Kamis, 03 November 2011

Kisah Sepotong Buntut Singkong


Kisah ini berawal ketika suatu hari di tahun 1980 an, seorang tukang gorengan yang sedang mangkal tiba-tiba dihampiri seorang anak kecil. Anak tersebut langsung mengambil posisi berdiri di sisi kanan gerobak dengan kaki kiri sedikit diangkat dan ditempelkan pada kaki kanan serta menggigit jari telunjuk kanannya. Tanpa berkata-kata dengan posisi tersebut, anak itu terus menatap ke arah gerobak.

Melihat hal itu, tukang gorengan tetap tidak bereaksi dan berkata apapun, meski kejadian ini terus berulang sampai hari ketiga dengan posisi berdiri dan gaya yang sama.

Pada hari keempat tukang gorengan mulai berfikir dan ada perasaan kasihan pada anak itu, “Sepertinya dia akan datang lagi hari ini.” Maka buntut singkong yang biasanya dibuang, kali ini digoreng dan disiapkan untuk diberikan nanti.

Benar saja anak itu datang lagi, lalu diberikannya buntut singkong yang sudah digoreng tadi. Betapa senangnya anak itu sambil tersenyum lebar dan mata yang berbinar-binar dia pun berlari dengan senangnya.

Tukang gorengan hanya bisa menggelengkan kepala melihat reaksi anak itu yang sedemikian senangnya meskipun dia hanya memberikan buntut singkong. Kejadian ini terus berulang sampai empat hari berturut-turut hingga akhirnya anak itu tidak datang lagi.

Dua puluh empat tahun kemudian, masih dengan gerobak yang sama dan tempat mangkal yang sama, seorang pemuda berumur sekitar 30 tahun mendatangi gerobak tersebut. “Ada buntut singkong pak?” tanya pemuda itu.

Tukang gorengan terpana sejenak dengan pertanyaan itu. “Enggak ada” sahutnya, “Buntut singkong mah enggak enak pahit, makanya enggak dijual. Cari yang lain saja!” lanjutnya.

Pemuda itu hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala menolak tawaran tersebut.”Bapak masih kenal saya?” tanyanya. Tukang gorengan memandangi pemuda itu cukup lama, berusaha mengenalinya dan balik bertanya “Sepertinya kenal tapi siapa ya?”

Sambil terus tersenyum, pemuda itu berkata “Sebentar pak, saya akan peragakan sesuatu, pasti bapak kenal saya.” Lalu pemuda itu memperagakan posisi berdiri setengah kaki dengan menggigit jari telunjuk kanannya, persis seperti yang dia lakukan dua puluh empat tahun yang lalu.

“Oh rupanya kamu anak kecil yang dulu saya kasih buntut singkong ya?” ujarnya. “Betul sekali pak” jawab pemuda itu. “Maaf ya, bapak dulu hanya kasih kamu buntut singkong” kata tukang gorengan sedikit menahan malu. “Enggak pak, justru dulu Bapak sudah memberikan kebahagiaan untuk saya” sanggah pemuda itu.

Dengan sedikit berkaca-kaca, pemuda itu lalu bercerita.”Dulu waktu saya datang ke gerobak Bapak, baru beberapa hari ayah saya meninggal. Saya tidak lagi punya uang jajan seperti dulu sedangkan kawan-kawan saya tidak mau menemani bermain hanya karena tidak punya uang jajan. Saya lalu mendatangi beberapa warung tapi malah diusir.”

“Ketika mendatangi gerobak Bapak, saya tidak diusir tapi tidak ditegur dan tidak diberi apa-apa. Saya pantang menyerah sampai akhirnya dikasih buntut singkong itu.”

Pemuda itu melanjutkan ceritanya bahwa dia senang sekali karena bisa bergabung kembali dengan teman-temannya dan menunjukkan jajanannya. Padahal dia hanya berpura-pura dengan cara kedua tangannya seolah-olah menggenggam satu singkong utuh dan hanya ujungnya atau buntut singkong yang menyembul ke atas.

