Minggu, 28 Agustus 2011

Pura-pura Tuli, Pura-pura Tidak Tahu


Ada perasaan kagum sekaligus bercampur malu terhadap diri ini ketika saya membaca kisah seorang tabi’in shalih yang bernama Abu Abdurrahman Hatim bin Unwan atau lebih dikenal dengan nama Hatim al Asham.

Kisah ini bermula ketika suatu hari beliau didatangani seorang wanita yang bermaksud menanyakan sesuatu. Tanpa disengaja wanita itu tiba-tiba buang angin (maaf : kentut). Hatim tidak ingin tamunya menjadi malu karena hal tersebut, kemudian beliau mencoba menutupinya dengan mengatakan, “Berbicaralah dengan keras, karena pendengaranku kurang tajam.” Wanita itupun senang dan tidak salah tingkah karena mengira Hatim tidak mendengarnya.

Sejak saat itu, kira-kira lima belas tahun selama wanita itu masih hidup, Hatim berpura-pura memiliki pendengaran yang kurang normal. Hal ini dimaksudkan agar tidak ada seorang pun yang bercerita kepada wanita itu bahwa sesungguhnya beliau tidak tuli.

Setelah wanita tersebut meninggal dunia, barulah Hatim dengan mudah menjawab kepada siapa pun yang bertanya. Tapi karena sudah terbiasa, beliau selalu berkata, “Bicaralah lebih keras!” Itulah sebabnya orang-orang biasa memanggilnya dengan sebutan Hatim al Asham atau Hatim si tuli.

Kekaguman saya terhadap Hatim al Asham karena kelapangan hatinya yang luar biasa, sikap berpura-pura tidak tahu atas kekeliruan yang tidak sengaja dilakukan orang lain, sikap toleran dan memaklumi kesalahan yang tidak direncanakan yang tidak berakibat buruk terhadap orang banyak. Sikap tersebut biasa disebut dengan istilah taghaful yaitu sikap seseorang yang tahu dan mengerti tentang sesuatu namun menampakkan dirinya seolah-olah tidak tahu (mengabaikan).

Perasaan malu yang menghinggapi diri ini karena terkadang saya tertawa atas kesalahan kecil yang tak sengaja dilakukan orang lain. Berlaku tidak seimbang dalam menilai orang, menghapus semua kebaikan yang pernah dilakukan dan hanya memikirkan serta membesar-besarkan kesalahannya.

Termasuk sikap taghaful adalah seperti yang ditunjukkan oleh Atha bin Rabah, seorang ulama dan ahli hadits. Pernah suatu ketika seseorang datang kepadanya menyampaikan sebuah hadits Rasulullah SAW. Beliau diam dan mendengarkan hadits itu dengan baik, seolah belum pernah mendengarnya kecuali dari yang diucapkan pemuda tersebut. Padahal hadits itu sudah didengar dan dihafalnya sejak sebelum pemuda itu lahir.

Saya pun sangat terkesan dengan sikap taghaful dari komandan perang Qutaibah bin Muslim al Bahily yang kedatangan seorang pemuda untuk menyampaikan sesuatu kepadanya. Ketika pemuda itu duduk menghadap dan meletakkan pedangnya yang masih terhunus, tanpa sengaja ketajaman pedang itu melukai jari kaki Quthaibah sehingga berdarah. Pemuda itu tidak tahu karena Quthaibah berusaha diam dan terus mendengarkan permasalahan yang disampaikan kepadanya. Setelah urusan pemuda itu selesai, mengucapkan terima kasih dan pergi, barulah Quthaibah meminta sapu tangan untuk membersihkan darah dari jari kakinya. “Mengapa tidak engkau sampaikan saja pada pemuda itu wahai Quthaibah?” tanya seorang sahabatnya. “Aku takut ucapan itu akan menghalanginya dari menyampaikan keperluannya” jawab Quthaibah.

Sungguh luar biasa, seperti inilah akhlak dan sikap seorang pemimpin yang shalih. Dengan kedudukannya sebagai komandan, dimungkinkan dan boleh untuk sekadar mengingatkan pemuda itu, tapi hal ini tidak dilakukannya. Bahkan menggeser kakinya agar tidak terlalu lama terkena ujung pedang, itupun tidak dilakukannya.

