Sabtu, 20 Desember 2014

TANGAN-TANGAN YANG MENGANTAR KE SURGA

Adalah hal yang sudah biasa ketika istri mencium tangan suami, anak mencium tangan orangtua, menantu mencium tangan mertua, murid mencium tangan guru, yang lebih muda mencium tangan yang lebih tua, bawahan mencium tangan atasan, karyawan mencium tangan majikan, si miskin mencium tangan si kaya dan seterusnya. Yang mencium tangan biasanya memposisikan diri lebih “Rendah” atau lemah atau sebagai penghormatan kepada pihak yang dicium tangannya.

Hal sebaliknya, seperti ayah mencium tangan anak, suami mencium tangan istri, majikan mencium tangan bawahan atau raja mencium tangan rakyat jelata, sesuatu yang pastinya jarang terjadi.

Lain halnya dengan Nabi Muhammad, manusia paling mulia utusan Allah,  justru mencium tangan dua manusia biasa. Tapi tangan-tangan itulah yang dimuliakan Allah, sekaligus tangan-tangan itu pula yang membawa pemiliknya menuju surga.

Seorang pria jelata mengadu kepada Nabi Muhammad. “Wahai Rasulullah, lihatlah tanganku sudah bengkak, retak-retak dan hancur !” Lelaki itu bekerja teramat keras demi memenuhi nafkah anak istrinya. Dia bekerja memecah batu di tengah teriknya matahari gurun pasir. Tak heran jika tangannya menghitam, retak-retak, dan sangat kasar. Nasib telah mengantarkan PEJUANG KELUARGA itu kepada kondisi yang memprihatinkan.

Rasul terharu mendengarnya, lalu beliau meraih tangan yang retak menghitam dan berdarah itu dan menciumnya dengan sepenuh kasih sembari berkata, “Tanganmu inilah yang akan mengantarmu menuju surga.”

Di lain pihak, Fatimah menjalani kehidupan rumah tangga yang penuh perjuangan. Putri bungsu kesayangan Nabi Muhammad itu dipersunting oleh Ali bin Abi Thalib yang saleh, berpengetahuan luas lagi gagah berani tetapi sangat miskin secara materi. Sejarah mencatat kegemilangan Ali di setiap pertempuran membela kaum muslimin, sekaligus mengibarkan kejayaan Islam. Kesibukan membela agama Allah membuatnya hanya mempunyai sedikit waktu untuk mencari nafkah bagi keluarga sehingga rumah tangganya hidup di bawah garis kemiskinan.

Fatimah tak kalah berat perjuangannya dalam merawat keluarga. Dia harus mencari dan membelah kayu bakar, menimba dan memanggul air, menggiling gandum, membuat roti dan mengerjakan segala urusan dapur seorang diri. Di samping itu, dia juga mengasuh dan mendidik dua putranya yang lincah, Hasan dan Husein. Kalau tidak sedang sibuk di medan perang, suaminya turut membantu menggiling gandum dan pekerjaan kasar lainnya, tapi itu sangat jarang terjadi karena negaranya terlalu sering terancam oleh pihak-pihak lawan.

Gadis yang dulu menjadi idaman banyak pemuda terhormat itu sampai pada kondisi menyedihkan. Fatimah menemui ayahnya lalu berkata, “Lihatlah tanganku ini Ayah, sudah kasar dan retak-retak.” Fatimah meminta agar ayahnya memberikan seorang pembantu supaya pekerjaan rumahnya menjadi lebih ringan.

Andai kita adalah ayah kandung Fatimah, tanpa pikir panjang, pasti segera menyiapkan pembantu buat sang anak atau mungkin memarahi suami putrinya yang dipandang keterlaluan. Namun, Rasulullah tidak melakukan hal demikian. Nabi Muhammad tidak memberikan pembantu untuk putrinya, walaupun mampu menyediakannya.

Rasulullah meraih tangan Fatimah yang sudah kasar dan retak-retak, lalu menciumnya sepenuh kasih seraya berkata, “lnilah tangan yang akan mengantarmu menuju surga.” Rasulullah tidak ingin memanjakan putrinya sehingga dia menjadi wanita yang berjiwa lemah.

Kepada kedua pemilik tangan yang hebat itu, Rasulullah menyuntikkan semangat juang, nasihat yang menguatkan dan penghargaan. Merekalah orang-orang bahagia karena tangannya menghasilkan pahala dan tiket menuju surga.