“Jadi begitu ceritanya pak...” kata pemuda itu seraya menjelaskan bahwa beberapa hari kemudian dia tidak lagi mendatangi gerobaknya karena diajak ibunya pindah rumah.

Tiba-tiba dengan air mata yang berlinang, pemuda itu berkata “Pak... saya mau berterima kaih sama Bapak, saya mau membayar empat buntut singkong itu. Bulan depan kebetulan saya mau umroh..., saya mau Bapak juga ikut umroh ke tanah suci.”

Umrah?” tukang gorengan menatap dengan penuh keheranan dan tidak percaya. Bagaimana mungkin perbuatan kecil yang dia lakukan beberapa tahun yang lalu dan sudah dilupakan kejadiannya, tiba-tiba kini berbuah tawaran untuk berumroh.

Allah Maha Besar, tidak ada yang tidak mungkin, janji Allah itu pasti. Allah tidak akan membiarkan berlalu begitu saja kebaikan yang kita lakukan sekecil apapun, sebagaimana firman Nya dalam Qs. Az Zalzalah : 7 “Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya.”

Bahkan tak jarang Allah melipatgandakan balasan kebaikan yang kita lakukan, perhatikan petikan ayat berikut ini :

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Qs. Al Baqarah:261).

Semoga kisah ini dapat menginspirasi saya dan kita semua untuk selalu menebarkan kebaikan dan kebahagiaan bagi orang lain, sedikit sedekah atau kebaikan yang kita berikan bisa jadi sangat berarti bagi mereka yang membutuhkan.


* Kisah nyata, sebagaimana yang dikisahkan oleh ust. Yusuf Mansyur dalam bukunya “Miracle of Giving, Keajaiban Sedekah”.
Share

Kamis, 29 September 2011

Memberi Tanpa Diminta, Tanpa Berharap Kembali



Salah satu nama Allah (Asma’ul Husna) adalah sifat Al Wahhab yang berarti Maha Pemberi. Dia memberikan rahmat dan karuniaNya kepada manusia dan seluruh makhluk tanpa pamrih atau berharap imbalan karena Dia tidak membutuhkan apapun dari makhlukNya.

Allah juga maha pemberi tanpa diminta. Air, udara, sinar matahari, hujan yang turun dan masih banyak lagi, semua disediakan untuk manusia walaupun kebanyakan manusia tidak berdo’a dan memintanya.

Seandainya seluruh manusia ingkar kepadaNya, tidak akan berkurang sedikitpun keagungan dan kebesaranNya dan sebaliknya kemuliaan dan kewibawaanNya tidak akan bertambah sedikitpun, seandainya seluruh manusia patuh dan tunduk kepadaNya.

Tidak seorangpun yang berhak menyandang Al Wahhab, sebab manusia memiliki sifat tidak sempurna, serba kekurangan sehingga tidak bisa memberi secara berkesinambungan. Sedangkan Allah adalah maha pemberi dengan terus berkesinambungan. Maha suci Allah dari ketergantungan terhadap apapun, Allah adalah tempat bergantung segala sesuatu.

Imam Al Ghazali menjelaskan bahwa pada hakekatnya tidak ada pemberian tanpa tujuan dan harapan, kecuali Allah SWT. Setiap manusia pasti mengharapkan sesuatu atas semua perbuatannya, baik dalam bentuk pujian, meraih kehormatan, persahabatan atau sekedar menghindari celaan.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa, seseorang yang senantiasa beribadah kepada Allah juga tak lepas dari pamrih, yaitu demi mendapatkan surga atau terhindar dari neraka. Bahkan seorang alim yang beribadah demi meraih cinta dan syukur kepada Allah, tidak sepenuhnya terhindar dari upaya atau harapan meraih imbalan.

Karena hanya sampai disitu batas kemampuan manusia, maka Allah masih memberi toleransi mereka yang beribadah untuk meraih surga atau terhindar dari neraka, selama ibadah yang dilakukannya karena Allah.