Ya Allah jadikanlah hamba-Mu ini dapat mengambil pelajaran dan meniru sikap taghaful dari orang-orang shalih terdahulu agar dengan segala kerendahan hati, mampu bersikap toleran, mudah memaafkan, lapang dada, ringan memaklumi kekeliruan orang lain selama kekeliruan itu tidak menentang kebenaran mutlak dari Allah dan Rasulullah SAW, amin.
Share

Jumat, 24 Juni 2011

Perginya Lelaki Bersahaja Itu


Ketika hujan turun dengan tiba-tiba tanpa didahului dengan awan mendung yang memberi isyarat, tak ada petir yang memberi pertanda dan tak ada angin yang mengabarkan tentu membuat sebagian orang panik dan terkejut, demikian pula halnya ketika seseorang secara tiba-tiba pergi untuk selama-lamanya meninggalkan dunia yang fana ini, pasti menyisakan duka yang mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan dan beragam penyesalan karena merasa belum siap untuk ditinggalkan.

Allah sudah menegaskan bahwa “Setiap yang berjiwa akan merasakan mati...”, cepat atau lambat, siap atau tidak siap kita harus mempersiapkan diri dengan bekal amal kebaikan sebanyak mungkin. Meski kepergian seseorang terkadang tanpa memberikan pertanda tetapi pasca kepergiannya terkadang meninggalkan jejak yang menunjukkan bagaimana amal perbuatannya selama hidup di dunia ini seperti halnya kisah berikut ini.

Adalah ayahanda tercinta dari istri saya, tokoh yang cukup dikenal dan dihormati di seantero komplek perumahan kami. Bisa jadi keterkenalan tersebut karena beliau adalah mantan pejabat dengan posisi jabatan terakhir cukup tinggi dan pada masa pensiunnya beliau masih aktif sebagai pengurus pada yayasan pensiun.

Kami sebagai anaknya yang bertempat tinggal kurang lebih 600 meter dari rumah beliau, terkadang ikut merasakan perlakuan “istimewa” dari orang-orang sekitar komplek. Pernah suatu ketika istri saya berbelanja pada tukang gerobak sayur yang biasa mangkal di seberang rumah kami, cukup ramai yang berbelanja saat itu tapi istri saya selalu didahulukan untuk dilayani dan perlakuan yang sama juga sering kami alami ketika membeli sesuatu di warung sebelah rumah. Ketika kami sedang berjalan di sebuah gang seringkali mendapatkan tegur sapa dan senyum ramah dari orang di depan rumah yang kami lewati demikian halnya senyum ramah dari beberapa tukang becak yang kebetulan berpapasan dengan kami.

Suatu hari kami dikejutkan oleh kabar bahwa beliau tiba-tiba pingsan ketika sedang rapat di kantor yayasan pensiun dan tak lama berselang menghembuskan nafasnya yang terakhir di rumah sakit terdekat. Isak tangispun pecah, beliau wafat meninggalkan kami untuk selama-lamanya tanpa kami bisa mencegah atau menundanya sedetik pun.

Terdengar pengumuman di masjid yang mengabarkan perihal meninggalnya beliau. Awalnya penyampaiannya berjalan dengan lancar, namun ketika pengumuman diulang untuk yang kedua kalinya, terdengar si penyampai berita menyampaikannya dengan terbata-bata menahan isak tangis. Mungkin orang tersebut adalah teman almarhum sesama jama’ah masjid yang merasa kehilangan dengan kepergiannya.

Rumah beliaupun ramai dan tak henti-hentinya dikunjungi oleh orang-orang yang datang silih berganti untuk bertakziah dan menyampaikan belasungkawa. Saya sempat terkejut ketika mengetahui dari tetangga bahwa diantara orang-orang yang datang ada beberapa tukang ojek yang biasa mangkal di ujung jalan itu, hansip dan tukang sayur yang biasa mangkal di seberang rumah kami serta tukang becak yang sering hilir-mudik di komplek pun datang. Anak saya juga mengatakan bahwa ternyata tukang odong-odong yang biasa keliling komplek juga datang.

