Selasa, 21 Desember 2010

PIAGAM KEHIDUPAN

Suatu malam selepas isya berkumpullah satu keluarga ayah, ibu dan ketiga anak mereka di sudut ruang tamu. Di atas sofa tempat mereka duduk, terpajang dengan rapi deretan piagam penghargaan yang diperoleh sang ayah yang hampir memenuhi sudut ruang tersebut. Wajar saja karena sang ayah adalah seorang yang sukses di perusahaannya dan mempunyai jabatan yang cukup tinggi. Sementara di sudut kirinya terpajang pula deretan piagam penghargaan ketiga anak mereka atas prestasi mereka di sekolah maupun beberapa perlombaan yang pernah mereka ikuti.

Tiba-tiba si bungsu berkata dengan penuh semangat “papa... nanti kalau aku tambah besar, pasti piagam yang aku punya akan melebihi papa !”, “ya bagus nak, kalian semua akan menjadi anak-anak yang pintar dan berprestasi seperti papa” jawab sang ayah. Kemudian anak yang lain menimpali “kita semua punya piagam yang banyak, hanya mama nih yang tidak punya...”. Ayah pun menyahut “ya karena mama kamu kan tidak bekerja seperti papa jadi tidak punya piagam “. Mendengar itu sang ibu tertegun sejenak lalu tersenyum seraya memeluk si bungsu serta mengusap-usap kepala kedua anaknya yang lain.

Topik pembicaraan pun berganti, malam itu mereka lalui dengan penuh keceriaan dan senda gurau hingga akhirnya kantuk jualah yang mengantar mereka ke pembaringan masing-masing.

Pagi harinya ayah dan ketiga anaknya mendapati ibunya tengah termenung di ruang tamu sambil memandangi foto keluarga ukuran besar yang terpajang di ruang tamu dan sesekali beralih pandangannya pada sesuatu yang diletakkan di atas lemari kecil persis di bawah foto besar itu.

“Sedang apa ma ...? tanya mereka hampir bersamaan, “Lihatlah di atas lemari itu ! hanya tiga piagam itu yang mama punya...” ujar sang ibu sambil tersenyum penuh arti. Betapa terkejutnya sang ayah ketika mengetahui bahwa benda itu adalah tiga buah Akte Kelahiran atas nama ketiga anak mereka.

Dengan penuh keharuan sang ayah mendekap istrinya sambil berkata “Maafkan papa ma ! kalau ucapan kami semalam membuat mama tersinggung ...”, “Seberapa banyak piagam penghargaan yang papa punya, tidak berarti tanpa ketiga piagam itu, karena mama lah anak-anak bisa memiliki banyak piagam, ma... begitu banyak ibu yang berharap mempunyai piagam itu, tapi belum diberi kesempatan untuk dikabulkan oleh Allah dan tidak sedikit ibu yang berhasil mendapat piagam itu tapi tidak mampu merawat dengan baik hasil dari piagam itu”, “Sekali lagi maafkan papa ma !!, kamulah pemilik piagam sejati itu, kamulah pemilih
PIAGAM KEHIDUPAN itu ....”.

Pagi itu cuaca begitu cerah dan tidak ada mendung sedikitpun pertanda hujan akan turun, tapi pipi mereka dibasahi oleh hujan tangis keharuan dalam pelukkan kebahagiaan.

Sebuah renungan yang menegaskan bahwa IBU adalah pemilik
PIAGAM KEHIDUPAN, yang untuk mendapatkannya dilalui dengan penuh perjuangan dan pengorbanan antara hidup dan mati, sehebat apapun piagam dan penghargaan yang kita dapatkan tidak ada yang pantas untuk kita sombongkan jika mengingat pengorbanan yang telah diberikan untuk kita, terima kasih ibu.

Share

Jumat, 10 Desember 2010

Kemana Arah Kita Melangkah?

Suatu ketika ada tiga orang tukang batu yang sedang menyusun batu bata dengan campuran pasir dan semen dalam proses pembangunan sebuah gedung. Kepada mereka lalu diberikan satu pertanyaan yang sama “Apa yang sedang anda kerjakan?

Tukang yang pertama merasa heran dengan pertanyaan tersebut hingga akhirnya menjawab sambil menghela nafas “ Ya jelas dong, sayang sedang menyusun dan meletakkan batu-bata”.

Sedangkan tukang yang kedua dengan sedikit tersenyum menjawab “Saya sedang mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga saya”.