Bahkan Allah merangsang manusia untuk berbuat kebaikan dengan istilah “Perniagaan” atau ” Jual beli”. Perhatikan ayat berikut ini, “Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih?” (QS. 61:10).

Apakah perniagaan itu? Berikut lanjutannya, “(yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya,” (QS. 61:11).

Apakah imbalan (keuntungan) yang diraih dari perniagaan itu? Yaitu, “Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga Adn. Itulah keberuntungan yang besar,” (QS. 61:12).

Jadi sekali lagi ditegaskan bahwa manusia tidak bisa menjadi Al Wahhab, karena tidak ada sesuatupun yang dikerjakannya luput dari tujuan mendapatkan imbalan termasuk dalam hal ibadah. Namun demikian bukan berarti kita tidak dapat meneladani sifat ini sebatas kemampuan dan toleransi yang disebutkan tadi. Karena itu meneladani sifat ini dibutuhkan upaya terus menerus untuk memberi sekuat kemampuan.

“Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau sesatkan hati kami sesudah Engkau memberi petunjuk kepada kami dan anugerahilah kami rahmat dari sisi-Mu, karena sesungguhnya Engkaulah al-Wahhab, Maha Pemberi. (QS. 3: 8)

Semoga Allah Yang maha kaya lagi maha sempurna pemberian-Nya mengaruniakan kepada kita kemampuan untuk ikhlas dalam beramal, kemampuan untuk tidak bergantung selain kepada-Nya.
Share

Kamis, 01 September 2011

Benarkah Silaturahmi Dapat Memperpanjang Umur ?


Banyak faktor yang mempengaruhi kesuksesan seseorang sehingga dapat hidup kaya raya selain karena keuletan, kerja keras dan semangat pantang menyerah dalam berusaha, demikian pula banyak hal yang menyebabkan seseorang dapat berumur panjang selain karena pola makan yang sehat, gaya hidup dan kebiasaan berolahraga.

Hadits Nabi Muhammad SAW perihal kedua hal tersebut di atas, salah satunya adalah seperti yang diriwayatkan oleh HR Bukhari, Muslim dan Abu Dawud yang berbunyi "Barangsiapa yang ingin dimudahkan rejekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi". Benarkah bahwa membina hubungan antar sesama atau dalam bahasa Islamnya “Silaturahmi” dapat menyebabkan rejeki seseorang bertambah luas dan memperpanjang usia? Kalau memang benar, lalu bagaimana ilmu pengetahuan modern dapat menjawab dan membuktikannya?

Silaturahmi dapat memperluas rejeki dapat dipahami bahwa rejeki mudah dicari selagi kita mempunyai hubungan baik dengan sesama dan seterusnya dapat berkembang menjadi kepercayaan dan amanah. Seseorang tentu akan dengan mudah mempercayakan harta (modalnya) untuk diurus dan dikelola oleh kita, jika mempunyai hubungan baik dengan kita.

Sebuah penelitian yang dilakukan pada tahun 1970 an oleh seorang sosiolog Harvard bernama Mark Granovetter tentang cara atau bagaimana orang mendapatkan pekerjaan. Hasil penelitian tersebut menemukan bahwa mayoritas orang mendapat pekerjaan berdasarkan koneksi pribadi. Jadi bisa disimpulkan karena koneksi atau hubungan silaturrahmi itulah seseorang mendapatkan pekerjaan.

Saat ini ilmu-ilmu pemasaran modern sudah mengakui bahwa teknik-teknik pemasaran melalui jaringan teman dan keluarga terbukti ampuh untuk mendongkrak penjualan suatu produk, sehingga tak heran jika situs jejaring sosial yang sedang menjadi tren saat ini menjadi lahan yang empuk untuk mengembangkan usaha dan bisnis.

Makna dari silaturahmi dapat memanjangkan umur oleh ulama-ulama terdahulu kerap dimaknai bahwa dengan seringnya kita menjalin silaturahmi atau membina hubungan baik dengan sesama, maka kita akan dicintai dan disenangi banyak orang meskipun sudah wafat berkalang tanah, namun nama kita masih dikenang dan sering disebut-sebut kebaikannya. Contohnya tokoh-tokoh besar yang karena kebaikan hubungan yang pernah mereka bangun dan jasa-jasanya terhadap orang lain, meskipun sudah wafat mereka tetap dikenang orang hingga kini.