Usai dimandikan dan dikafani, jenazah dibawa ke masjid untuk disholati dan karena sedikit terlambat masuk masjid, sayapun kebagian shaf (baris) paling belakang. Berdiri disamping kiri saya seorang lelaki kurus tinggi ikut mensholati jenazah dan betapa terkejutnya saya usai sholat ketika melihat lelaki yang tadi berdiri disamping saya sudah mengenakan rompi dan tas yang diselempangkan di pundak, ternyata dia adalah penjaja koran yang biasa menjadi langganan almarhum.

Malam harinya saya sempat pulang ke rumah sebentar dan mampir untuk membeli bubur ayam yang biasa mangkal di depan masjid. Tukang bubur memulai percakapan “Nggak sangka ya mas, pak Haji sudah nggak ada ! Padahal baru kemarin malam lewat sini”. Saya pun hanya tersenyum kecil, lalu tukang bubur melanjutkan ceritanya “Pak Haji cuma bilang sama saya, ayo mas mari pulang sudah mau hujan nih...”.

Dari sini dan beberapa kejadian sebelumnya, saya bisa menarik kesimpulan bahwa banyak orang yang menaruh hormat kepada beliau bukan karena ketinggian jabatan yang pernah diembannya tetapi lebih dikarenakan kerendahan hati dan kesederhanaan beliau. Kerendahan hati itu ditunjukkannya dengan keramahan dan tak segan untuk menegur sapa terlebih dahulu kepada siapa saja yang dijumpainya tanpa memandang status sosial atau kedudukan seseorang.

Kehidupan beliau terlihat begitu kontras dengan kisah-kisah beberapa orang yang semasa hidupnya begitu dihormati dan ditakuti karena jabatan atau kekuasaan yang diembannya tetapi ketika orang itu turun dari jabatannya, banyak orang yang “Bertepuk tangan” karena merasa terbebas dari tekanan yang sekian lama mereka rasakan . Dimasa pensiunnya, beberapa mantan bawahannya tidak menaruh hormat lagi kepadanya bahkan hanya sekedar berpapasan dan bertegur sapa, jika ada kesempatan untuk menghindar, mereka akan melakukannya. Lalu jika orang tersebut wafat, masih banyakkah orang yang peduli ?

Hidup adalah sebuah pilihan, apakah kita ingin menjadi orang yang dihormati ketika hidup di dunia dan tetap dihormati dan dikenang orang setelah kita di alam kubur karena kerendahan hati dan kebaikan kita kepada sesama ataukah sebaliknya?

Robbana atina fiddunya hasanah wa fil akhiroti hassanah wa qina adza bannar “. Ya Allah berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan jagalah kami dari siksa api neraka.

Share

Sabtu, 26 Maret 2011

Ketika Memasuki Usia Empat Puluh Tahun

Banyak orang yang terperanjat bahwa ternyata saat ini dia telah memasuki usia 40 tahun, sebagian ada yang berhitung target apa yang sudah diraih dan apa yang belum tercapai dalam hidupnya kemudian memikirkan langkah apa yang akan dilakukan selanjutnya tetapi tidak sedikit pula yang tidak menyadarinya karena sibuk dengan impian-impiannya atau tengah terbuai dalam manisnya kesuksesan.

Ketika memasuki usia 40 tahunan, manusia secara fisiologis mulai mengalami penurunan , tidak sekuat usia 30 atau 20 tahunan, uban mulai tumbuh, pantangan dan kelemahan mulai tampak. Di sisi lain fase kearifan hidup dimulai, kematangan pengalaman, baik buruk, jalur, rambu dan lapis-lapis kehidupan sudah begitu transparan bagi mata batinnya, fase fisik sudah dilalui dan bukan pula fase coba-coba.

Maka dapat dipahami jika Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama yang menandai dimulainya misi kenabiannya ketika beliau berusia 40 tahun. Allah pun secara khusus menyebut angka usia 40 tahun dalam sebuah ayat yang menjelaskan kewajiban seorang anak berbakti kepada ibu bapaknya “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai, berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (Qs 46 : Al Ahqaaf ayat 15).