Lalu tukang yang ketiga dengan berfikir sejenak dan tatapan mata yang menerawang menjawab dengan penuh semangat “Saya sedang membangun sebuah masjid yang megah dan indah, dan suatu saat nanti akan ramai dikunjungi orang-orang yang beribadah dan nama Allah akan dimuliakan di tempat ini”.

Tak ada yang salah dengan jawaban ketiga orang tersebut, tukang yang pertama memberi jawaban yang realistis, memang benar dia sedang bekerja meletakkan batu bata, itulah rutinitas pekerjaannya dan jawaban tersebut menggambarkan perasaan lelah dan membosankan.

Tukang yang kedua memberi jawaban yang pragmatis, dia menyadari bahwa bekerja menyangkut urusan hidup, setiap orang perlu makan dan minum untuk hidup sehingga untuk itu dia bekerja agar mendapat upah yang dapat digunakan untuk menghidupi dia dan keluarganya.

Tukang yang ketiga memberi jawaban yang idealis dan mempunyai visi yang jauh ke depan. Dia menyadari bahwa pekerjaannya bukan hanya sekedar meletakkan batu bata dan bukan pula sekedar mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya, dia mampu melihat bahwa dirinya sebagai bagian dari suatu pekerjaan yang besar dan mulia karena akan memberi manfaat bagi orang banyak, tidak hanya bagi diri dan keluarganya.

Kebanyakan orang hanya berfikir seperti tukang yang pertama dan kedua sehingga merasa bahwa pekerjaan kita sebagai rutinitas yang membebani kita, membosankan dan melelahkan, pandangan hidup pun menjadi sempit.

Jadilah orang yang memiliki rumusan visi yang jelas, ke mana arah tujuan hidup kita, yakinlah bahwa kita mempunyai visi, harapan atau impian yang mulia dan yakinkan pula bahwa kita mampu mewujudkannya dalam hidup dan kehidupan ini.

Share

Kamis, 01 April 2010

Malam Panjang Penuh Bintang


Dinginnya tetesan air AC yang membasahi wajah membuat saya terbangun dari tidur, dengan reflek pandangan saya tertuju pada jam dinding dan seketika saya teringat bahwa malam ini belum melakukan sholat Isya.

Malam ini saya pulang kantor agak telat, jam setengah sembilan lewat sehabis mandi saya lebih memilih untuk bercengkrama sebentar dengan anak-anak sebelum menemani mereka tidur. Hujan deras yang turun sejak jam delapan tadi di iringi dengan irama gemericik air hujan yang jatuh di atas genting, rupanya menjadi pengantar tidur yang baik sehingga dengan cepat meninabobokan kami.

Jam tiga dinihari ini saya sempatkan melihat keluar rumah, pekarangan dan jalan di depan rumah yang basah mengisyaratkan bahwa hujan belum lama reda dan entah mengapa saya tergerak untuk menengadah ke atas, mungkin karena pohon mangga di halaman baru saja ditebang sehingga pandangan saya lebih leluasa.

Sejenak saya pandangi langit, oh rupanya langit malam ini begitu cerah dengan bulan terlihat nyaris penuh dan taburan bintang-bintang yang berkerlap-kerlip memenuhi cakrawala pandangan saya.

Ingatan saya menerawang ke masa kecil yang begitu mengagumi pemandangan langit di malam hari dengan segudang pertanyaan, mengapa bulan kadang terlihat bulat penuh dan dilain waktu tinggal separuh, mengapa bintang berkerlap-kerlip dan berapakah jumlahnya, mengapa bulan dan bintang tidak menampakkan dirinya disiang hari dan seterusnya.

Kini saya mengetahui bahwa ternyata bintang-bintang itu seperti matahari di tata surya kita, karena jaraknya yang sangat jauh dari bumi maka ia terlihat sangat kecil dan cahayanya terlihat berkerlap-kerlip padahal banyak bintang yang ukurannya 10 kali atau 100 kali ukuran matahari bahkan ada yang ukurannya 1500 kali matahari sedangkan matahari hanya 200 kali ukuran bumi.

Setiap 100 milyar bintang membentuk gugusan bintang yang disebut galaksi dan setiap 100 milyar galaksi membentuk gugusan galaksi yang disebut superkluster dan seterusnya sehingga belum diketahui pasti batas dari alam semeta ini.

