Sederhana


Ketika kita masih bayi belum mampu memberi isyarat apalagi berkata-kata, ibu menjadi sosok mulia yang paling memahami segala keinginan kita. Dia tahu saat kita sedang lapar, haus atau sakit. Tangis kita yang hanya satu warna dan hanya bisa dipahami oleh orang lain sebagai satu keinginan, ibu mampu menterjemahkannya ke dalam banyak keinginan lalu memenuhinya.

Saat kita sudah bisa mengucapkan satu dua patah kata, ibu yang pertama mengerti maksud dan keinginan anaknya. Begitu seterusnya dalam setiap fase pertumbuhan kita, sehingga segala keluh kesah kita bisa terjawab dengan kemampuannya memahami keinginan kita.

Ketika kita beranjak dewasa, karena anak dan orang tua lahir pada generasi yang berbeda, zaman yang tak serupa dan perubahan budaya yang tak sama, seringkali memunculkan perbedaan-perbedaan yang membuat komunikasi ibu dan anak tak sepaham, kehendak yang tak seiring dan pikiran yang tak sejalan.

Beberapa kisah berikut menjadi bukti bahwa betapa keinginan-keinginan ibu yang sederhana seringkali ditafsirkan rumit oleh kita sehingga melahirkan praduga yang tak berdasar dan akhirnya tersimpan kecewa di hati ibu.

Ibu adalah orang yang paling tahu kesukaan anaknya sejak kecil dan ia selalu ingin menghadirkan kesenangan-kesenangan itu untuk kita, meski kita sudah dewasa dan merasa sudah tidak dimasa itu lagi atau merasa sudah mampu untuk menghadirkannya sendiri. Hingga jika suatu hari kita datang menjenguknya, ia selalu siap menyajikan makanan kesukaan kita, atau selalu bertanya “Mau makan apa nak?”, “Mau dimasakin apa nak?” Begitu pula ketika kita hendak pulang, ibu selalu membekali oleh-oleh makanan kesukaan kita meski terkadang kita suka mencari-cari alasan untuk menolaknya karena merasa berat membawanya.

Seorang kakak yang hidup diperantauan meminta adiknya untuk mengirimkan paket jamu dari kampung. Ketika barang hendak dikirim, adiknya menelpon minta dikirimkan tambahan biaya karena ibunya menitipkan makanan ringan kesukaan sang kakak sejak kecil yaitu intip (kerak nasi yang dikeringkan).

Sang kakak meminta untuk membawa kembali saja makanan itu karena merasa tidak memesannya. Adiknya yang berkali-kali didesak tetap menolak sambil berkata “Lebih baik aku berikan orang di jalan daripada ibu kecewa, tiap hari kalau masak ditunggui supaya bisa jadi intip. Ibu juga susah payah mencari sinar matahari dibanyak tempat supaya intip cepat kering lalu digoreng dan segera dikirim, kamu kok malah begitu...”

Demi mendengar perkataan adiknya, sang kakak di seberang telpon tiba-tiba dadanya seperti teriris dan tenggorokkanya serak, lidahnya kelu dan pikiran melayang, membayangkan wajah tua ibunya yang begitu tulus melakukan sesuatu untuk membuatnya senang. Sebuah keinginan yang sederhana, tapi ia nyaris menggagalkan nya karena tidak bisa membaca keinginan tersebut.

Suatu hari seorang anak hendak berangkat ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikan. Ibunya yang merasa akan berpisah jauh dalam waktu lama, tentu ingin meluapkan perhatian dan kasih sayangnya dengan mengantar si anak ke bandara.

Tapi si anak yang merasa sudah besar dan dewasa menolak niat baik ibunya. Dia menganggap keinginan baik itu seperti perlakukan orang dewasa terhadap anak kecil yang harus selalu ditemani kemanapun pergi.

Mungkin anak itu punya maksud baik, tidak ingin merepotkan ibunya, tapi sebenarnya ia gagal memahami perasaaan hati seorang ibu. Ia tidak mengerti gemuruh hati seorang ibu yang begitu berat melepas anaknya untuk pergi jauh.

Bisa jadi tanpa sengaja kita membuat hati ibu kecewa, anak yang dibesarkannya dengan penuh cinta dan pengorbanan serta disekolahkan hingga pandai, ternyata pikirannya tak mampu menjangkau dalamnya cinta dan kasih sayang orang tua.

Pikiran ibu jauh ke depan, dalam benaknya selalu terselip “Andai ini pertemuan terakhir, aku ingin menatap anakku untuk terakhir kalinya.” Atau juga “Anakku membutuhkan kekuatan doa maka aku ingin mengiringi kepergiannya dengan lantunan doa.”