Allah mengajarkan kepada manusia doa kesadaran akan peran masa lalu (ibu- bapak), kesadaran untuk mensyukuri begitu banyak nikmat yang telah Allah berikan termasuk kenikmatan yang telah diberikan melalui kasih sayang kedua orang tua kita.

Allah mengajarkan pula doa tentang masa kini (diri sendiri) yang berisi permohonan agar bisa lebih giat dan kuat untuk menjalani amal-amal shalih untuk mendapatkan ridha Allah.

Kemudian doa yang berisi pengharapan masa depan (untuk anak-cucu), doa yang dilandasi kesadaran akan tanggung jawab terhadap anak dan cucu yang juga akan menjalani kehidupan seperti yang dialaminya, kesadaran bahwa kelak anak dan cucu tidak mungkin selalu kita dampingi dan arahkan jejak langkahnya.

Inilah doa penuh permohonan, kesyukuran, dan pertobatan yang perlu dilantunkan secara khusyuk dan sepenuh jiwa oleh siapa pun yang punya kesadaran akan usia, posisi, peran, peluang serta hakikat kehidupannya.

Imam Al Ghazali pernah mengatakan “Barangsiapa yang telah melampui usia 40 tahun sedangkan kebaikannya tidak dapat mengalahkan kejahatannya, maka hendaklah dia mempersiapkan dirinya untuk masuk ke dalam neraka”.

Imam Syafi'i setelah mencapai umur 40 tahunan, berjalan dengan menggunakan sebatang tongkat kayu. Ketika ditanya sebabnya, ia berkata "Supaya aku sentiasa ingat bahwa aku adalah seorang musafir yang sedang berjalan menuju akhirat."

Usia 40 tahun adalah saat dimana peran-peran besar sedang dimulai karena dalam keyakinan Islam kita, usia berapapun tak pernah boleh menjadikan seseorang merasa lebih lemah untuk melakukan kebaikan. Imam Ahmad dalam usia renta ditanya, ”Sampai kapan engkau akan menulis hadits?” Kemudian jawabnya, ”Sampai mati.”

Usia seseorang sepenuhnya menjadi rahasia Allah bahwa kematian bisa datang kapan saja dan di mana saja maka berhati-hatilah. Mari kita segera merubah diri menuju kebaikan, mumpung kita masih diberi WAKTU & KESEMPATAN untuk mengumpulkan cukup amal kebaikan sebagai bekal untuk bertemu dengan Allah di hari penghisaban nanti.

Ijinkan saya meminjam catatan syair Ebiet G. Ade “Kita meski bersyukur bahwa kita masih di beri waktu, entah sampai kapan tak ada yang dapat menghitung, hanya atas kasih Nya, hanya atas kehendak Mu, kita masih bertemu matahari, kepada rumput ilalang, kepada bintang gemintang, kita dapat mencoba meminjam catatannya, sampai kapan kita berada, waktu yang masih tersisa, semuanya menggeleng, semuanya terdiam, semuanya menjawab tak mengerti, yang terbaik hanyalah segeralah bersujud, mumpung kita masih diberi waktu.”
Share

Sabtu, 19 Maret 2011

Dan Bulan Pun Telah Terbelah Dua


Engkau laksana bulan tinggi di atas kayangan, hatiku telah kau tawan hidupku tak karuan, mengapa ku disiksa, mengapa kita bersua, berjumpa dan bercinta tetapi menderita.

Entah sudah berapa banyak puisi dan lagu yang menggunakan bulan sebagai kiasan untuk menggambarkan kecantikan atau perasaan cinta seseorang, bahkan tidak jarang bulan kerap dijadikan sebagai saksi untuk membuktikan ketulusan cinta. Lantas ketika bulan terbelah menjadi dua dalam arti yang sesungguhnya bukan kiasan, siapakah yang menjadi saksi? Apakah mereka mempercayainya? Berikut ini adalah kisahnya.

