Sabtu, 26 Februari 2011

Seribu Kata Seribu Doa


Suatu pagi di sudut ruang tengah, seorang anak sedang makan dengan lahapnya bersama ayah dan ibunya, ketika tiba-tiba dia tersedak dan memuntahkan sebagian isi makanan dalam mulutnya, ayah seketika menghentikan membaca koran dan berkata “kalau makan pelan-pelan dong ! kamu tahu tidak ? makanan itu dibeli pakai uang dan mencari uang itu susah, ayo dihabiskan makannya !”

Siang harinya giliran ibu yang marah karena mangkuk kesayangannya pecah terkena lemparan bola dari si anak, “ibu sudah berkali-kali bilang, kalau main bola jangan di dalam rumah ! lihat nih berantakan semuanya, dasar anak nakal...”.

Menjelang sore tiba waktunya si anak untuk belajar, sudah dua kali diperintahkan untuk belajar tapi dia masih asyik menonton tv, segera ayah mematikan tv lalu berkata “kamu mau jadi anak bodoh ya ? dasar pemalas !orang yang tidak mau belajar itu bisa jadi bodoh, anak bodoh nanti tidak naik kelas, kalau sekolahnya tidak tinggi nanti cari kerja susah, kalau tidak kerja tidak punya uang dan tidak bisa makan enak, kamu mau begitu ? ayo belajar !”

Dari deskripsi di atas sepanjang pagi hingga sore sudah berapa banyak kata-kata negatif yang diucapkan oleh kedua orang tuanya ? sebut saja : mencari uang itu susah, anak nakal, anak bodoh, anak pemalas, tidak naik kelas, cari kerja susah, tidak punya uang dan tidak bisa makan enak.

Di sekolah, pernah suatu saat ibu guru bertanya sesuatu kepada murid-muridnya, lalu dengan penuh semangat dan keyakinan yang tinggi si anak mengacungkan tangan dan menjawab pertanyaan tersebut dengan lantang, lalu apa yang terjadi ? Teman-teman sekelasnya menertawakannya dan ibu guru berkata “Jawaban kamu salah, ibu heran pertanyaan semudah itu kok kamu tidak bisa menjawab dengan benar, makanya jangan jadi orang yang tergesa-gesa !” Anak itu menjadi sangat malu dihadapan teman-teman dan guru. Bisa jadi keyakinannya mulai terguncang dan benih keraguan mulai tersemai dalam jiwanya, bagi sebagian orang inilah awal terbentuknya citra negatif diri dan belajar menjadi sesuatu yang sangat berat dan tidak menyenangkan.

Sebuah riset yang dilakukan oleh Jack Canfield di tahun 1982 terhadap 100 anak di sejumlah sekolah dasar di USA mengungkapkan bahwa setiap anak dalam sehari rata-rata menerima 460 komentar negatif dan hanya 75 komentar positif yang bersifat mendukung. Ternyata komentar negatif enam kali lebih banyak dari komentar positif, jika dihitung berarti seorang anak rata-rata menerima 3.220 komentar negatif dalam seminggu, 13.800 dalam sebulan dan 167.800 dalam setahun, lalu berapakah umur anak kita sekarang ? sudah berapa banyak kata-kata negatif yang ia terima dari kita?

Umpan balik negatif yang terus menerus dan berkesinambungan sangat berbahaya bagi perkembangan mental anak, bisa jadi setelah dewasa ia akan menjadi orang yang seperti diucapkan oleh orang-orang terhadap dirinya, seperti misalnya mudah menyerah mempelajari sesuatu setelah satu atau dua kali gagal dan keyakinan semakin tertanam bahwa dirinya memang bodoh.

Coba kita perhatikan pada saat anak sedang belajar berjalan, suatu proses belajar yang cukup rumit baik secara fisik maupun mental dan sepertinya mustahil untuk dijelaskan dengan kata-kata atau mendemonstrasikannya. Tapi ternyata si anak bisa melakukannya walaupun berulang kali tersandung dan terjatuh. Mengapa demikian ? Hal ini bisa terjadi karena pada diri si anak tidak mengenal konsep kegagalan, pada saat belajar berjalan ada orang tua yang mendampingi, meyakinkan dan mendorong untuk terus belajar berjalan, setiap keberhasilan selalu diakhiri dengan kegembiraan dan tepukan tangan sehingga memompa semangat si anak untuk lebih berhasil.