Berapakah jarak bintang dengan bumi? Informasi ilmuwan astronomi menyatakan bahwa jarak bintang yang paling dekat berkisar 8 tahun cahaya maka jika kita hitung dengan kecepatan cahaya 300.000 km/detik, jarak bintang itu sekitar 75 trilyun km, subhanallah... suatu jarak yang tak pernah terbayangkan.

Jadi sesungguhnya malam ini pada saat yang bersamaan saya sedang melihat berbagai peristiwa di masa lalu, ya karena saya sedang melihat bintang 8 tahun yang lalu (karena cahaya bintang itu menempuh perjalanan 8 tahun cahaya untuk sampai ke bumi sehingga bisa terlihat oleh kita), 10 tahun yang lalu atau bisa jadi 100 dan 1000 tahun yang lalu, subhanallah...

Pengamatan melalui teleskop raksasa Hubble, para ilmuwan mengetahui bahwa bintang-bintang dan semua benda langit ternyata semuanya sedang bergerak saling menjauh kesegala arah, berati dulunya berjarak lebih dekat dan dulunya lagi berjarak lebih dekat lagi sampai pada suatu waktu dahulu benda langit tersebut berkumpul pada suatu titik yang sama alias berhimpit atau padu. Inilah yang mendasari teori “Big Bang” atau teori “Ledakan Besar”. Ledakan yang maha dahsyat telah melontarkan material dan energi sehingga secara berangsur-angsur terciptalah benda-benda langit tersebut.

Ternyata informasi tentang penciptaan langit dan bumi serta segala benda langit lainnya sudah dinyatakan dalam Al Qur’an surat 21 Al Anbyaa (30) : “Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya....”. Subhanallah.....

Saya segera berwudlu dan melaksanakan sholat, bintang-bintang di atas sana seakan turut menjadi saksi dan entah mengapa saya merasa sedang diperhatikan oleh para malaikat bahwa jam 3 dinihari ini saya baru melaksanakan sholat Isya yang tertunda dan saya baru saja menyaksikan sebagian tanda-tanda kebesaran Allah SWT tapi apakah saya termasuk orang-orang seperti yang dimaksud dalam ayat berikut : “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (Qs. Ali Imran : 190-191).

Ampunilah hambamu ini ya Allah yang dengan segala kesombongannya merasa menjadi orang paling sibuk padahal Engkaulah yang maha sibuk lagi tidak tidur untuk mengatur bermilyar-milyar benda langit di alam semesta ini. Seringkali hamba lalai dari mengingat Mu. Ketika adzan Zhuhur bergema kami mendahulukan untuk mengisi perut, ketika waktu Ashar tiba kami masih sibuk bekerja rapat ini dan rapat itu, ketika Maghrib menjelang kami masih diperjalanan, ketika Isya tiba kami masih beristirahat dan ketika adzhan Shubuh berseru kami masih dibalik selimut, pantaskah surga untuk kami ya Allah ? Ya Allah jauhkanlah kami dari siksa neraka.

Sholat Isya telah dilaksanakan lalu tidur lagi...? Tunggu dulu... saya teringat dengan sindiran Rasulullah SAW : “Sesungguhnya malam itu panjang janganlah kau perpendek dengan tidurmu....” Ya Allah sudah berapa lama hamba tak sempat mendirikan sholat Tahajjud. Semoga malam ini menjadi permulaan kembali bagi hamba Mu untuk memperpanjang malam dengan sholat Tahajjud disepertiga malam yang akhir.
Share

Jumat, 26 Februari 2010

Ketika Muhammad SAW Bermetamorfosis


Sebagian besar kita meyakini bahwa Nabi Muhammad SAW adalah seorang nabi yang ummi yang buta huruf tidak bisa membaca dan menulis karena di sejumlah ayat Al Qur’an, Allah menyebut Nabi Muhammad SAW sebagai nabi yang ummi, tapi apakah Muhammad SAW adalah nabi yang selamanya ummi? karena mengherankan bagaimana mungkin seorang Nabi yang buta huruf justru mengajarkan dan mewariskan Al Qur’an suatu kitab bertulis yang sangat agung yang bernilai sastra sangat tinggi dan berisi ilmu pengetahuan serta tatanan hidup bermasyarakat yang sangat maju dan modern.