Peristiwa terbelahnya bulan terjadi pada masa Nabi Muhammad SAW sebelum hijrah dari Mekah ke Madinah. Suatu ketika orang-orang Quraisy dengan nada mengejek berkata : “Wahai Muhammad kalau engkau benar Nabi dan Rasul, coba tunjukkan kepada kami satu kehebatan yang bisa membuktikan kenabian dan kerasulanmu!” Lantas Rasulullah bertanya “Apa yang kalian inginkan?” dan mereka menjawab “coba belah rembulan...!”. Rasulullah bertanya: “Apakah kalian akan masuk Islam jika aku sanggup melakukannya?” dan mereka menjawab, “Ya.”

Rasulullah berdiri dan terdiam sambil berdo’a kepada Allah agar menolongnya, atas petunjuk Allah, Rasulullah mengarahkan telunjuknya ke bulan dan terbelahlah bulan dengan sebenar-benarnya dan demikian jauh jarak belahan bulan itu sehingga gunung Hira nampak berada diantara keduanya. Bukannya percaya, orang-orang itu serta merta berkata “Muhammad engkau benar-benar telah menyihir kami...”, padahal mereka menyaksikan pembelahan bulan dengan seksama.

Mereka berpendapat bahwa sihir bisa saja menyihir orang yang ada disekitar sang penyihir tetapi tidak bisa menyihir orang yang ada di tempat lain. Lalu mereka pun menunggu orang-orang yang akan pulang dari perjalanan.

Mereka pun bergegas keluar ke batas kota Mekah, menunggu orang-orang yang baru pulang dari perjalanan. Ketika datang rombongan yang pertama kali menuju Mekah, mereka bertanya “Apakah kalian melihat sesuatu yang aneh dengan bulan?” Mereka menjawab, “Ya benar, pada suatu malam yang lalu kami melihat bulan terbelah menjadi dua dan saling menjauh kemudian bersatu kembali…”

Mendengar hal itu sebagian dari mereka lalu beriman tetapi sebagian lagi tetap ingkar, karena itu Allah menurunkan ayat-Nya “Telah dekat (datangnya) saat itu dan telah terbelah bulan. Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat sesuatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata: "(ini adalah) sihir yang terus menerus". Dan mereka mendustakan (Nabi) dan mengikuti hawa nafsu mereka, sedang tiap-tiap urusan telah ada ketetapannya.” (Qs.Al Qamar/Bulan : 1-3).

Bukti lain bahwa bulan pernah terbelah dan disaksikan oleh orang lain di tempat yang berbeda terdokumentasikan dalam sebuah manuskrip (naskah) tua di perpustakaan India, London dengan nomor Arabic : 2807, 152-173 yang dikutip di buku “Muhammad Rasulullah” oleh M. Hamidullah, diceritakan bahwa seorang raja dari Malabar (India) yang bernama Cakrawati Farmas juga telah menyaksikan peristiwa terbelahnya bulan. Kemudian dari sekumpulan pedagang muslim yang singgah di Malabar, raja mengetahui bahwa peristiwa terbelahnya bulan itu adalah Mukjizat dari seorang Rasul di Mekah yang bernama Muhammad dan setelah mempelajari hal tersebut (Raja tahu bahwa kitab ramalan masa depan Hindu “Bhavisya Puran” meramalkan akan adanya utusan dari daerah berpasir yang mampu membelah bulan). Raja lalu menugaskan anak lelakinya sebagai pemimpin dan raja pergi untuk menemui utusan itu. Dia memeluk agama Islam di tangan Nabi Muhammad SAW, tapi sayang ketika pulang ke negerinya, raja wafat di pelabuhan Zafar – Yaman.

Selain itu, sejarah India kuno yang pada waktu peristiwa itu belum mengenal Islam telah mencatat peristiwa bulan terbelah. Sayyid Mahmud Syukri al-Alusi, dalam bukunya Ma Dalla 'Alaihi Al-Qur'an, mengutip dari buku Tarikh al-Yamini bahwa dalam sebuah penaklukan yang dilakukan oleh Sultan Mahmud bin Sabaktakin al-Ghaznawi terhadap sebuah kerajaan yang masih menganut paganisme di India ia menemukan lempengan batu di dalam sebuah istana taklukan. Pada lempengan tersebut terpahat tulisan, "Istana ini dibangun pada malam terbelahnya bulan, dan peristiwa itu mengandung pelajaran bagi orang yang mengambil pelajaran."