Manusia mempunyai dua macam bentuk pikiran. Pertama pikiran sadar yang berfungsi mengidentifikasi informasi yang masuk, membandingkan dengan data yang ada dalam memori kita, menganalisanya dan memutuskan apakah akan disimpan, dibuang atau diabaikan sementara. Kedua adalah pikiran bawah sadar yang mempuyai fungsi jauh lebih komplek, yaitu mengatur cara kerja semua fungsi organ tubuh kita, nilai-nilai yang kita pegang, sistem kepercayaan dan keyakinan terhadap segala sesuatu juga disimpan di sini termasuk memori jangka panjang kita.

Sebuah contoh bahwa pikiran bawah sadar mengendalikan sebagian besar pemikiran dan tindakan kita, bayangkan jika tiba-tiba dihadapan kita dalam jarak yang cukup dekat ada seekor ular kobra yang besar dengan suara yang mendesis, lidah yang menjulur-julur dan tatapan matanya yang tajam ke arah kita. Pasti sebagian besar dari kita akan berteriak dan lari ketakutan. Bagaimana jika sejak kecil kita diberitahu bahwa kobra itu mendatangkan rejeki, orang tua kita bisa sukses dan rumah yang kita tempati ini adalah hasil dari berjualan kobra. Apakah kita akan lari? Pasti tidak dan akan berkata “pucuk dicinta ulam pun tiba, ada rejeki di depan mata...”.

Pikiran bawah sadar tidak bisa menolak apapun yang kita masukkan melalui kelima panca indera, bahkan hal-hal yang tidak kita perhatikan secara sadar akan terekam dalam pikiran bawah sadar. Bagaimana dengan anak-anak kita ? Perhatikanlah apa yang berulang kali kita lakukan, ucapkan dan pikirkan terhadap anak-anak. Itulah yang nantinya akan membentuk mereka, dari bahan dasar ini mereka akan mengembangkan diri mereka melalui pergaulan dengan lingkungan.

Dalam keseharian saya coba untuk mengganti kebiasaan mengucapkan kata-kata negatif terhadap anak-anak dengan kata-kata positif sekecil apapun. Ketika si kecil tidak mau makan, saya katakan “ayo anak cantik dan pintar pasti makannya dihabiskan biar tambah cantik dan pintar...”. Ketika anak malas belajar, saya katakan “kaka kan anak pintar, kalau rajin belajar pasti tambah pintar, papa mama tambah sayang dan tidak segan kasih hadiah...” atau ketika si anak melakukan sesuatu yang kita tidak berkenan : “eee anak pintar, tidak boleh begitu ya...” dst.

Ada perbedaan ketika kita sebenarnya sedang marah lalu mengucapkan kata-kata positif dibandingkan mengucapkan kata-kata negatif. Kata-kata positif ternyata saya rasakan mampu meredam emosi dan membuat kita tambah sabar. Coba bayangkan jika kita mengucapkan kata-kata negatif dengan penuh emosi dan si anak tidak memperdulikannya, pasti kita tambah marah dan bisa jadi jika seseorang yang sempat berucap “dasar anak setan...” atau “dasar anak tak tau diuntung...” berujung pada kekerasan fisik terhadap si anak.

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda: “Tiga orang yang doanya pasti terkabulkan, doa orang yang teraniaya, doa seorang musafir dan doa orang tua terhadap anaknya". Dari Abdullah bin Amr bin Ash, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Ridha Allah bergantung kepada keridhaan orang tua dan murka Allah bergantung kepada kemurkaan orang tua”.

Banyak kisah yang menggambarkan bahwa betapa manjurnya perkataan atau doa ibu atau ayah terhadap anaknya baik yang diucapkan secara sadar maupun tidak, berikut ini adalah salah satu kisahnya.