Dalam hidup, kita melihat jutaan tangan terluka demi mencari sesuap nasi dengan cara yang halal dan ikhlas. Tangan-tangan itu dapat ditemukan di rumah kita sendiri, di kantor, di jalan dan di mana saja, tapi keberadaannya sering kita abaikan atau mungkin tangan-tangan itulah yang sering kita sakiti.

Bisa jadi tangan kita dicium orang atas alasan menghormati, namun kelak kita harus bertanggung jawab kepada Allah SWT, betulkah tangan kita benar-benar tangan mulia yang selalu melakukan kebaikan, berjuang di jalan Allah? Atau tangan mereka yang sebetulnya lebih mulia dan lebih pantas kita cium?

Inilah kesempatan bagi kita untuk mengevaluasi diri. Tanyakan kepada diri kita, sudah pantaskah kita dihormati? Atau sudah tepatkah penghormatan yang kita lakukan? Tidak seperti menebar penghormatan palsu, kita akan merasakan kebahagiaan jika menghormati orang-orang yang tangannya setia menebar kebaikan, apa pun statusnya.

“Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu.” (Qs. An Nisaa’ : 86).



Repost from        : Fatimah Al-Zahra, Google+
Edited & retitled  : Wahyu Santoso

Share

Sabtu, 06 Desember 2014

Berharap Keajaiban : Kedelai Segera Menjadi Tempe

ketika kegagalan sudah di depan mata, berapa besar keyakinan Anda akan berujung dengan keberhasilan? Seberapa sering Anda terus berdoa dan tetap berharap datangnya pertolongan? 

Kisah berikut ini mengajarkan kepada kita untuk terus berusaha dan tetap berdoa karena keajaiban seringkali datang disaat injuri time, detik-detik terakhir ketika kegagalan hampir pasti menjadi kenyataan.

Abah dan Emak adalah sepasang suami istri sederhana yang kesehariannya menggantungkan hidup dari membuat tempe & menjualnya sendiri ke pasar. Itulah satu-satunya sumber pendapatan mereka untuk bertahan hidup.

Suatu hari, Abah jatuh sakit sehingga Emak harus mengambil alih tugas menjual tempe. Saat tengah bersiap untuk pergi ke pasar, tiba-tiba Emak sadar bahwa tempe buatannya hari itu masih belum matang atau setengah jadi.

Emak sadar bahwa tempe yang masih muda & belum matang pasti tidak akan laku. Itu artinya, untuk hari itu, mereka tidak akan mendapatkan uang. Ketika Emak dalam kesedihan, tiba-tiba Abah mengingatkan Emak bahwa Allah SWT mampu melakukan perkara-perkara ajaib karena tiada yang mustahil bagi-Nya.

Emak lalu mengangkat kedua tangannya "Ya Allah, Emak mohon kepada-Mu agar kacang kedelai ini menjadi tempe, amin." Begitulah doa yang dipanjatkan dengan sepenuh hati & keyakinan bahwa Allah pasti akan mengabulkannya.


Emak pun menekan-nekan bungkusan bakal tempe dengan ujung jarinya lalu membuka sedikit bungkusan itu untuk menyaksikan keajaiban kacang kedelai itu menjadi tempe. Emak termenung sebab kacang itu masih tetap kacang kedelai yang belum matang benar.


Tidak putus asa & berpikir mungkin doanya kurang jelas, lalu Emak mengangkat kedua tangannya kembali "Ya Allah, Emak tahu bahwa tiada yang mustahil bagi-Mu. Bantulah supaya hari ini Emak dapat menjual tempe, jadikanlah kacang kedelai ini menjadi tempe, amin."


Dengan penuh harap, Emak kembali membuka sedikit bungkusan itu. Apa yang terjadi? Ternyata kacang-kacang kedelai itu masih tetap seperti semula.


Hari semakin siang, pasar pasti sudah ramai didatangi pembeli. Emak tetap tidak kecewa atas doanya yang belum terkabul. Berbekal keyakinan yang tinggi, Emak memaksakan diri untuk tetap pergi ke pasar & berharap mungkin keajaiban Allah akan terjadi dalam perjalanannya ke pasar.