Ibn Katsir dalam al-Bidayah wa al-Nihayah vol. 3 hal. 130, juga menyebutkan adanya riwayat dari India yang menceritakan tentang terbelahnya bulan. Juga dalam Mustadrak al-Hakim vol. 4 hal. 150 menyebutkan riwayat tentang kedatangan raja India dan pertemuannya dengan Nabi Muhammad SAW. Abu Said al-Khudri ra berkata: "Raja India memberikan hadiah seguci jahe pada Nabi Muhammad SAW. Para sahabat memakannya sepotong-potong. Aku juga turut memakannya".

Di internet banyak beredar foto dari NASA yang diambil oleh awak Apollo 10 dari jarak sekitar 14 km di atas permukaan bulan pada tahun 1969 yang memperlihatkan permukaan bulan seperti pernah terbelah dan membentuk suatu garis sepanjang ratusan kilometer. Benar atau tidaknya hal tersebut masih membutuhkan penelitian dan pembuktian ilmiah lebih lanjut.

Bisa jadi suatu saat nanti manusia dengan kekuatannya (ilmu dan pengetahuan) mampu melakukan pendaratan kembali ke bulan dan melakukan eksplorasi lebih jauh tentang bulan sehingga jejak (bekas) bahwa bulan pernah terbelah dapat dibuktikan secara ilmiah. “Hai jemaah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan” (Qs. Ar Rahmaan : 33).

Tanda-tanda (mukjizat) yang diberikan Allah, untuk memperkuat para rasul Nya dan sebagai pertolongan atas mereka, menunjukkan dengan pasti akan keberadaan Allah SWT yang maha perkasa dan maha kuasa atas segala sesuatu.

Saya sebagai muslim mempercayai peristiwa terbelahnya bulan karena memang benar termaktub dalam Al Qur’an dan hadist Rasulullah SAW, kalaupun masih ada yang tidak percaya, jangankan jaman sekarang, pada masa Rasulullah SAW yang menyaksikan langsung peristiwa tersebut saja masih ada yang tidak percaya, apalagi saat ini. Tapi sekali lagi hal ini semakin membuktikan kebenaran Al Qur’an itu sendiri tentang adanya sebagian orang yang mendustakan suatu kebenaran seperti yang dimaksud dalam surat Al Qamar tersebut di atas.

Percaya atau tidak, selanjutnya terserah anda.

“Ambilkan bulan bu, yang slalu bersinar di langit... ambilkan bulan bu, untuk menerangi tidurku yang lelap di malam gelap.....
Share

Sabtu, 26 Februari 2011

Seribu Kata Seribu Doa


Suatu pagi di sudut ruang tengah, seorang anak sedang makan dengan lahapnya bersama ayah dan ibunya, ketika tiba-tiba dia tersedak dan memuntahkan sebagian isi makanan dalam mulutnya, ayah seketika menghentikan membaca koran dan berkata “kalau makan pelan-pelan dong ! kamu tahu tidak ? makanan itu dibeli pakai uang dan mencari uang itu susah, ayo dihabiskan makannya !”

Siang harinya giliran ibu yang marah karena mangkuk kesayangannya pecah terkena lemparan bola dari si anak, “ibu sudah berkali-kali bilang, kalau main bola jangan di dalam rumah ! lihat nih berantakan semuanya, dasar anak nakal...”.

Menjelang sore tiba waktunya si anak untuk belajar, sudah dua kali diperintahkan untuk belajar tapi dia masih asyik menonton tv, segera ayah mematikan tv lalu berkata “kamu mau jadi anak bodoh ya ? dasar pemalas !orang yang tidak mau belajar itu bisa jadi bodoh, anak bodoh nanti tidak naik kelas, kalau sekolahnya tidak tinggi nanti cari kerja susah, kalau tidak kerja tidak punya uang dan tidak bisa makan enak, kamu mau begitu ? ayo belajar !”