Seorang ibu tergopoh-gopoh mendatangi anaknya yang menangis sambil menunjuk-nunjuk dengkulnya, terjadilah dialog dalam bahasa Jawa yang artinya kurang lebih sebagai berikut “Ada apa nak kok menangis terus?”, “Ini bu ada kotoran ayam, buang bu!”, ibunya pun segera membuang kotoran yang menempel di dengkul si anak tapi tangis si anak tidak berhenti dan berkata “Kembalikan! Kembalikan!”, lalu ibunya menempelkan kembali kotoran tersebut dan tangis si anak malah semakin keras “Kok tidak sama? Kok tidak sama” sambil tersenyum dan mencari kotoran lainnya, ibu pun bergumam “Ya sudah tidak apa-apa asal besok besar jadi Jendral”

Empat puluh tahun kemudian, seorang anak yang pernah membuat repot ibunya dengan kotoran ayam itu benar-benar menjadi seorang Jendral, dialah Jendral Soebagyo HS mantan Kepala Staf TNI-AD, subhanallah....

Wahai ayah ibu, jagalah lisanmu! Bahwa pada hakekatnya setiap perkataanmu terhadap anakmu adalah doa maka seribu kata kebaikan adalah seribu doa kebaikan dan seribu kata keburukan adalah seribu doa keburukan.
Share

Sabtu, 08 Januari 2011

Amalan Penggugur Dosa & Peninggi Derajat


Suatu hari tak seperti biasanya Rasulullah SAW terlambat ke masjid untuk mengimami sholat Shubuh. Matahari hampir saja terbit, ketika akhirnya beliau datang dengan tergegas dan langsung memimpin sholat dengan bacaan yang cukup pendek untuk mempercepat sholat.

Usai mengucapkan salam, Rasulullah SAW menghadap ke arah para sahabat seraya berkata “ Tetaplah ditempat kalian, aku akan menceritakan mengapa aku terlambat mengimami sholat. Semalam aku terbangun dan setelah usai mengerjakan sholat, aku terserang kantuk yang sangat berat sehingga aku tak kuat menahan dan akhirnya tertidur”.

“Aku bermimpi, tiba-tiba aku merasa berada di hadapan Allah dan bertanya kepadaku,’tahukah apa yang sedang diperbincangkan para malaikat terhadap kalian?’ Kujawab tidak tahu dan pertanyaan itu diulang sampai tiga kali. Kemudian tiba-tiba kedua bahuku terasa dingin dan seketika segalanya tampak jelas serta aku mengetahui jawaban dari pertanyaan tersebut ketika ditanyakan kembali”.

“Aku menjawab, ’mereka berbincang tentang kafarat,
amalan-amalan penghapus dosa’. ’Apakah kafarat tersebut...?’. Jawabku, ‘melangkahkan kaki menuju masjid untuk sholat berjamaah, tetap berdiam setelah sholat untuk berzikir kepada Allah dan tetap menyempurnakan wudhu meski cuaca sedang sulit (cuaca dingin dan panas)’”.

“’Kemudian tentang apa lagi...?’. ’Tentang
amalan yang dapat mengangkat derajat manusia’.’Amalan apa saja?’. Jawabku, ‘menyantuni orang miskin, berkata dengan lembut kepada orang lain serta mengerjakan sholat malam disaat kebanyakan orang sedang terlelap’”.

“Kemudian Allah berkata, ‘mintalah kepada Ku..!’, lalu aku bermohon, ‘Ya Allah, aku mohon kepada Mu segala perbuatan baik, kekuatan meninggalkan kemunkaran, mencintai orang miskin dan agar Engkau senantiasa mengampuni dan merahmatiku. Jika Engkau menghendaki cobaan pada suatu kaum, jagalah diriku agar tidak terkena fitnah. Aku memohon kemampuan mencintai Mu, mencintai orang-orang yang mencintai Mu serta amal-amal yang mendekatkan pada kecintaan Mu’”.

Usai bercerita, Rasulullah SAW bersabda : “ Ini adalah kebenaran maka pelajarilah dan ajarkanlah kepada orang lain”.