Mengapa Muhammad SAW yang ummi dan buta huruf terpilih sebagai nabi dan Rasul-Nya? sehingga pada awalnya menjadi celaan dan ejekan orang yang merendahkannya : “ Dan apabila mereka melihat kamu (Muhammad), mereka hanyalah menjadikan kamu ejekan (dengan mengatakan) : inikah orangnya yang diutus Allah sebagai rasul? “.

Ini merupakan bagian dari skenario Allah agar semua orang tahu dan tidak bisa membantah bahwa Al Qur’an adalah benar-benar kitab suci yang datang dari Allah, petunjuk bagi seluruh umat manusia, sebagaimana dinyatakan pada surat Al Ankabuut ayat 48: “Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Al Qur'an) sesuatu Kitab pun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu kitab dengan tangan kananmu; andai kata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari (mu).”

Orang-orang kafir pada waktu itu terkesan kebingungan, disatu sisi mereka mengejek Nabi Muhammad SAW sebagai orang yang tidak bisa baca tulis tapi sekaligus heran kenapa Nabi bisa mengajarkan isi Al Qur’an yang menurut mereka memiliki nilai sastra yang tinggi Sehingga mereka menuduhnya sebagai penyair, Al Anbyaa ayat 5 : Bahkan mereka berkata (pula): "(Al Qur'an itu adalah) mimpi-mimpi yang kacau, malah diada-adakannya, bahkan dia sendiri seorang penyair, maka hendaknya ia mendatangkan kepada kita suatu mukjizat, sebagaimana rasul-rasul yang telah lalu diutus."

Kemudian mereka membantah sendiri, tidak mungkin Muhammad SAW mampu membuat syair-syair sebagus Al Qur’an lalu dicari alasan lain yang paling logis bahwa Nabi dibantu oleh orang lain yang pandai sastra dari kalangan ahli kitab. Hal ini dibantah oleh Allah : Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata: "Sesungguhnya Al Qur'an itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad)". Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya bahasa Ajam, sedang Al Qur'an adalah dalam bahasa Arab yang terang." (QS. An Nahl : 103).

Allah juga menantang mereka untuk membuat kitab semacam Al Qur’an, Hud ayat 13 : Bahkan mereka mengatakan: "Muhammad telah membuat-buat Al Qur'an itu", Katakanlah: "(Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surat-surat yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar".

Muhammad SAW yang ummi berangsur-angsur diajari baca tulis oleh Allah melalui perantara malaikat Jibril, ditandai dengan turunnya wahyu pertama Al Alaq 1-5: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam (pena). Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”

Bacalah (iqra) pada ayat pertama memerintahkan untuk membaca ilmu-ilmu Allah yang terhampar di alam semesta (ayat-ayat kauniyah) yang dimulai dengan informasi awal tentang proses penciptaan manusia (kelak kemudian turun ayat-ayat lainnya yang menceritakan secara detail tentang penciptan manusia). Sedangkan pada ayat berikutnya kata bacalah (iqra) mengandung makna membaca tulisan.

Turunnya wahyu kedua dimulai dengan ayat pena : “Nun, demi kalam (pena) dan apa yang mereka tulis, berkat nikmat Tuhanmu kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila. Dan sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya. Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. Maka kelak kamu akan melihat dan mereka (orang-orang kafir) pun akan melihat, siapa di antara kamu yang gila.” (QS. Al Qalam : 1-6).

Kata kalam/pena dan tulis menulis dengan nabi yang diejek sebagai orang gila terkait dengan kebiasaan orang Arab Quraisy pada waktu itu yang lebih mengandalkan daya ingat dalam mencatat berbagai peristiwa maka belajar membaca dan menulis dikalangan masyarakat yang ummi sangatlah dilecehkan.

Wahyu yang ketiga, Nabi diperintahkan untuk belajar lebih intensif, bangun malam dan membaca Al Qur’an : “Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya),(yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Qur'an itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.” (QS. Al Muzzammil : 1-6).