Dari deskripsi di atas sepanjang pagi hingga sore sudah berapa banyak kata-kata negatif yang diucapkan oleh kedua orang tuanya ? sebut saja : mencari uang itu susah, anak nakal, anak bodoh, anak pemalas, tidak naik kelas, cari kerja susah, tidak punya uang dan tidak bisa makan enak.

Di sekolah, pernah suatu saat ibu guru bertanya sesuatu kepada murid-muridnya, lalu dengan penuh semangat dan keyakinan yang tinggi si anak mengacungkan tangan dan menjawab pertanyaan tersebut dengan lantang, lalu apa yang terjadi ? Teman-teman sekelasnya menertawakannya dan ibu guru berkata “Jawaban kamu salah, ibu heran pertanyaan semudah itu kok kamu tidak bisa menjawab dengan benar, makanya jangan jadi orang yang tergesa-gesa !” Anak itu menjadi sangat malu dihadapan teman-teman dan guru. Bisa jadi keyakinannya mulai terguncang dan benih keraguan mulai tersemai dalam jiwanya, bagi sebagian orang inilah awal terbentuknya citra negatif diri dan belajar menjadi sesuatu yang sangat berat dan tidak menyenangkan.

Sebuah riset yang dilakukan oleh Jack Canfield di tahun 1982 terhadap 100 anak di sejumlah sekolah dasar di USA mengungkapkan bahwa setiap anak dalam sehari rata-rata menerima 460 komentar negatif dan hanya 75 komentar positif yang bersifat mendukung. Ternyata komentar negatif enam kali lebih banyak dari komentar positif, jika dihitung berarti seorang anak rata-rata menerima 3.220 komentar negatif dalam seminggu, 13.800 dalam sebulan dan 167.800 dalam setahun, lalu berapakah umur anak kita sekarang ? sudah berapa banyak kata-kata negatif yang ia terima dari kita?

Umpan balik negatif yang terus menerus dan berkesinambungan sangat berbahaya bagi perkembangan mental anak, bisa jadi setelah dewasa ia akan menjadi orang yang seperti diucapkan oleh orang-orang terhadap dirinya, seperti misalnya mudah menyerah mempelajari sesuatu setelah satu atau dua kali gagal dan keyakinan semakin tertanam bahwa dirinya memang bodoh.

Coba kita perhatikan pada saat anak sedang belajar berjalan, suatu proses belajar yang cukup rumit baik secara fisik maupun mental dan sepertinya mustahil untuk dijelaskan dengan kata-kata atau mendemonstrasikannya. Tapi ternyata si anak bisa melakukannya walaupun berulang kali tersandung dan terjatuh. Mengapa demikian ? Hal ini bisa terjadi karena pada diri si anak tidak mengenal konsep kegagalan, pada saat belajar berjalan ada orang tua yang mendampingi, meyakinkan dan mendorong untuk terus belajar berjalan, setiap keberhasilan selalu diakhiri dengan kegembiraan dan tepukan tangan sehingga memompa semangat si anak untuk lebih berhasil.

Manusia mempunyai dua macam bentuk pikiran. Pertama pikiran sadar yang berfungsi mengidentifikasi informasi yang masuk, membandingkan dengan data yang ada dalam memori kita, menganalisanya dan memutuskan apakah akan disimpan, dibuang atau diabaikan sementara. Kedua adalah pikiran bawah sadar yang mempuyai fungsi jauh lebih komplek, yaitu mengatur cara kerja semua fungsi organ tubuh kita, nilai-nilai yang kita pegang, sistem kepercayaan dan keyakinan terhadap segala sesuatu juga disimpan di sini termasuk memori jangka panjang kita.