Dia pun berangkat ke pasar & sebelum keluar rumah, Emak sempat mengangkat kedua tangannya "Ya Allah, aku percaya kepada-Mu. Sementara, Emak berjalan ke pasar, karuniakanlah keajaiban, jadikanlah kedelai ini menjadi tempe, amin." Dengan penuh keyakinan, wanita tua ini di sepanjang perjalanan tetap tidak lupa membaca doa di dalam hatinya.


Sesampai di pasar, segera Emak meletakkan barang dagangannya. Emak betul-betul yakin kalau tempenya sekarang sudah benar-benar matang & siap untuk dijual. Dengan hati yang berdebar-debar, Emak membuka bakulnya & menekan-nekan dengan jarinya setiap bungkusan yang ada. Perlahan-lahan, Emak membuka sedikit daun pembungkus & melihat isinya. Apa yang terjadi? Tempenya benar-benar tidak berubah, masih setengah jadi.


Emak menarik napas dalam-dalam. Harapan dikabulkannya doa perlahan menipis. Mulai timbul rasa bahwa  Allah tidak adil & tidak kasihan kepadanya. Inilah satu-satunya sumber penghasilannya berjualan tempe.


Dia pun hanya duduk saja tanpa membuka dagangannya karena yakin tidak ada orang yang akan membeli tempe yang masih setengah jadi. Hari beranjak petang, pasar sudah mulai sepi, para pembeli mulai berkurang & penjual tempe lainnya, sudah hampir habis jualannya. Emak tertunduk lesu seperti tidak sanggup menghadapi kenyataan bahwa dia pulang tanpa membawa hasil.


Namun, jauh di sudut hatinya, Emak masih menaruh harapan terakhir kepada Allah, pasti Allah akan menolongnya. Emak berdoa untuk terakhir kali "Ya Allah, berikanlah penyelesaian terbaik terhadap tempe Emak yang belum jadi ini."


Tiba-tiba, Emak dikejutkan oleh teguran seorang wanita. "Bu, maaf, apakah Ibu menjual tempe yang belum jadi? Dari tadi saya sudah pusing berkeliling pasar untuk mencarinya, tapi tidak ketemu juga.

Seketika Emak termenung, seakan tak percaya dengan apa yang didengarnya karena sejak sepuluh tahun dia menjual tempe, tidak pernah ada seorang pun pelanggan yang mencari tempe belum jadi.


Sebelum menjawab, cepat-cepat Emak berdoa di dalam hati "Ya Allah, saat ini Emak tidak mau tempe ini menjadi matang. Biarlah kacang kedelai ini tetap seperti semula, amin." Emak pun membuka sedikit daun penutupnya. Alangkah senangnya hati Emak, ternyata memang benar, tempenya masih seperti semula. Emak berucap gembira. "Alhamdulillah.


Wanita itu memborong semua tempe Emak yang belum jadi. Emak sempat bertanya mengapa dia membeli tempe yang belum jadi. Wanita itu menerangkan bahwa anaknya yang sedang sekolah di Inggris ingin makan tempe dari desa. Karena tempe itu akan dikirimkan ke tempat yang jauh, maka si Ibu membeli tempe yang belum jadi dengan harapan, jika sampai nanti, akan menjadi tempe yang sempurna. Jika dikirimkan tempe yang sudah jadi, sesampainya di sana, tempe itu sudah tidak enak lagi  untuk dimakan.


Demi Allah, tiada seorang pun yang berbaik sangka kepada Allah, melainkan pasti akan memberikan kepadanya apa yang dia sangkakan. Sebab, semua kebaikan itu ada dalam genggaman Allah.


Allah memang tidak mengabulkan doa Emak untuk sebuah keajaiban, mengubah kedelai seketika menjadi tempe, tetapi banyak cara Allah untuk mendatangkan keajaiban lainnya kepada seorang hamba yang tak lelah & tak putus asa berdoa kepada-Nya

Maka apabila Allah sudah memberi husnuzan-Nya, berarti Allah akan memberi apa yang disangkakannya itu. (Abdullah bin Mas'ud)

Subhanallah...

Wallahu’alam bishshawab...


Repost from       : Motivasi Hidup, Google+

Edited & retitled  : Wahyu Santoso
Share

Sabtu, 22 November 2014

Ketika 100 Hari Tak Sanggup Memandang Wajah Suami

Pasangan suami istri itu belum juga dikaruniai buah hati, empat tahun lamanya. Mulanya mereka tidak merasa ada masalah. Namun saat terdengar bisik-bisik tetangga, sang istri mulai resah. “Kok belum punya anak ya mereka. Yang punya masalah suami atau istri?” kalimat-kalimat itu sampai juga ke telinga mereka.