Demikianlah, agar senantiasa
dirahmati Allah dan diampuni dosa dan kesalahan kita, dianjurkan untuk memperbanyak sholat berjama’ah dan memperbanyak zikir kepada Allah serta tetap menyempurnakan wudhu. Kemudian untuk meninggikan derajat kita di sisi Allah, perbanyaklah menyantuni orang miskin, berkata dengan lembut kepada orang lain serta senantiasa mengerjakan sholat malam disaat kebanyakan orang sedang terlelap.
Share

Selasa, 21 Desember 2010

PIAGAM KEHIDUPAN

Suatu malam selepas isya berkumpullah satu keluarga ayah, ibu dan ketiga anak mereka di sudut ruang tamu. Di atas sofa tempat mereka duduk, terpajang dengan rapi deretan piagam penghargaan yang diperoleh sang ayah yang hampir memenuhi sudut ruang tersebut. Wajar saja karena sang ayah adalah seorang yang sukses di perusahaannya dan mempunyai jabatan yang cukup tinggi. Sementara di sudut kirinya terpajang pula deretan piagam penghargaan ketiga anak mereka atas prestasi mereka di sekolah maupun beberapa perlombaan yang pernah mereka ikuti.

Tiba-tiba si bungsu berkata dengan penuh semangat “papa... nanti kalau aku tambah besar, pasti piagam yang aku punya akan melebihi papa !”, “ya bagus nak, kalian semua akan menjadi anak-anak yang pintar dan berprestasi seperti papa” jawab sang ayah. Kemudian anak yang lain menimpali “kita semua punya piagam yang banyak, hanya mama nih yang tidak punya...”. Ayah pun menyahut “ya karena mama kamu kan tidak bekerja seperti papa jadi tidak punya piagam “. Mendengar itu sang ibu tertegun sejenak lalu tersenyum seraya memeluk si bungsu serta mengusap-usap kepala kedua anaknya yang lain.

Topik pembicaraan pun berganti, malam itu mereka lalui dengan penuh keceriaan dan senda gurau hingga akhirnya kantuk jualah yang mengantar mereka ke pembaringan masing-masing.

Pagi harinya ayah dan ketiga anaknya mendapati ibunya tengah termenung di ruang tamu sambil memandangi foto keluarga ukuran besar yang terpajang di ruang tamu dan sesekali beralih pandangannya pada sesuatu yang diletakkan di atas lemari kecil persis di bawah foto besar itu.

“Sedang apa ma ...? tanya mereka hampir bersamaan, “Lihatlah di atas lemari itu ! hanya tiga piagam itu yang mama punya...” ujar sang ibu sambil tersenyum penuh arti. Betapa terkejutnya sang ayah ketika mengetahui bahwa benda itu adalah tiga buah Akte Kelahiran atas nama ketiga anak mereka.

Dengan penuh keharuan sang ayah mendekap istrinya sambil berkata “Maafkan papa ma ! kalau ucapan kami semalam membuat mama tersinggung ...”, “Seberapa banyak piagam penghargaan yang papa punya, tidak berarti tanpa ketiga piagam itu, karena mama lah anak-anak bisa memiliki banyak piagam, ma... begitu banyak ibu yang berharap mempunyai piagam itu, tapi belum diberi kesempatan untuk dikabulkan oleh Allah dan tidak sedikit ibu yang berhasil mendapat piagam itu tapi tidak mampu merawat dengan baik hasil dari piagam itu”, “Sekali lagi maafkan papa ma !!, kamulah pemilik piagam sejati itu, kamulah pemilih
PIAGAM KEHIDUPAN itu ....”.

Pagi itu cuaca begitu cerah dan tidak ada mendung sedikitpun pertanda hujan akan turun, tapi pipi mereka dibasahi oleh hujan tangis keharuan dalam pelukkan kebahagiaan.

Sebuah renungan yang menegaskan bahwa IBU adalah pemilik
PIAGAM KEHIDUPAN, yang untuk mendapatkannya dilalui dengan penuh perjuangan dan pengorbanan antara hidup dan mati, sehebat apapun piagam dan penghargaan yang kita dapatkan tidak ada yang pantas untuk kita sombongkan jika mengingat pengorbanan yang telah diberikan untuk kita, terima kasih ibu.

Share

Jumat, 10 Desember 2010

Kemana Arah Kita Melangkah?