Selanjutnya Nabi Muhammad SAW secara bertahap memperoleh wahyu sambil terus menerus diajari oleh Jibril untuk membaca dan menulis serta memahami kandungan ilmu-ilmu Allah yang diturunkan kepadanya dan yang menarik pada beberapa surat-surat Al Qur’an dimulai dengan huruf-huruf, hal ini mengindikasikan bahwa Nabi Muhammad SAW sedang diajarkan mengenal huruf-huruf untuk bisa membaca, surat-surat tersebut yaitu : Alif lam mim QS. (2): 1, (3): 1 (29): 1, (30): 1, (31): 1, (32): 1; Alif lam mim shad Qs. (7): 1; Alif lam raa QS. (10): 1, (11): 1, (12): 1, (14): 1, (15): 1; Alif lam mim raa QS.(13): 1; Kaf ha ya ’ain shaad QS. (19): 1; Tha ha QS. (20): 1; Tha sin mim QS. (26): 1, (28): 1; Tha sin QS. (27): 1; Ya sin QS. (36): 1; Shad QS. (38): 1; Cha mim QS. (40) : 1, (41) : 1, (43) : 1, (44) : 1, (45) : 1, (46) : 1; Cha mim ‘ain sin qaf QS. (42):1; Qaf QS. (50): 1; Nun QS. (68): 1.

Berikut ini adalah beberapa ayat yang mengindikasikan bahwa Nabi Muhammad SAW tidaklah buta huruf selamanya:

“Dan Al Qur'an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian” (QS. Al Israa : 106).

“Maka Maha Tinggi Allah Raja Yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al Qur'an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan katakanlah: "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan."(QS. Thaahaa:114).

“Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan menyucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah (As Sunah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.” (QS. Al Baqarah: 151).

“(yaitu) seorang Rasul dari Allah (Muhammad) yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan (Al Qur'an), di dalamnya terdapat (isi) kitab-kitab yang lurus.” (QS. Al Bayyinah: 2-3).

“Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Qur'an karena hendak cepat-cepat (menguasai) nya. Sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah menghimpunkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah penjelasannya.” (QS. Al Qiyaamah: 16-19).

Jaminan dari Allah bahwa Dia-lah yang menghimpunkan wahyu itu ke dalam jiwa Muhammad lalu membuatnya pandai membaca dan “atas tanggungan Kami-lah penjelasannya”, walau awalnya belia ummi tetapi karena Allah sendiri yang membimbing lewat malaikat Jibril maka Rasulullah menjadi sangat pandai (bukan hanya pandai membaca tetapi juga pandai memahami makna yang terkandung di dalam wahyu ) yang benar-benar melekat dalam akal budi dan jiwa beliau.

Sehingga ketika beliau menyampaikan ayat-ayat Al Qur’an kepada umatnya pastilah beliau sudah memahami makna yang terkandung di dalamnya maka tak berlebihan jika Nabi Muhammad SAW juga disebut sebagai ilmuwan yang jenius karena Al Qur’an banyak berbicara tentang ilmu-ilmu pengetahuan.

Bukti-bukti lainnya adalah Nabi Muhammad SAW sering melakukan kontak-kontak politik dengan penguasa sekitar melalui surat menyurat dalam rangka misinya menyeru mereka agar mengakui Islam sebagai agama baru dan kalau bisa mereka dapat memeluk Islam, antara lain surat kepada Raja Najasyi dari Habasyah (Ethiopia), Raja Khosrow dari Persia (Iran), Kaisar Heraklius penguasa Romawi, Harits ibn Abi Syummar al Ghasssani (Raja Ghassan di Damaskus) dll.

Rasulullah juga beberapa kali melakukan perjanjian politik secara tertulis termasuk perjanjian Hudaibiyah dan Piagam madinah. Dikisahkan dalam penyusunan perjanjian Hudaibiyah, Ali bin Abi thalib tidak mau menuliskan kata “Muhammad ibn Abdullah” tapi tetap ingin menuliskan kata “Muhammad Rasulullah” maka beliau sendiri yang mengambil alih dan menuliskan kata “Muhammad ibn Abdullah” untuk menggantikan kata “Muhammad Rasulullah” yang ditulis Ali dalam draft perjanjian tersebut.

Akhirnya dapat diambil kesimpulan bahwa nabi Muhammad SAW memang awalnya seorang ummi yang tidak bisa baca tulis tapi tidak selamanya karena kemudian beliau bermetamorfosis menjadi seorang ilmuwan, negarawan dan pemimpin umat yang sangat jenius, dihormati umatnya dan disegani lawan-lawan politiknya serta panglima militer yang ditakuti oleh musuh-musuhnya di medan laga.

Allahumma shalli wa salim wa barik ‘ala Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in.