Usahakan jangan pernah menolak keinginan ibu, sepanjang keinginan itu tak mengandung maksiat dan bertentangan dengan syariat Allah. Meski mungkin ada rasa berat di hati, jangan pernah menolak suatu pemberian darinya walau mungkin sangat sederhana dan tak bernilai di mata kita, karena bisa jadi itu adalah pemberian ibu yang terakhir.

Suatu hari seorang ibu mendatangi tetangganya lalu mencurahkan isi hatinya, “Bu..., saya ini sudah tua sudah tidak banyak keinginan. Saya ini senang sekali kalau melihat ada anak yang mengantarkan makanan untuk orang tuanya. Saya ingin sekali diantarkan makanan atau dibawakan oleh-oleh kalau anak-anak saya pulang dari berbelanja, meski saya sering berbelanja sendiri dan belum terlalu tua untuk bermanja-manja. Saya hanya ingin menikmati makanan atau apa saja dari anak-anak, tidak penting itu mahal atau murah...” cerita ibu dengan raut wajah yang sedih.

Sebuah keinginan yang sangat sederhana, Ibu itu ingin sebuah perhatian yang tulus, berharap tegur sapa anak-anaknya lewat sebungkus makanan atau oleh-oleh kecil lainnya, tapi hal itu tak kunjung ia dapatkan.

Terkadang hal ini tak kita pahami, mungkin karena menganggap orang tua kita terlihat hidup berkecukupan, lalu disimpulkan bahwa mereka tak begitu membutuhkan pemberian kita. Terlebih lagi karena ibu tak pernah bercerita apalagi meminta, tapi bukankah ibu atau orang tua pada umumnya selalu tidak ingin menyusahkan anak-anaknya? Meskipun sebenarnya ia butuh namun berusaha menutupinya.

Semoga kita dapat membahagiakan ibu atau orang tua kita dengan selalu berusaha memahami keinginannya, dari semua sisi, agar kita mampu untuk lebih berbakti demi mengharapkan keberkahan hidup bersamanya. Karena sesungguhnya apapun yang kita berikan, tidak akan pernah sepadan dengan segala pemberian dan curahan kasih sayang yang telah diberikan kepada kita.
Share

Senin, 05 Desember 2011

Peranan Tulang Ekor Dalam Proses Penciptaan & Kebangkitan Manusia


Rasulullah SAW pernah bersabda sebagaimana diriwayatkan oleh HR. Muslim “Seluruh bagian tubuh anak Adam akan musnah dimakan bumi kecuali tulang ekor. Darinyalah ia diciptakan dan denganyalah ia dirakit (dibangkitkan) kembali.”

Belasan abad lamanya, hadist tersebut menjadi hal ghaib yang tidak mungkin bisa dijelaskan dengan logika. Seiring berjalannya waktu, beberapa penelitian ilmiah mampu menjelaskan kebenaran hadits tersebut ditinjau dari sudut pandang ilmiah, sebagaimana dijelaskan oleh
Prof. Dr. Zaghlul Raghib Al-Najjar dalam bukunya “Al-I’jaz al-ilmi fi al-Sunnah al Nabawiyyah” dan diterjemahkan dalam “Buku Induk Mukjizat Ilmiah Hadist Nabi.”

Hans Spemann seorang ilmuwan Jerman bersama timnya meneliti perkembangan sel telur pada hewan percobaannya. Mereka menemukan bahwa sel sperma yang telah bercampur dengan sel telur terbagi-bagi menjadi beberapa kali hingga menjadi sebentuk piringan yang terdiri dari dua lapis sel yaitu epiplast dan hypoplast. Kemudian muncul benang halus pada lapisan paling atas yang disebut
the primary streak atau the primitive streak (benang pertama/benang permulaan).

Pada ujung benang inti ini terdapat simpul pengikat yang disebut
the primary node atau the primitive node (simpul pertama/simpul permulaan).

Para peneliti melihat bahwa “benang pertama” atau “pita pertama” memulai
proses penciptaan seluruh organ dan sistem janin dengan cara menggerakkan beberapa sel lapisan atas (epiplast) kemudian membentuk sel-sel janin sesuai dengan tugas yang telah ditentukannya. Kemudian ia mulai mengatur penyempurnaan bagian tubuh janin lain yang bentuknya belum sempurna.

Mereka juga menemukan bahwa setelah penciptaan seluruh sistem tubuh janin, pita pertama tertarik dan kemudian tersimpan diujung tulang punggung tulang belakang. Mereka tercengang demi mengetahui bahwa proses penciptaan seluruh sistem tubuh janin yang dilakukan oleh sel-sel pertama disepanjang benang pertama dan simpul-simpulnya. Karena itulah mereka menyebutnya The Primary Organizer atau pengatur utama.