Suatu ketika ada tiga orang tukang batu yang sedang menyusun batu bata dengan campuran pasir dan semen dalam proses pembangunan sebuah gedung. Kepada mereka lalu diberikan satu pertanyaan yang sama “Apa yang sedang anda kerjakan?

Tukang yang pertama merasa heran dengan pertanyaan tersebut hingga akhirnya menjawab sambil menghela nafas “ Ya jelas dong, sayang sedang menyusun dan meletakkan batu-bata”.

Sedangkan tukang yang kedua dengan sedikit tersenyum menjawab “Saya sedang mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga saya”.

Lalu tukang yang ketiga dengan berfikir sejenak dan tatapan mata yang menerawang menjawab dengan penuh semangat “Saya sedang membangun sebuah masjid yang megah dan indah, dan suatu saat nanti akan ramai dikunjungi orang-orang yang beribadah dan nama Allah akan dimuliakan di tempat ini”.

Tak ada yang salah dengan jawaban ketiga orang tersebut, tukang yang pertama memberi jawaban yang realistis, memang benar dia sedang bekerja meletakkan batu bata, itulah rutinitas pekerjaannya dan jawaban tersebut menggambarkan perasaan lelah dan membosankan.

Tukang yang kedua memberi jawaban yang pragmatis, dia menyadari bahwa bekerja menyangkut urusan hidup, setiap orang perlu makan dan minum untuk hidup sehingga untuk itu dia bekerja agar mendapat upah yang dapat digunakan untuk menghidupi dia dan keluarganya.

Tukang yang ketiga memberi jawaban yang idealis dan mempunyai visi yang jauh ke depan. Dia menyadari bahwa pekerjaannya bukan hanya sekedar meletakkan batu bata dan bukan pula sekedar mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya, dia mampu melihat bahwa dirinya sebagai bagian dari suatu pekerjaan yang besar dan mulia karena akan memberi manfaat bagi orang banyak, tidak hanya bagi diri dan keluarganya.

Kebanyakan orang hanya berfikir seperti tukang yang pertama dan kedua sehingga merasa bahwa pekerjaan kita sebagai rutinitas yang membebani kita, membosankan dan melelahkan, pandangan hidup pun menjadi sempit.

Jadilah orang yang memiliki rumusan visi yang jelas, ke mana arah tujuan hidup kita, yakinlah bahwa kita mempunyai visi, harapan atau impian yang mulia dan yakinkan pula bahwa kita mampu mewujudkannya dalam hidup dan kehidupan ini.

Share

Kamis, 01 April 2010

Malam Panjang Penuh Bintang


Dinginnya tetesan air AC yang membasahi wajah membuat saya terbangun dari tidur, dengan reflek pandangan saya tertuju pada jam dinding dan seketika saya teringat bahwa malam ini belum melakukan sholat Isya.

Malam ini saya pulang kantor agak telat, jam setengah sembilan lewat sehabis mandi saya lebih memilih untuk bercengkrama sebentar dengan anak-anak sebelum menemani mereka tidur. Hujan deras yang turun sejak jam delapan tadi di iringi dengan irama gemericik air hujan yang jatuh di atas genting, rupanya menjadi pengantar tidur yang baik sehingga dengan cepat meninabobokan kami.

Jam tiga dinihari ini saya sempatkan melihat keluar rumah, pekarangan dan jalan di depan rumah yang basah mengisyaratkan bahwa hujan belum lama reda dan entah mengapa saya tergerak untuk menengadah ke atas, mungkin karena pohon mangga di halaman baru saja ditebang sehingga pandangan saya lebih leluasa.

Sejenak saya pandangi langit, oh rupanya langit malam ini begitu cerah dengan bulan terlihat nyaris penuh dan taburan bintang-bintang yang berkerlap-kerlip memenuhi cakrawala pandangan saya.

Ingatan saya menerawang ke masa kecil yang begitu mengagumi pemandangan langit di malam hari dengan segudang pertanyaan, mengapa bulan kadang terlihat bulat penuh dan dilain waktu tinggal separuh, mengapa bintang berkerlap-kerlip dan berapakah jumlahnya, mengapa bulan dan bintang tidak menampakkan dirinya disiang hari dan seterusnya.