Benarkah hadits tersebut memiliki makna yang tersirat seperti itu ? Argumentasi tersebut tentu tidak sepenuhnya benar karena tidak sedikit tokoh-tokoh di dunia ini yang justru dikenal dan dikenang orang sebagai diktator yang kejam yang banyak musuh dan banyak mensengsarakan rakyatnya selama berkuasa.

Tim yang dipimpin oleh Hold Lunstad seorang psikolog dari Brigham Young University di Utah melakukan analisis terhadap sejumlah penelitian tentang efek hubungan sosial pada kesehatan. Tim tersebut melakukan analisis 148 penelitian terhadap 308 ribu lebih orang yang kehidupannya diikuti selama rata-rata 7,5 tahun.

Hubungan sosial dalam penelitian ini diukur dengan beberapa cara, mulai dari yang sederhana seperti apakah orang tersebut menikah atau hidup sendirian. Juga dilihat dari persepsi seseorang, apakah mereka merasa akan ada orang lain yang akan segera membantunya saat mereka membutuhkan pertolongan. Kemudian penilaian lain diambil dari seberapa kuat seseorang terlibat dalam komunitasnya dan seterusnya. Hasil penelitian ini lalu dicek silang dengan usia, jenis kelamin, status kesehatan dan penyebab kematian saat orang tersebut meninggal.

Hasil penelitian tersebut seperti yang dipublikasikan belum lama ini di jurnal Plos Medicine terbitan Public Library of Science menyimpulkan bahwa orang dengan hubungan sosial yang kuat akan 50 persen lebih panjang umur dibandingkan dengan mereka yang tanpa dukungan ini. Memiliki hubungan sosial yang baik seperti dengan teman, pernikahan atau anak sama baiknya untuk menjaga kesehatan seperti halnya berhenti merokok, menurunkan berat badan atau bahkan minum obat.

Memiliki hubungan sosial yang buruk ternyata setara dengan menjadi pecandu alkohol dan lebih membayakan dibanding tidak berolahraga serta dua kali lebih berbahaya dibanding obesitas (kelebihan berat badan).

Tidak memiliki hubungan sosial ternyata berdampak yang lebih besar untuk kematian muda dibanding tidak melakukan vaksinasi untuk mencegah pneumonia (radang paru-paru) diusia muda, tidak mengkonsumsi obat tekanan darah tinggi atau terpapar polusi udara.

Hold Lunstad menjelaskan lebih lanjut perihal bagaimana kehidupan sosial bisa mempengaruhi kesehatan, yaitu keberadaan orang yang dekat secara emosional disekeliling kita, membuat kita mampu menghadapi stress hidup, sesuatu yang diketahui bisa menyebabkan kematian jika kita tak sanggup menghadapinya.

Hold Lunstad berujar “Saat kita menghadapi kejadian yang potensial menimbulkan stress dalam hidup, kita tahu bahwa ada orang-orang disekeliling kita yang bisa diandalkan. Ini menjadikan kita percaya bahwa mereka akan membuat kita mampu menghadapinya. Bisa juga keberadaan mereka mencegah berbagai efek negatif dari stress”.

Penelitian lain yang juga pernah dilakukan oleh dua orang ahli epidemi penyakit antara tahun 1965-1974 terhadap gaya hidup dan kesehatan penduduk Alameda County, California yang berjumlah 4.725 orang. Hasil penelitian menemukan bahwa angka kematian tiga kali lebih tinggi pada orang yang eksklusif (tertutup) dibandingkan orang yang rajin bersilaturahmi dan menjalin hubungan.