Akhirnya suami istri itu pergi ke dokter. “Mohon bersabar pak,” kata dokter kepada pria itu sambil menyerahkan hasil pemeriksaan. “Istri anda mandul dan agaknya tidak ada harapan untuk bisa hamil.”

“Kalau begitu, jangan sampaikan ini kepadanya Dok
, saya khawatir itu akan melukai perasaannya. Dok,  katakan saja kalau saya yang mandul, kata si Suami. “Tidak bisa begitu, Anda kan tidak ada masalah.

Cukup lama mereka berbincang, hingga pria tersebut berhasil meyakinkan dokter untuk men
uruti keinginannya.

Entah bagaimana ceritanya,
kabar bahwa pria itu mandul, sampai juga ke telinga para tetangga dan juga kerabat mereka. Kasak-kusuk pun semakin kencang, namun rumah tangga keduanya masih bertahan. Hingga suatu hari, lima tahun kemudian, wanita itu tak dapat lagi bersabar.

“Sembilan tahun sudah kita berkeluarga
dan selama itu aku dapat bersabar. Sampai-sampai para tetangga kasihan melihatku karena hidup bertahun-tahun dengan suaminya yang mandul. Terus terang, aku ingin menggendong anak, mengasuh dan membesarkannya. Kini aku tak dapat lagi memperpanjang kesabaranku. Tolong ceraikan aku agar aku bisa menikah dengan laki-laki lain dan mendapat anak darinya,” kata wanita itu kepada suaminya.


Sang suami dengan sabar mendengar tuntutan itu sambil menasehatinya
“Ini ujian dari Allah sayang, kita perlu bersabar. Mendengar nasehat itu, emosi istri sedikit mereda. “Baiklah, aku akan bersabar, tapi hanya satu tahun. Jika berlalu masa itu dan kau tidak juga memberiku keturunan, ceraikan saja aku.”

Selang beberapa hari, tiba-tiba wanita itu jatuh sakit. Hasil lab
oratorium menunjukkan, ia mengalami gagal ginjal. “Ini semua gara-gara kamu,” kata wanita itu kepada suaminya yang saat itu menungguinya di rumah sakit, “Aku terus menahan sabar karenamu. Inilah akibatnya. Sudah tidak punya anak, kini aku kehilangan ginjalku.”

“Apa? Kau akan pergi ke luar negeri?” kata wanita itu dengan nada tinggi, esok harinya ketika sang suami berpamitan kepadanya. Entah bagaimana perasaannya, ia yang kini 
istirahat di rumah sakit harus berjuang sendiri tanpa suami. “Ini tugas dinas, Sayang dan sekaligus aku akan mencari pendonor ginjal buatmu.

Beberapa hari kemudian, wanita itu mendapatkan kabar gembira bahwa telah ada seseorang yang mau mendonorkan ginjalnya
, tetapi dokter merahasiakan namanya.

“Orang itu sungguh baik, Dok. Ia mendonorkan ginjalnya untukku tanpa mau diketahui namanya. Sementara suamiku sendiri, ia justru pergi ke luar negeri, meninggalkanku sendiri,” mata dokter yang mendengar komentar itu berkaca-kaca. Ia tahu persis siapa yang mendonorkan ginjal untuk wanita itu.

Dengan izin Allah, operasi berhasil dengan baik. Wanita itu sembuh. Dan yang lebih menakjubkan, tak lama kemudian ia hamil, lalu melahirkan seorang bayi yang lucu. Ucapan selamat datang dari kerabat dan tetangga. Kini bisik-bisik itu telah selesai. Dan kehidupan rumah tangga keduanya pun normal kembali.

Kini sang suami telah menjadi seorang panitera di pengadilan Jeddah, setelah menyelesaikan pendidikan S2 dan S3-nya. Ia juga telah hafal Qur’an dengan mendapatkan sanad riwayat Hafs dari ‘Ashim.

Suatu hari saat sang suami dinas luar, tak sengaja wanita itu menemukan buku harian suaminya di atas meja. Mungkin karena terburu-buru,
ia lupa menyimpannya.