Kini saya mengetahui bahwa ternyata bintang-bintang itu seperti matahari di tata surya kita, karena jaraknya yang sangat jauh dari bumi maka ia terlihat sangat kecil dan cahayanya terlihat berkerlap-kerlip padahal banyak bintang yang ukurannya 10 kali atau 100 kali ukuran matahari bahkan ada yang ukurannya 1500 kali matahari sedangkan matahari hanya 200 kali ukuran bumi.

Setiap 100 milyar bintang membentuk gugusan bintang yang disebut galaksi dan setiap 100 milyar galaksi membentuk gugusan galaksi yang disebut superkluster dan seterusnya sehingga belum diketahui pasti batas dari alam semeta ini.

Berapakah jarak bintang dengan bumi? Informasi ilmuwan astronomi menyatakan bahwa jarak bintang yang paling dekat berkisar 8 tahun cahaya maka jika kita hitung dengan kecepatan cahaya 300.000 km/detik, jarak bintang itu sekitar 75 trilyun km, subhanallah... suatu jarak yang tak pernah terbayangkan.

Jadi sesungguhnya malam ini pada saat yang bersamaan saya sedang melihat berbagai peristiwa di masa lalu, ya karena saya sedang melihat bintang 8 tahun yang lalu (karena cahaya bintang itu menempuh perjalanan 8 tahun cahaya untuk sampai ke bumi sehingga bisa terlihat oleh kita), 10 tahun yang lalu atau bisa jadi 100 dan 1000 tahun yang lalu, subhanallah...

Pengamatan melalui teleskop raksasa Hubble, para ilmuwan mengetahui bahwa bintang-bintang dan semua benda langit ternyata semuanya sedang bergerak saling menjauh kesegala arah, berati dulunya berjarak lebih dekat dan dulunya lagi berjarak lebih dekat lagi sampai pada suatu waktu dahulu benda langit tersebut berkumpul pada suatu titik yang sama alias berhimpit atau padu. Inilah yang mendasari teori “Big Bang” atau teori “Ledakan Besar”. Ledakan yang maha dahsyat telah melontarkan material dan energi sehingga secara berangsur-angsur terciptalah benda-benda langit tersebut.

Ternyata informasi tentang penciptaan langit dan bumi serta segala benda langit lainnya sudah dinyatakan dalam Al Qur’an surat 21 Al Anbyaa (30) : “Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya....”. Subhanallah.....

Saya segera berwudlu dan melaksanakan sholat, bintang-bintang di atas sana seakan turut menjadi saksi dan entah mengapa saya merasa sedang diperhatikan oleh para malaikat bahwa jam 3 dinihari ini saya baru melaksanakan sholat Isya yang tertunda dan saya baru saja menyaksikan sebagian tanda-tanda kebesaran Allah SWT tapi apakah saya termasuk orang-orang seperti yang dimaksud dalam ayat berikut : “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (Qs. Ali Imran : 190-191).

Ampunilah hambamu ini ya Allah yang dengan segala kesombongannya merasa menjadi orang paling sibuk padahal Engkaulah yang maha sibuk lagi tidak tidur untuk mengatur bermilyar-milyar benda langit di alam semesta ini. Seringkali hamba lalai dari mengingat Mu. Ketika adzan Zhuhur bergema kami mendahulukan untuk mengisi perut, ketika waktu Ashar tiba kami masih sibuk bekerja rapat ini dan rapat itu, ketika Maghrib menjelang kami masih diperjalanan, ketika Isya tiba kami masih beristirahat dan ketika adzhan Shubuh berseru kami masih dibalik selimut, pantaskah surga untuk kami ya Allah ? Ya Allah jauhkanlah kami dari siksa neraka.

Sholat Isya telah dilaksanakan lalu tidur lagi...? Tunggu dulu... saya teringat dengan sindiran Rasulullah SAW : “Sesungguhnya malam itu panjang janganlah kau perpendek dengan tidurmu....” Ya Allah sudah berapa lama hamba tak sempat mendirikan sholat Tahajjud. Semoga malam ini menjadi permulaan kembali bagi hamba Mu untuk memperpanjang malam dengan sholat Tahajjud disepertiga malam yang akhir.
Share