Kemudian sebuah penelitian lain pada penduduk Seattle ditahun 1997 menyimpulkan bahwa biaya kesehatan lebih rendah didapati pada keluarga yang suka bersilaturrahmi dengan orang lain dan MacArthur Foundation di AS mengeluarkan kesimpulan sejalan yang menyatakan bahwa manusia lanjut usia (manula) bisa bertahan hidup lebih lama itu disebabkan mereka kerap bersilaturahmi dengan keluarga dan kerabat serta rajin hadir dalam pertemuan-pertemuan.

Jadi benarlah hadits Nabi Muhammad SAW bahwa menyambung tali silaturahmi atau menjalin dan membina hubungan baik dengan tetangga, teman dan sanak keluarga dapat meluaskan rejeki dan memperpanjang umur seseorang. Maka momentum Idul Fitri tahun ini setelah menjalani ibadah puasa selama bulan Ramadhan, mari kita jadikan sebagai sarana untuk menyambung kembali tali silaturahmi yang pernah terputus dengan saling memaafkan dan melupakan kesalahan dimasa lalu, mempererat kembali hubungan yang sudah terjalin serta memperluas jaringan silaturahmi dengan tetangga baru dan teman baru.
Share

Minggu, 28 Agustus 2011

Pura-pura Tuli, Pura-pura Tidak Tahu


Ada perasaan kagum sekaligus bercampur malu terhadap diri ini ketika saya membaca kisah seorang tabi’in shalih yang bernama Abu Abdurrahman Hatim bin Unwan atau lebih dikenal dengan nama Hatim al Asham.

Kisah ini bermula ketika suatu hari beliau didatangani seorang wanita yang bermaksud menanyakan sesuatu. Tanpa disengaja wanita itu tiba-tiba buang angin (maaf : kentut). Hatim tidak ingin tamunya menjadi malu karena hal tersebut, kemudian beliau mencoba menutupinya dengan mengatakan, “Berbicaralah dengan keras, karena pendengaranku kurang tajam.” Wanita itupun senang dan tidak salah tingkah karena mengira Hatim tidak mendengarnya.

Sejak saat itu, kira-kira lima belas tahun selama wanita itu masih hidup, Hatim berpura-pura memiliki pendengaran yang kurang normal. Hal ini dimaksudkan agar tidak ada seorang pun yang bercerita kepada wanita itu bahwa sesungguhnya beliau tidak tuli.

Setelah wanita tersebut meninggal dunia, barulah Hatim dengan mudah menjawab kepada siapa pun yang bertanya. Tapi karena sudah terbiasa, beliau selalu berkata, “Bicaralah lebih keras!” Itulah sebabnya orang-orang biasa memanggilnya dengan sebutan Hatim al Asham atau Hatim si tuli.

Kekaguman saya terhadap Hatim al Asham karena kelapangan hatinya yang luar biasa, sikap berpura-pura tidak tahu atas kekeliruan yang tidak sengaja dilakukan orang lain, sikap toleran dan memaklumi kesalahan yang tidak direncanakan yang tidak berakibat buruk terhadap orang banyak. Sikap tersebut biasa disebut dengan istilah taghaful yaitu sikap seseorang yang tahu dan mengerti tentang sesuatu namun menampakkan dirinya seolah-olah tidak tahu (mengabaikan).

Perasaan malu yang menghinggapi diri ini karena terkadang saya tertawa atas kesalahan kecil yang tak sengaja dilakukan orang lain. Berlaku tidak seimbang dalam menilai orang, menghapus semua kebaikan yang pernah dilakukan dan hanya memikirkan serta membesar-besarkan kesalahannya.

Termasuk sikap taghaful adalah seperti yang ditunjukkan oleh Atha bin Rabah, seorang ulama dan ahli hadits. Pernah suatu ketika seseorang datang kepadanya menyampaikan sebuah hadits Rasulullah SAW. Beliau diam dan mendengarkan hadits itu dengan baik, seolah belum pernah mendengarnya kecuali dari yang diucapkan pemuda tersebut. Padahal hadits itu sudah didengar dan dihafalnya sejak sebelum pemuda itu lahir.