Hans Spemann dan timnya pada 1931 mencoba mengisolasi pita pertama tersebut dan
Menanamkannya pada salah satu gen hewan amfibi. Ternyata sel itu tumbuh pada poros lain di luar poros janin indungnya.

Pada tahun 1932 mereka juga mengisoalasi pita pertama tersebut lalu mendidihkannya untuk kemudian ditanam pada janin lain. Ternyata ia tetap menumbuhkan sel-selnya secara mandiri, tidak terpengaruh oleh proses pendidihan tadi.

Akhirnya pada tahun 1935 Hans Spemann dianugerahi Nobel dalam bidang biologi sebagai penghargaan atas penemuan
The Primary Organizer dan perannya dalam penciptaan seluruh struktur jaringan, organ dan sistem janin. Ia juga menemukan bahwa organ ini tidak akan musnah untuk selama-lamanya.

DR. Utsman Gailan dari Mesir pada tahun 2003 melakukan penelitian dengan membakar dua rangkaian
tulang ekor terakhir dari lima tulang belakang kambing hingga benar-benar hitam seperti arang. Setelah diperiksa di laboratorium ternyata sel-sel tersebut sama sekali tidak terpengaruh.

Perkembangan ilmu pengetahuan dalam bidang embriologi terus berkembang, para ilmuwan lain termasuk ilmuwan genetika Keith L. Moore mencoba melakukan penelitian pada tulang ekor manusia dan mendapatkan kesimpulan yang sama pula.

Para ahli genetika dewasa ini sudah mengetahui bahwa sel-sel pita pertama telah dianugerahi oleh Sang Maha pencipta, kemampuan luar biasa untuk memproduksi sel-sel khusus sehingga dikenal pula dengan sebutan
Pleuropotent Primitive Streak Cells atau “Sel Pita pertama Berkemampuan banyak”.

Fakta ilmiah ini sesuai dengan
hadist Rasulullah SAW di atas bahwa “tulang ekor” berperan dalam proses penciptaan manusia. Lantas bagaimana dengan kebangkitan manusia? Simak pula hadist berikut yang diriwayatkan oleh HR. Bukhari :

“Diantara dua tiupan sangkakala lamanya empat puluh (entah 40 hari, bulan atau tahun). Kemudian Allah menurunkan air dari langit, mereka pun
bangkit seperti biji sawi menumbuhkan tunasnya. Tidaklah setiap manusia melainkan akan binasa, kecuali satu tulang, yakni tulang sulbi (tulang ekor), dengannya makhluk dibangkitkan pada hari kiamat.”

Senada dengan hadist tersebut, Allah berfirman dalam Qs. Nuh ayat 17-18 : “Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya, kemudian Dia mengembalikan kamu ke dalam tanah dan mengeluarkan kamu (daripadanya pada hari kiamat) dengan
sebenar-benarnya.”

Allah mengibaratkan proses
penciptaan manusia dengan tumbuhnya pepohonan, kemudian mengibaratkan proses kebangkitannya seperti munculnya pepohonan di muka bumi. Dan Allah menegaskan bahwa manusia akan dibangkitkan pada hari kiamat “dengan sebenar-benarnya”. Kelak dihari kiamat nanti, semua manusia akan membuktikan kebenaran firman Allah tersebut.
Share

Kamis, 03 November 2011

Kisah Sepotong Buntut Singkong


Kisah ini berawal ketika suatu hari di tahun 1980 an, seorang tukang gorengan yang sedang mangkal tiba-tiba dihampiri seorang anak kecil. Anak tersebut langsung mengambil posisi berdiri di sisi kanan gerobak dengan kaki kiri sedikit diangkat dan ditempelkan pada kaki kanan serta menggigit jari telunjuk kanannya. Tanpa berkata-kata dengan posisi tersebut, anak itu terus menatap ke arah gerobak.

Melihat hal itu, tukang gorengan tetap tidak bereaksi dan berkata apapun, meski kejadian ini terus berulang sampai hari ketiga dengan posisi berdiri dan gaya yang sama.

Pada hari keempat tukang gorengan mulai berfikir dan ada perasaan kasihan pada anak itu, “Sepertinya dia akan datang lagi hari ini.” Maka buntut singkong yang biasanya dibuang, kali ini digoreng dan disiapkan untuk diberikan nanti.