Sebuah contoh bahwa pikiran bawah sadar mengendalikan sebagian besar pemikiran dan tindakan kita, bayangkan jika tiba-tiba dihadapan kita dalam jarak yang cukup dekat ada seekor ular kobra yang besar dengan suara yang mendesis, lidah yang menjulur-julur dan tatapan matanya yang tajam ke arah kita. Pasti sebagian besar dari kita akan berteriak dan lari ketakutan. Bagaimana jika sejak kecil kita diberitahu bahwa kobra itu mendatangkan rejeki, orang tua kita bisa sukses dan rumah yang kita tempati ini adalah hasil dari berjualan kobra. Apakah kita akan lari? Pasti tidak dan akan berkata “pucuk dicinta ulam pun tiba, ada rejeki di depan mata...”.

Pikiran bawah sadar tidak bisa menolak apapun yang kita masukkan melalui kelima panca indera, bahkan hal-hal yang tidak kita perhatikan secara sadar akan terekam dalam pikiran bawah sadar. Bagaimana dengan anak-anak kita ? Perhatikanlah apa yang berulang kali kita lakukan, ucapkan dan pikirkan terhadap anak-anak. Itulah yang nantinya akan membentuk mereka, dari bahan dasar ini mereka akan mengembangkan diri mereka melalui pergaulan dengan lingkungan.

Dalam keseharian saya coba untuk mengganti kebiasaan mengucapkan kata-kata negatif terhadap anak-anak dengan kata-kata positif sekecil apapun. Ketika si kecil tidak mau makan, saya katakan “ayo anak cantik dan pintar pasti makannya dihabiskan biar tambah cantik dan pintar...”. Ketika anak malas belajar, saya katakan “kaka kan anak pintar, kalau rajin belajar pasti tambah pintar, papa mama tambah sayang dan tidak segan kasih hadiah...” atau ketika si anak melakukan sesuatu yang kita tidak berkenan : “eee anak pintar, tidak boleh begitu ya...” dst.

Ada perbedaan ketika kita sebenarnya sedang marah lalu mengucapkan kata-kata positif dibandingkan mengucapkan kata-kata negatif. Kata-kata positif ternyata saya rasakan mampu meredam emosi dan membuat kita tambah sabar. Coba bayangkan jika kita mengucapkan kata-kata negatif dengan penuh emosi dan si anak tidak memperdulikannya, pasti kita tambah marah dan bisa jadi jika seseorang yang sempat berucap “dasar anak setan...” atau “dasar anak tak tau diuntung...” berujung pada kekerasan fisik terhadap si anak.

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda: “Tiga orang yang doanya pasti terkabulkan, doa orang yang teraniaya, doa seorang musafir dan doa orang tua terhadap anaknya". Dari Abdullah bin Amr bin Ash, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Ridha Allah bergantung kepada keridhaan orang tua dan murka Allah bergantung kepada kemurkaan orang tua”.

Banyak kisah yang menggambarkan bahwa betapa manjurnya perkataan atau doa ibu atau ayah terhadap anaknya baik yang diucapkan secara sadar maupun tidak, berikut ini adalah salah satu kisahnya.

Seorang ibu tergopoh-gopoh mendatangi anaknya yang menangis sambil menunjuk-nunjuk dengkulnya, terjadilah dialog dalam bahasa Jawa yang artinya kurang lebih sebagai berikut “Ada apa nak kok menangis terus?”, “Ini bu ada kotoran ayam, buang bu!”, ibunya pun segera membuang kotoran yang menempel di dengkul si anak tapi tangis si anak tidak berhenti dan berkata “Kembalikan! Kembalikan!”, lalu ibunya menempelkan kembali kotoran tersebut dan tangis si anak malah semakin keras “Kok tidak sama? Kok tidak sama” sambil tersenyum dan mencari kotoran lainnya, ibu pun bergumam “Ya sudah tidak apa-apa asal besok besar jadi Jendral”

Empat puluh tahun kemudian, seorang anak yang pernah membuat repot ibunya dengan kotoran ayam itu benar-benar menjadi seorang Jendral, dialah Jendral Soebagyo HS mantan Kepala Staf TNI-AD, subhanallah....

Wahai ayah ibu, jagalah lisanmu! Bahwa pada hakekatnya setiap perkataanmu terhadap anakmu adalah doa maka seribu kata kebaikan adalah seribu doa kebaikan dan seribu kata keburukan adalah seribu doa keburukan.
Share