Saya pun sangat terkesan dengan sikap taghaful dari komandan perang Qutaibah bin Muslim al Bahily yang kedatangan seorang pemuda untuk menyampaikan sesuatu kepadanya. Ketika pemuda itu duduk menghadap dan meletakkan pedangnya yang masih terhunus, tanpa sengaja ketajaman pedang itu melukai jari kaki Quthaibah sehingga berdarah. Pemuda itu tidak tahu karena Quthaibah berusaha diam dan terus mendengarkan permasalahan yang disampaikan kepadanya. Setelah urusan pemuda itu selesai, mengucapkan terima kasih dan pergi, barulah Quthaibah meminta sapu tangan untuk membersihkan darah dari jari kakinya. “Mengapa tidak engkau sampaikan saja pada pemuda itu wahai Quthaibah?” tanya seorang sahabatnya. “Aku takut ucapan itu akan menghalanginya dari menyampaikan keperluannya” jawab Quthaibah.

Sungguh luar biasa, seperti inilah akhlak dan sikap seorang pemimpin yang shalih. Dengan kedudukannya sebagai komandan, dimungkinkan dan boleh untuk sekadar mengingatkan pemuda itu, tapi hal ini tidak dilakukannya. Bahkan menggeser kakinya agar tidak terlalu lama terkena ujung pedang, itupun tidak dilakukannya.

Ya Allah jadikanlah hamba-Mu ini dapat mengambil pelajaran dan meniru sikap taghaful dari orang-orang shalih terdahulu agar dengan segala kerendahan hati, mampu bersikap toleran, mudah memaafkan, lapang dada, ringan memaklumi kekeliruan orang lain selama kekeliruan itu tidak menentang kebenaran mutlak dari Allah dan Rasulullah SAW, amin.
Share

Jumat, 24 Juni 2011

Perginya Lelaki Bersahaja Itu


Ketika hujan turun dengan tiba-tiba tanpa didahului dengan awan mendung yang memberi isyarat, tak ada petir yang memberi pertanda dan tak ada angin yang mengabarkan tentu membuat sebagian orang panik dan terkejut, demikian pula halnya ketika seseorang secara tiba-tiba pergi untuk selama-lamanya meninggalkan dunia yang fana ini, pasti menyisakan duka yang mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan dan beragam penyesalan karena merasa belum siap untuk ditinggalkan.

Allah sudah menegaskan bahwa “Setiap yang berjiwa akan merasakan mati...”, cepat atau lambat, siap atau tidak siap kita harus mempersiapkan diri dengan bekal amal kebaikan sebanyak mungkin. Meski kepergian seseorang terkadang tanpa memberikan pertanda tetapi pasca kepergiannya terkadang meninggalkan jejak yang menunjukkan bagaimana amal perbuatannya selama hidup di dunia ini seperti halnya kisah berikut ini.

Adalah ayahanda tercinta dari istri saya, tokoh yang cukup dikenal dan dihormati di seantero komplek perumahan kami. Bisa jadi keterkenalan tersebut karena beliau adalah mantan pejabat dengan posisi jabatan terakhir cukup tinggi dan pada masa pensiunnya beliau masih aktif sebagai pengurus pada yayasan pensiun.

Kami sebagai anaknya yang bertempat tinggal kurang lebih 600 meter dari rumah beliau, terkadang ikut merasakan perlakuan “istimewa” dari orang-orang sekitar komplek. Pernah suatu ketika istri saya berbelanja pada tukang gerobak sayur yang biasa mangkal di seberang rumah kami, cukup ramai yang berbelanja saat itu tapi istri saya selalu didahulukan untuk dilayani dan perlakuan yang sama juga sering kami alami ketika membeli sesuatu di warung sebelah rumah. Ketika kami sedang berjalan di sebuah gang seringkali mendapatkan tegur sapa dan senyum ramah dari orang di depan rumah yang kami lewati demikian halnya senyum ramah dari beberapa tukang becak yang kebetulan berpapasan dengan kami.