Disarikan dari :
"Metamorfosis Sang Nabi, Dari Buta Huruf Menjadi Ilmuwan Jenius"
(Ustad Agus Mustofa). Share

Sabtu, 13 Februari 2010

Kalau Cinta katakan Tidak


Kecintaan-Ku adalah bagi orang-orang yang saling mencinta karena Aku, mereka duduk bersama karena Aku, saling berkunjung karena Aku dan saling memberi karena Aku (hadist Qudsi).

Kalau anda mencintai kekasih anda, begitu pun sebaliknya dan tidak ada sesuatu hal yang menjadi penghalang di antara kalian, katakan tidak akan berlama-lama pacaran, segeralah menikah.

Kalau anda seorang suami yang mencintai istri anda, katakan tidak akan menyakiti dan bertindak sewenang-wenang terhadap istri, berusaha menjadi pemimpin, pembimbing dan pelindung yang baik bagi keluarga.

Kalau anda seorang istri yang mencintai suami, katakan tidak akan melupakan kewajiban sebagai seorang istri untuk senantiasa memelihara dan menjaga kehormatan rumah tangga, berusaha mengatur urusan rumah tangga dengan sebaik-baiknya. Anda bukanlah seorang istri yang selalu mengeluh dan merasa kurang atas pemberian suami.

Kalau anda seorang ayah yang mencintai istri dan anak-anaknya, katakan tidak akan mengambil sesuatu yang bukan menjadi hak anda dari orang lain, hanya karena tidak tahan mendengar rengekan mereka meminta sesuatu yang tidak sanggup anda berikan.

Kalau anda seorang anak yang mencintai kedua orang tua anda yang telah tiada, katakan tidak akan putus-putusnya anda berdoa untuk mereka karena saat ini hanya itu yang bisa anda berikan untuk mereka yang telah berjasa dalam kehidupan anda, sadarlah anda tidak bisa memutar ulang waktu untuk memperbaiki kesalahan anda terhadap mereka di masa lalu.

Kalau anda seorang anak yang beruntung karena memiliki orang tua yang masih hidup, kalau anda mencintai mereka, katakan tidak akan menyia-nyiakan mereka, berusahalah membahagiakan mereka bukan dengan harta atau perhiasan dunia lainnya karena betapapun besarnya itu tidak akan sanggup untuk menebus jasa dan pengorbanan mereka untuk anda, berilah mereka perhatian dan kasih sayang disisa hidup mereka yang mungkin tidak lama lagi sebagaimana mereka telah mengasihi dan menyayangi anda di waktu kecil.

Kalau anda seorang pejabat yang mencintai jabatan anda, katakan tidak akan melakukan korupsi, kolusi dan segala bentuk upaya memperkaya diri sendiri dengan memanfaatkan jabatan yang anda sandang saat ini, tidakkah anda merasa cukup dengan gaji dan segala fasilitas yang anda peroleh selama ini? Sadarlah bahwa jabatan itu hanya titipan Allah kelak anda akan dimintai pertanggungjawaban.

Kalau anda seorang pejabat yang mencintai bawahan anda, katakan tidak akan bertindak sewenang-wenang terhadap mereka, anda bukanlah type pemimpin yang cenderung menimpakan kesalahan kepada bawahan padahal anda tidak pernah memberikan solusi terhadap suatu permasalahan dalam pekerjaan itu.

Kalau anda seorang guru atau pengajar yang mencintai murid dan pekerjaan anda, katakan tidak akan pernah mengeluh atas segala kekurangan, kenakalan mereka dan segala problematika dalam proses belajar mengajar, kesungguhan dan ketulusan anda dengan dilandasi ibadah karena Allah niscaya akan menambah pundi-pundi amal dan tabungan energi positif anda terlebih jika ilmu yang bermanfaat itu terus menerus diamalkan oleh mereka.

Kalau saya, anda dan kita semua, apapun pekerjaan kita masih mempunyai cinta, katakan tidak akan menjadikan ini hanya sebagai kata-kata, lips service, slogan, simbolis atau hanya perayaan sesaat dan hura-hura. Wujudkan dan tebarkan cinta di setiap langkah kehidupan kita di rumah, di kantor, di sekolah dan di mana saja, jika belum kemarin, mulailah saat ini juga, esok dan seterusnya.

Cinta itu ada 3 macam, pertama mencintai Allah, kedua mencinta karena Allah, ketiga mencintai bersama Allah, seorang arif berkata “Siapa yang cinta kepada Allah maka segala sesuatu akan tampak indah dan menyenangkan” (Ibnul Qayyim al Jauziyyah)
Share