Benar saja anak itu datang lagi, lalu diberikannya buntut singkong yang sudah digoreng tadi. Betapa senangnya anak itu sambil tersenyum lebar dan mata yang berbinar-binar dia pun berlari dengan senangnya.

Tukang gorengan hanya bisa menggelengkan kepala melihat reaksi anak itu yang sedemikian senangnya meskipun dia hanya memberikan buntut singkong. Kejadian ini terus berulang sampai empat hari berturut-turut hingga akhirnya anak itu tidak datang lagi.

Dua puluh empat tahun kemudian, masih dengan gerobak yang sama dan tempat mangkal yang sama, seorang pemuda berumur sekitar 30 tahun mendatangi gerobak tersebut. “Ada buntut singkong pak?” tanya pemuda itu.

Tukang gorengan terpana sejenak dengan pertanyaan itu. “Enggak ada” sahutnya, “Buntut singkong mah enggak enak pahit, makanya enggak dijual. Cari yang lain saja!” lanjutnya.

Pemuda itu hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala menolak tawaran tersebut.”Bapak masih kenal saya?” tanyanya. Tukang gorengan memandangi pemuda itu cukup lama, berusaha mengenalinya dan balik bertanya “Sepertinya kenal tapi siapa ya?”

Sambil terus tersenyum, pemuda itu berkata “Sebentar pak, saya akan peragakan sesuatu, pasti bapak kenal saya.” Lalu pemuda itu memperagakan posisi berdiri setengah kaki dengan menggigit jari telunjuk kanannya, persis seperti yang dia lakukan dua puluh empat tahun yang lalu.

“Oh rupanya kamu anak kecil yang dulu saya kasih buntut singkong ya?” ujarnya. “Betul sekali pak” jawab pemuda itu. “Maaf ya, bapak dulu hanya kasih kamu buntut singkong” kata tukang gorengan sedikit menahan malu. “Enggak pak, justru dulu Bapak sudah memberikan kebahagiaan untuk saya” sanggah pemuda itu.

Dengan sedikit berkaca-kaca, pemuda itu lalu bercerita.”Dulu waktu saya datang ke gerobak Bapak, baru beberapa hari ayah saya meninggal. Saya tidak lagi punya uang jajan seperti dulu sedangkan kawan-kawan saya tidak mau menemani bermain hanya karena tidak punya uang jajan. Saya lalu mendatangi beberapa warung tapi malah diusir.”

“Ketika mendatangi gerobak Bapak, saya tidak diusir tapi tidak ditegur dan tidak diberi apa-apa. Saya pantang menyerah sampai akhirnya dikasih buntut singkong itu.”

Pemuda itu melanjutkan ceritanya bahwa dia senang sekali karena bisa bergabung kembali dengan teman-temannya dan menunjukkan jajanannya. Padahal dia hanya berpura-pura dengan cara kedua tangannya seolah-olah menggenggam satu singkong utuh dan hanya ujungnya atau buntut singkong yang menyembul ke atas.

“Jadi begitu ceritanya pak...” kata pemuda itu seraya menjelaskan bahwa beberapa hari kemudian dia tidak lagi mendatangi gerobaknya karena diajak ibunya pindah rumah.

Tiba-tiba dengan air mata yang berlinang, pemuda itu berkata “Pak... saya mau berterima kaih sama Bapak, saya mau membayar empat buntut singkong itu. Bulan depan kebetulan saya mau umroh..., saya mau Bapak juga ikut umroh ke tanah suci.”

Umrah?” tukang gorengan menatap dengan penuh keheranan dan tidak percaya. Bagaimana mungkin perbuatan kecil yang dia lakukan beberapa tahun yang lalu dan sudah dilupakan kejadiannya, tiba-tiba kini berbuah tawaran untuk berumroh.

Allah Maha Besar, tidak ada yang tidak mungkin, janji Allah itu pasti. Allah tidak akan membiarkan berlalu begitu saja kebaikan yang kita lakukan sekecil apapun, sebagaimana firman Nya dalam Qs. Az Zalzalah : 7 “Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya.”

Bahkan tak jarang Allah melipatgandakan balasan kebaikan yang kita lakukan, perhatikan petikan ayat berikut ini :

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Qs. Al Baqarah:261).

Semoga kisah ini dapat menginspirasi saya dan kita semua untuk selalu menebarkan kebaikan dan kebahagiaan bagi orang lain, sedikit sedekah atau kebaikan yang kita berikan bisa jadi sangat berarti bagi mereka yang membutuhkan.


* Kisah nyata, sebagaimana yang dikisahkan oleh ust. Yusuf Mansyur dalam bukunya “Miracle of Giving, Keajaiban Sedekah”.
Share