Betapa terkejutnya wanita itu membaca halaman demi halaman episode rumah tangga yang selama ini tak diketahuinya. Bahwa ternyata yang mandul adalah dirinya
, bahwa pendonor ginjal itu adalah suaminya sendiri. Ia pun menangis sejadi-jadinya. Hampir pingsan ia menyadari kekeliruannya selama ini. Ia yang tak tahan dan ingin minta cerai, padahal suaminya adalah manusia paling sabar yang ia temui. Ia kesal dengan suaminya yang pergi saat ia operasi, padahal suaminya terbaring lemah saat itu demi menghibahkan satu ginjal untuknya.

Ketika sang suami pulang, wanita itu tak mampu memandang wajahnya. Ia tertunduk malu
hampir seratus hari lamanya. Malu di depan pria yang paling dicintainya dan paling berjasa dalam hidupnya.


Repost from : www.reportaseinti.wordpress.com
Edited by      : Why's Share

Kamis, 24 Juli 2014

JANGAN PERNAH LELAH DAN BERHENTI BERDO’A

Sebuah kisah nyata yang dialami oleh Dr. Ishan, seorang dokter ahli Bedah terkenal di Pakistan, benar-benar membuktikan bahwa Allah maha kuasa atas segala sesuatu, tidak ada yang tidak mungkin bagi-Nya dan ini adalah bukti dahsyatnya kekuatan do’a.

Suatu hari beliau dalam penerbangan untuk menghadiri Seminar Dunia dalam bidang
kedokteran yang akan membahas penemuan terbesarnya di bidang kedokteran,
setelah penerbangan sekitar 1 jam, tiba-tiba diumumkan bahwa pesawat mengalami
gangguan dan harus mendarat di bandara terdekat.

Beliau mendatangi bagian informasi “Saya ini dokter spesialis, tiap menit nyawa manusia bergantung kepada saya dan sekarang kalian meminta saya menunggu pesawat diperbaiki dalam 16 jam?” Petugas menjawab “Pak dokter, jika Anda terburu-buru, Anda bisa menyewa mobil. Tujuan Anda tidak jauh lagi, kira-kira 3 jam perjalanan darat.”

Dr. Ishan setuju dengan usulan tersebut dan menyewa mobil. Setelah 5 menit perjalanan, tiba-tiba cuaca mendung dan disusul dengan hujan besar disertai petir yang mengakibatkan jarak pandang sangat pendek.

Setelah hampir 2 jam berlalu, baru disadari bahwa mereka tersesat. Karena merasa kelelahan, ketika melihat sebuah rumah kecil tidak jauh dari situ, dihampirilah rumah tersebut dan mengetuk pintunya. 

Keluarlah seorang wanita tua “ Silahkan masuk, siapa ya?” Dr. Ishan mohon ijin untuk istirahat dan bermaksud meminjam telpon. Ibu tua itu tersenyum dan berkata "Telepon apa nak? Apa anda tidak sadar ada dimana? Di sini tidak ada listrik, apalagi telepon. Namun demikian, masuklah silahkan duduk dan istirahatlah, sebentar saya buatkan teh dan sedikit makanan untuk menyegarkan dan mengembalikan kekuatan Anda."

Ketika Dr. Ishan sedang menyantap hidangan sementara ibu itu sholat dan berdoa serta perlahan-lahan mendekati seorang anak kecil yang terbaring tak bergerak di atas kasur di sisinya dan dia terlihat gelisah diantara tiap sholat. Kemudian Ibu tersebut melanjutkan sholatnya dengan do'a yang panjang.

Dokter mendatanginya dan berkata “Demi Allah, ibu telah membuat saya kagum dengan keramahan dan kemuliaan akhlak ibu, semoga Allah menjawab do'a-do'a ibu.

Ibu itu berkata “Nak, Anda ini adalah ibnu sabil (orang yang dalam perjalanan) yang sudah diwasiatkan Allah untuk dibantu. Sedangkan do'a-do'a saya sudah dijawab Allah semuanya, kecuali satu.”