Suatu hari kami dikejutkan oleh kabar bahwa beliau tiba-tiba pingsan ketika sedang rapat di kantor yayasan pensiun dan tak lama berselang menghembuskan nafasnya yang terakhir di rumah sakit terdekat. Isak tangispun pecah, beliau wafat meninggalkan kami untuk selama-lamanya tanpa kami bisa mencegah atau menundanya sedetik pun.

Terdengar pengumuman di masjid yang mengabarkan perihal meninggalnya beliau. Awalnya penyampaiannya berjalan dengan lancar, namun ketika pengumuman diulang untuk yang kedua kalinya, terdengar si penyampai berita menyampaikannya dengan terbata-bata menahan isak tangis. Mungkin orang tersebut adalah teman almarhum sesama jama’ah masjid yang merasa kehilangan dengan kepergiannya.

Rumah beliaupun ramai dan tak henti-hentinya dikunjungi oleh orang-orang yang datang silih berganti untuk bertakziah dan menyampaikan belasungkawa. Saya sempat terkejut ketika mengetahui dari tetangga bahwa diantara orang-orang yang datang ada beberapa tukang ojek yang biasa mangkal di ujung jalan itu, hansip dan tukang sayur yang biasa mangkal di seberang rumah kami serta tukang becak yang sering hilir-mudik di komplek pun datang. Anak saya juga mengatakan bahwa ternyata tukang odong-odong yang biasa keliling komplek juga datang.

Usai dimandikan dan dikafani, jenazah dibawa ke masjid untuk disholati dan karena sedikit terlambat masuk masjid, sayapun kebagian shaf (baris) paling belakang. Berdiri disamping kiri saya seorang lelaki kurus tinggi ikut mensholati jenazah dan betapa terkejutnya saya usai sholat ketika melihat lelaki yang tadi berdiri disamping saya sudah mengenakan rompi dan tas yang diselempangkan di pundak, ternyata dia adalah penjaja koran yang biasa menjadi langganan almarhum.

Malam harinya saya sempat pulang ke rumah sebentar dan mampir untuk membeli bubur ayam yang biasa mangkal di depan masjid. Tukang bubur memulai percakapan “Nggak sangka ya mas, pak Haji sudah nggak ada ! Padahal baru kemarin malam lewat sini”. Saya pun hanya tersenyum kecil, lalu tukang bubur melanjutkan ceritanya “Pak Haji cuma bilang sama saya, ayo mas mari pulang sudah mau hujan nih...”.

Dari sini dan beberapa kejadian sebelumnya, saya bisa menarik kesimpulan bahwa banyak orang yang menaruh hormat kepada beliau bukan karena ketinggian jabatan yang pernah diembannya tetapi lebih dikarenakan kerendahan hati dan kesederhanaan beliau. Kerendahan hati itu ditunjukkannya dengan keramahan dan tak segan untuk menegur sapa terlebih dahulu kepada siapa saja yang dijumpainya tanpa memandang status sosial atau kedudukan seseorang.

Kehidupan beliau terlihat begitu kontras dengan kisah-kisah beberapa orang yang semasa hidupnya begitu dihormati dan ditakuti karena jabatan atau kekuasaan yang diembannya tetapi ketika orang itu turun dari jabatannya, banyak orang yang “Bertepuk tangan” karena merasa terbebas dari tekanan yang sekian lama mereka rasakan . Dimasa pensiunnya, beberapa mantan bawahannya tidak menaruh hormat lagi kepadanya bahkan hanya sekedar berpapasan dan bertegur sapa, jika ada kesempatan untuk menghindar, mereka akan melakukannya. Lalu jika orang tersebut wafat, masih banyakkah orang yang peduli ?

Hidup adalah sebuah pilihan, apakah kita ingin menjadi orang yang dihormati ketika hidup di dunia dan tetap dihormati dan dikenang orang setelah kita di alam kubur karena kerendahan hati dan kebaikan kita kepada sesama ataukah sebaliknya?

Robbana atina fiddunya hasanah wa fil akhiroti hassanah wa qina adza bannar “. Ya Allah berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan jagalah kami dari siksa api neraka.

Share