Dokterpun bertanya “Apa itu?” Lalu dijawab “Anak ini adalah cucu saya, dia yatim piatu, dia menderita sakit yang tidak bisa disembuhkan oleh dokter-dokter yang ada disini. Mereka berkata kepada saya bahwa ada seorang dokter ahli bedah yang mungkin mampu menyembuhkannya. Katanya namanya Dr. Ishan, akan tetapi dia tinggal jauh dari sini dan tidak memungkinkan saya membawa anak ini ke sana, saya khawatir terjadi apa-apa di jalan. Makanya saya berdo'a kepada Allah agar memudahkannya.

Menangislah Dr. Ishan, sambil terisak beliau berkata “Allahu Akbar, Laa haula wala quwwata illa billah. Demi Allah, sungguh do'a ibu telah membuat pesawat rusak dan harus diperbaiki lama serta membuat hujan petir dan menyesatkan kami, hanya untuk mengantarkan saya ke ibu secara cepat dan tepat. Sayalah Dr. Ishan Bu, sungguh Allah SWT telah menciptakan sebab seperti ini kepada hamba-Nya yang mukmin dengan do'a. Ini adalah perintah Allah kepada saya untuk mengobati anak ini.

Diriwayatkan oleh Abu Uwanah dan Ibnu Hibban bahwa Rasulullah saw bersabda "Jika salah seorang di antaramu berdo’a, hendaklah ia menunjukkan besarnya keinginan buat memperolehnya, karena tidak satu pun yang dianggap besar oleh Allah.”

“Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.”” (Al Mukmin : 60)
Share

Jumat, 02 Mei 2014

KEKUATAN TANPA KEKERASAN

Ketika Arun berusia 16 thn dan tinggal bersama orang tua disebuah lembaga yg didirikan oleh kakeknya di tengah kebun tebu, 18 mil di luar kota Durban, Afrika selatan. Mereka tinggal jauh di pedalaman. Tidak heran bila Arun dan kedua saudara perempuannya sangat senang bila ada kesempatan pergi ke kota untuk mengunjungi teman atau menonton bioskop.
Suatu hari ayahnya minta diantarkan ke kota untuk menghadiri konferensi sehari penuh, Arun sangat gembira dengan kesempatan ini. Ibunya memberikan daftar belanjaan untuk keperluan sehari-hari,  ayahnya juga minta untuk membawa mobil ke bengkel. Pagi itu, setiba di tempat konferensi, ayah berkata "Ayah tunggu kau disini jam 5 sore." Segera Arun menyelesaikan pekerjaan yang diberikan ayah dan ibunya.
Kemudian, Arun pergi ke bioskop dan karena keasyikan lupa akan waktu. Begitu melihat jam menunjukkan pukul 17:30, Arun langsung menuju bengkel mobil dan terburu-buru menjemput ayahnya. Saat itu sudah hampir pukul 18:00.
"Kenapa kau terlambat?". Arun tidak mengakui bahwa dia menonton film, "Tadi, mobilnya belum siap sehingga harus menunggu". Padahal ternyata tanpa sepengetahuan Arun, ayahnya telah menelepon bengkel mobil itu. Akhirnya ayah pun tahu kalau Arun berbohong.
Ayahnya berkata, "Ada sesuatu yang salah dalam membesarkan kau sehingga kau tidak memiliki keberanian untuk menceritakan kebenaran kepada ayah. Untuk menghukum kesalahan ayah ini, ayah akan pulang ke rumah dengan berjalan kaki dan; memikirkannya baik-baik.”
Lalu, Ayahnya berjalan kaki pulang ke rumah. Padahal hari sudah gelap sedangkan jalanan sama sekali tidak rata. Selama 5,5 jam, Arun mengendarai mobil pelan-pelan di belakang beliau dan melihat penderitaan yang dialami oleh ayahnya hanya karena kebodohan yang Arun lakukan.
Sejak itu Arun bertekad tidak akan pernah berbohong lagi. "Sering kali saya berpikir dan merasa heran. Seandainya ayah menghukum saya sebagaimana kita menghukum anak-anak kita, maka apakah saya akan mendapatkan sebuah pelajaran mengenai tindakan tanpa kekerasan? Saya kira tidak. Saya akan menderita atas hukuman itu dan melakukan hal yg sama lagi. Tetapi, hanya dengan satu tindakan tanpa kekerasan yang sangat luar biasa, sehingga saya merasa kejadian itu baru saja terjadi kemarin. Itulah KEKUATAN TANPA KEKERASAN.
Kisah Dr. Arun Gandhi (cucu dari Mahatma Gandhi).
Share